Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

PJJ Penolakan Terhadap Pendekatan Standar Minimalis

 

Pada dekade terdahulu konflik antara guru dan sekolah yang ber kecerdasan dominan dengan siswa-siswa jenis kecerdasan yang berlawanan, terlihat sangat jelas. Seluruh sua harus dinilai berdasarkan ukuran yang mengacu pada kecerdasan logika/ matematika dan kecerdasan verbal/ linguistik, yaitu kecerdasan yang salur dengan sekolah-sekolah tradisional.

Kecerdasan ini telah berperan besar dalam menghapus minat lain yang dikembangkan oleh siswa yang memiliki jenis kecerdasan lainnya. Akibatnya seni musik dan visual, sains dan bidang ilmu lainnya yang dapat dipelajari siswa dengan cara masing-masing semakin tersisih kan.

Sekolah menanggapi berkurangnya pendanaan sekolah dan bertambahnya jumlah siswa dengan pendekatan minimalis, yang memerlukan program-program agar mengajar menjadi lebih ringkas dengan cara membaca lebih cepat, a hitungan bersifat aritmatika, dan se sedikit mungkin diskusi.

Apa yang dimaksud dengan pendekatan minimalis? Dalam beberapa dekade sebelumnya, penerbit buku buku teks, dipengaruhi masyarakat, telah menyempurnakan produknya agar sesuai dengan kurikulum, instruksi dan penilaian namun kandungan buku-buku tersebut hanya memenuhi standar minimal. Perusahaan penerbitan buku buku teks dimiliki oleh para konglomerat, yang juga memiliki perusahaan penerbit bahan-bahan ujian, membuat guru dan sekolah perlu menilai siswa dengan pengukuran yang acuannya memerlukan tingkat kompetensi dan keterampilan yang rendah.

Apa saja yang diukur? Sejauh ini soal-soal dibuat dengan mengambil pecahan pecahan bagian-bagian dari informasi verbal dan numerik, yang diberikan selama proses pengajaran. Pembuat soal berusaha menemukan cara yang tepat, handal dan dapat dipercaya untuk mengukur seberapa baik siswa memahami informasi yang didapatkan nya dan bagaimana mereka menyampaikan kembali apa yang telah mereka pelajari.

Karena pentingnya standar pengukuran yang dibuat, maka para guru kelas dibentuk dan diharuskan mengikuti kurikulum yang ketat dan kaku. Hal ini menjadikan guru sulit untuk kreatif dan sulit menyesuaikan gaya mengajar dengan kebutuhan murid-muridnya.

Penekanan bahan pelajaran, khususnya di kelas kelas tingkat terendah, adalah dengan memberikan sedemikian banyak bahan-bahan hafalan verbal dan numerikal.

Diantara yang menolak pendekatan minimalis adalah Richard Murnane, ahli ekonomi dari harvard, Frank Levy ahli ekonomi dari MIT, yang bersama-sama menulis teaching the new basic skill: Principles for educating children thrive in a changing ekonomi (1996). Mereka berpendapat bahwa, walaupun struktur ekonomi tengah berubah, namun sekolah-sekolah tetap mempertahankan kurikulum minimalis di abad 19. Murnane dan Levy menunjukkan ke tidak sesuai and antara ilmu dan keterampilan yang dibutuhkan, untuk bertahan di dunia kerja yang modern dan ber kinerja tinggi dengan apa yang diajarkan di sekolah-sekolah saat ini.

Murnane dan Levy tidak menolak pentingnya matematika dan karya tulis lainnya. Mereka hanya mempertahankan rendahnya tingkat keterampilan siswa dari yang diperkirakan saat ditugaskan untuk bekerja pada satu kelompok kerja (kecerdasan interpersonal), untuk memecahkan masalah intra personal), dan untuk menyusun informasi (kecerdasan logika/ matematika).