Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

CARA PEMBUATAN SEDIAAN OBAT DALAM BENTUK EMULSI

PEMBUATAN SEDIAAN OBAT DALAM BENTUK EMULSI - Setelah mempelajari tentang pembuatan sediaan obat dalam bentuk emulsi, peserta didik diharapkan mampu (1) mendeskripsikan pengertian dan contoh sediaan emulsi; (2) menjelaskan komponen emulsi; (3) menjelaskan tipe emulsi; (4) menjelaskan teori pembentukan emulsi; (5) menjelaskan bahan emulgator; (6) menjelaskan cara pembuatan sediaan emulsi obat dengan benar; (7) menjelaskan cara membedakan tipe emulsi; dan (8) menjelaskan kestabilan emulsi.

CARA PEMBUATAN SEDIAAN OBAT DALAM BENTUK EMULSI

Pada bab sebelumnya kita sudah mempelajari tentang larutan dan suspensi. Larutan merupakan cairan homogen, jernih tanpa endapan. Suspensi adalah cairan yang mengandung partikel padat tidak larut yang terdispersi merata.

Pada bab ini, kita akan mengenal satu jenis sediaan lagi yang mengandung 2 fase cairan tidak saling campur, tetapi tetap homogen. Cairan ini yang akan kita pelajari pada bab tentang pembuatan sediaan obat dalam bentuk emulsi. Emulsi berasal dari bahasa latin yaitu emulgeo yang berarti menyerupai susu karena warna emulsi adalah putih.

CARA PEMBUATAN SEDIAAN OBAT DALAM BENTUK EMULSI
Gambar 3.1 Emulsi
Sumber : https://www.eonchemicals.com/id/products/eontrim-e709-2/


Gambar 3.2 Scotts Emulsion
Sumber : https://gudangilmu.farmasetika.com/hal-penting-yang-harus-diperhatikan-untuk-obat-berbentuk-emulsi/

A. Definisi

Emulsi menurut Farmakope Indonesia edisi IV merupakan sediaan dengan sistem dua fase yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain dalam bentuk tetesan kecil. Emulsi memiliki dua fase yang tidak saling campur, dengan penambahan emulgator maka dua fase tersebut dapat terdispersi merata berupa tetesan atau butiran kecil dan bersifat stabil. Konsistensi atau bentuk dari emulsi dapat berupa cairan, ataupun sediaan setengah padat seperti krim. Berdasarkan asalnya, emulsi dibagi menjadi 2 jenis yaitu :
  1. Emulsi alam atau emulsi vera, merupakan emulsi yang berasal dari alam, terbuat dari biji-bijian. Mengandung banyak lemak, protein, dan air. Emulsi ini tidak perlu ditambahkan emulgator dari luar untuk menambah stabilitasnya dan menyatukan fase yang terpisah, hal ini disebabkan karena emulsi ini mengandung senyawa protein yang dapat berfungsi sebagai emulgator.
  2. Emulsi buatan atau emulsi spuria, merupakan emulsi yang dibuat dengan mencampurkan minyak lemak dan air. Jenis emulsi ini memerlukan emulgator dari luar untuk menyatukan dua fase yang terpisah.
Emulsi dibuat dengan tujuan untuk memperoleh sediaan cair homogen yang tidak saling campur, bersifat stabil dan merata. Sediaan emulsi ini dapat digunakan untuk tujuan oral maupun untuk pemakaian topikal pada kulit.

B. Komponen Emulsi

Emulsi seperti yang telah kita ketahui bersama merupakan sistem 2 fase yang tidak saling campur, tetapi terdispersi merata berupa tetesan kecil. Dalam hal ini kita akan membahas tentang emulsi buatan. Secara umum, emulsi terdiri dari 2 komponen penting, yaitu :

1. Komponen dasar

Komponen ini merupakan pembentuk emulsi yang utama, terdiri dari :

a. Fase dispers
Fase ini merupakan zat cair yang umumnya berjumlah lebih sedikit dan tersebar merata menjadi butiran atau tetesan kecil di dalam suatu emulsi. Fase ini juga dikenal dengan istilah fase internal atau fase dalam.

b. Fase kontinue
Fase ini merupakan zat cair yang umumnya berjumlah lebih banyak dan menjadi bahan dasar atau medium dispers dari suatu emulsi. Fase ini juga dikenal dengan istilah fase eksternal atau fase luar.

2. Komponen tambahan

Komponen ini merupakan bahan tambahan yang digunakan untuk mendukung kualitas dari sediaan emulsi. Komponen ini antara lain :
  • Corrigen atau zat tambahan yang digunakan untuk memperbaiki zat utama. Corrigen saporis (perasa) misalnya sirup, corrigen odoris (pewangi) misanya minyak atsiri, corrigen coloris (pewrana), dan lain-lain.
  • Bahan pengawet atau preservative merupakan bahan yang ditambahkan untuk mencegah pertumbuhan mikroba atau perubahan kimiawi pada emulsi. Contoh bahan yang dapat digunakan seperti metil paraben, propil paraben, asam benzoat, asam sorbat, benzalkonium klorida, dan lain-lain.
  • Antioksidan merupakan bahan yang digunakan untuk mencegah atau memperlambat terjadinya oksidasi. Conntohnya adalah asam sitrat, asam galat, asam askorbat, propil galat, dan lain-lain.

C. Tipe Emulsi

Emulsi dapat digolongkan berdasarkan jenis zat cair yang berfungsi sebagai fase internal dan fase eksternalnya, yaitu :
  1. Emulsi tipe o/w (oil in water) atau m/a (minyak dalam air), merupakan tipe emulsi yang terdiri dari butiran minyak yang tersebar merata dalam air. Butiran minyak dalam tipe emulsi ini adalah berperan sebagai fase internal, sedangkan air sebagai fase eksternal, sehingga jumlah air dalam tipe emulsi ini lebih banyak daripada jumlah minyak.
  2. Emulsi tipe w/o (water in oil) atau a/m (air dalam minyak), merupakan tipe emulsi yang terdiri dari butiran air yang tersebar merata dalam cairan minyak. Butiran air dalam tipe emulsi ini berperan sebagai fase internal, sedangkan minyak sebagai fase eksternal, sehingga jumlah minyak dalam tipe emulsi ini lebih dominan daripada jumlah air.

D. Teori Pembentukan Emulsi

Terbentuknya suatu sediaan emulsi dapat terjadi melalui 4 macam teori yang berbeda, antara lain :

1. Teori tegangan permukaan

Suatu molekul memiliki dua sifat tarik menarik yaitu adhesi dan kohesi. Apabila tarik menarik itu antar molekul yang sejenis disebut dengan daya kohesi, sedangkan tarik menarik antar molekul yang tidak sejenis disebut adhesi. Daya kohesi suatu zat selalu sama sehingga pada permukaan suatu cairan akan terjadi perbedaan tegangan yang disebabkan karena terjadi ketidakseimbangan daya kohesi. Tegangan yang terbentuk dari peristiwa tersebut dikenal dengan istilah tegangan permukaan (surface tension).

Terjadinya perbedaan tegangan bidang batas (interfacial tension) antara dua cairan yang tidak saling campur (immicible liquid) dapat dijelaskan dengan cara yang sama. Prinsipnya adalah semakin tinggi perbedaan tegangan yang terbentuk pada bidang batas antar cairan, makan dua zat cair tersebut akan semakin sulit untuk bercampur. Tegangan permukaan pada air akan meningkat dengan penambahan elektrolit atau garam anorganik, tetapi akan berkuran dengan penambahan senyawa organik tertentu superti sabun sebagai emulgator.

Dapat diambil kesimpulan bahwa dengan menurunkan tegangan permukaan suatu cairan, maka dua zat cair tersebut dapat saling bercampur, salah satu metode yang dilakukan untuk menurunkan tegangan permukaan tersebut adalah dengan menambahkan emulgator.

2. Teori orientasi bentuk baji (oriented wedge)

Dalam hal ini, pembentukan emulsi didasarkan pada kelarutan selektif dari molekul emulgator. Berdasarkan kelarutan tersebut, molekul emulgator dapat dibedakan menjadi 2 kelompok, yaitu :
  • Kelompok hidrofilik, merupakan bagian dari emulgator yang suka atau dapat bercampur dengan air
  • Kelompok lipofilik, merupakan bagian dari emulgator yang suka atau dapat bercampur dengan minyak.
Kelompok-kelompok tersebut dapat mencari, mendekat dan bergabung dengan zat cair yang disukainya. Kelompok hidrofilik akan membentuk ikatan dengan molekul air, sedangkan kelompok lipofilik akan berikatan dengan molekul minyak. Emulgator akan menjadi penghubung antara fase minyak dan fase air, sehingga akan menghasilkan suatu sediaan emulsi yang seimbang dan merata antara fase air dan fase minyak.

Emulgator memiliki nilai keseimbangan antara kelompok hidrofil dan lipofil yang berbeda-beda. Nilai keseimbangan ini disebut juga dengan istilah HLB (Hydrophyl Lipophyl Balance) yang menyatakan perbandingan antara kelompok hidrofil dan kelompok lipofil yang terkandung di dalam suatu zat.

Bila nilai HLB tinggi, maka semakin banyak kelompok hidrofil yang terkandung di dalamnya dan emulgator tersebut lebih mudah larut dalam air. Sebaliknya, jika nilai HLB rendah, maka semakin banyak kelompok lipofil yang terkandung di dalam emulgator tersebut.

Tabel 3.1 Nilai HLB dan kegunaannya
Sumber : Moh. Anief, 2000 (Gadjah Mada University Press)

3. Teori lapisan antarmuka

Teori ini disebut juga dengan interfacial film, yaitu pembentukan film karena emulgator yang diserap pada batas antara fase air dan fase minyak. Lapisan film tersebut akan membungkus atau melapisi partikel terdispersi, sehingga menghalangi usaha antar partikel yang sejenis untuk dapat bergabung dan menyebabkan fase dispers akan lebih stabil.

Beberapa syarat yang harus dimiliki emulgator agar menghasilkan emulsi yang stabil adalah sebagai berikut :
  • Jumlah emulgator harus cukup untuk menutupi seluruh permukaan fase dispers
  • Emulgator harus segera membentuk lapuisan film dengan cepat
  • Lapisan film yang terbentuk harus bersifat kuat tetapi lunak
4. Teori electrik double layer

Pada emulsi tipe o/w, minyak akan terdispersi ke dalam air, lapisan air yang bersentuhan dengan permukaan minyak akan memiliki muatan yang sejenis, sedangkan lapisan yang berikutnya akan memiliki muatan yang berlawanan jenis dengan lapisan di depannya. Oleh karena itu, setiap partikel minyak seakan-akan dilindungi oleh dua benteng lapisan dengan muatan listrik yang berbeda dan saling berlawanan.

Benteng itu akan menolak gaya dari partikel minyak yang akan bergabung dengan partikel minyak lainnya dalam membentuk suatu molekul yang besar. Sehingga akan terjadi peristiwa saling tolak menolak antar sesama partikel dan stabilitas emulsi akan meningkat.

E. Emulgator

Emulgator merupakan zat untuk meningkatkan stabilitas emulsi karena membantu terdispersinya suatu zat pada fase tertentu. Dalam pembuatan sediaan emulsi terdapat beberapa golongan emulgator yang dapat digunakan, antara lain :

1. Emulgator alam dari tumbuh-tumbuhan

Golongan ini merupakan emulgator yang peka terhadap elektrolit, alkohol kadar tinggi, dan dapat dirusak oleh bakteri. Emulgator pada golongan ini biasanya adalah emulgator jenis karbohidrat dengan tipe o/w. Pada pembuatan sediaan emulsi, emulgator ini membutuhkan penambahan zat pengawet. Emulgator yang termasuk golongan ini contohnya adalah :

a. Pulvis gummi arabicum (gom arab)

Merupakan emulgator yang sangat baik untuk tipe emulsi o/w dan untuk obat minum. Dapat membentuk emulsi yang sangat stabil dan kekentalannya tidak terlalu tinggi. Ada 2 metode yang mendasari gom arab dapat menjaga stabilitas emulsi, antara lain :
  1. Gom arab bekerja membentuk koloid pelindung (teori interfacial film)
  2. Gom arab membentuk cairan yang kental sehingga laju pengendapan menjadi berkurang, tetapi masa tetap mudah dituang (tiksotropi).

Secara umum, emulsi dengan gom arab membutuhkan sejumlah ½ dari jumlah minyaknya. Untuk menghasilkan corpus emulsi yang baik, dibutuhkan air sebanyak 1,5x berat gom arab, diaduk dengan cepat hingga putih , lalu diencerkan dengan sisa air yang tersedia.

Untuk membuat emulsi lemak padat, dibutuhkan gom arab sama banyak dengan jumlah lemak padat tersebut. Cara pembuatannya adalah dengan melebur lemak padat tersebut lalu ditambahkan gom. Kemudian tambahkan air panas sebanyak 1,5x berat gom. Langkah terakhir adalah mendinginkan dan mengencerkan emulsi dengan sisa air.

Untuk minyak atsiri dan balsam-balsam, menggunakan PGA dengan jumlah sama banyak. Minyak lemak membutuhkan PGA ½ kali berat minyak, kecuali oleum ricini karena memiliki gugus OH yang hidrofil, maka membutuhkan PGA yang lebih sedikit untuk membuat emulsi yaitu sebanyak 1/3 nya saja.

Jika pada formula emulsi terdapat bahan obat cair dengan berat jenis yang tinggi seperti chloroform, bromoform, maka terlebih dahulu minyak lemak ditambahkan 10x beratnya sehingga BJ campuran dapat mendekati angka satu. Kemudian ditambahkan PGA sebanyak ¾ kali bahan obat cair tersebut.Khusus untuk minyak ikan atau oleum iecoris aseli menggunakan PGA sebanyak 30% dari berat minyak untuk membuat emulsi.

b. Tragacanth

Zat ini dapat berubah menjadi cairan yang lebih kental daripada gom apabila dilarutkan dalam air, sehingga hanya membutuhkan 1/10 kali gom arab untuk membuat suatu emulsi dengan viskositas yang baik. Tragakan bekerja optimal pada pH 4,5-6. Dalam pembuatan corpus emulsi, jumlah air yang dibutuhkan lebih banyak karena viskositas cairan yang dihasilkan ksangat kental, yaitu sebanyak 20x berat tragakan. Berdasarkan sifatnya, tragakan sebagai emulgator hanya berperan sebagai pengental, tidak dapat menjadi koloid pelindung.

c. Agar-agar

Emulgator ini juga berperan sebagai pengental, sehingga masih dapat ditambahkan emulgator lain seperti PGA untuk mendapatkan efek sebagai koloid pelindung. Untuk mengaktifkan sebagai emulgator, terlebih dahulu agar-agar dilarutkan dengan air mendidih, kemudian secara perlahan diturunkan suhunya menjadi 45oC, suhu tersebut sebaiknya dijaga, karena apabila suhu terlalu rendah maka konsistensi agar-agar dapat berubah menjadi gel. Agar-agar dapat digunakan sebagai emulgator dengan kadar 1-2%.

d. Chondrus

Secara umum cara mempersiapkan zat ini sebagai emulgator adalah sama seperti agar-agar. Kelebihan emulgator ini adalah dapat menutupi rasa dari minyak ikan, sehingga lebih nyaman dikonsumsi.

e. Emulgator lain

Emulgator lain yang dapat digunakan untuk membuat emulsi adalah seperti pektin, metil selulosa, karboksimetil selulosa (CMC). Emulgator ini cenderung lebih sedikit penggunaannya, yaitu sebesar 0,5-2% saja.

2. Emulgator alam dari hewan

Pada umumnya emulgator ini mengandung protein dan kolesterol. Bahan yang termasuk emulgator ini adalah :

a. Vitellum ovi atau kuning telur

Kuning telur mengandung kolesterol dan lesitin yang dapat berfungsi sebagai emulgator. Lesitin merupakan golongan protein/asam amino yang dapat berperan sebagai emulgator tipe o/w. Kuning telur dapat digunakan untuk emulsi minyak lemak 4x beratnya dan untuk minyak menguap sebanyak 2x beratnya.
Gambar 3.3 Kuning telur
Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Emulsifier
b. Adeps lanae

Adeps lanae atau lemak bulu domba adalah salah satu zat yang dapat digunakan sebagai emulgator. Adeps lanae mengandung kolesterol yang cukup tinggi. Adeps lanae digunakan sebagai emulgator untuk emulsi tipe w/o dan biasanya digunakan untuk pemakaian luar badan. Emulgator ini dapat meningkatkan kemampuan minyak dalam menyerap sejumlah air. Adeps lanae dalam kondisi kering dapat menyerap air sebanyak 2x dari beratnya.
Gambar 3.4 Adeps Lanae
Sumber : https://www.freethepowder.com/pages/lanolin-in-leather-treatments

3. Emulgator alam dari tanah mineral

Golongan ini merupakan emulgator yang berasal dari senyawa anorganik dan biasanya digunakan untuk pemakaian luar. Beberapa senyawa yang termasuk golongan emulgator ini adalah :

a. Magnesiun Alumunium silikat

Emulgator ini banyak dikenal dengan nama veegum. Merupakan emulgator yang umumnya digunakan dalam pembuatan emulsi tipe o/w dan digunakan untuk pemakaian luar badan. Penggunaan emulgator ini adalah sebanyak 1%.

b. Bentonit

Emulgator ini termasuk tanah liat yang mengandung senyawa alumunium silikat. Senyawa ini dapat menyerap air dalam jumlah banyak dan membentuk gel. Penggunaan emulgator ini adalah sebanyak 5% untuk membentuk emulsi tipe w/o.

4. Emulgator buatan atau sintesis

Golongan ini merupakan emulgator yang dibuat secara kimia, contoh emulgator ini antara lain :

a. Sabun

Emulgator ini biasanya digunakan untuk emulsi pemakaian luar dan sifatnya sangat sensitif terhadap penambahan elektrolit. Emulsi yang dihasilkan adalah tipe o/w dan w/o tergantung dari valensinya. Untuk sabun yang mengandung kalium, bervalensi 1 dan merupakan emulgator tipe o/w, sedangkan sabun yang mengandung kalsium, bervalensi 2 dan merupakan emulgator tipe w/o.

b. Tween

Dalam pembuatan emulsi, tween yang digunakan adalah tween 20, 40, 60, dan 80.

c. Span

Dalam pembuatan emulsi, span yang digunakan adalah span 20, 60, dan 80.

Golongan emulgator sintesis ini secara umum dapat dikelompokkan berdasarkan kategori muatannya menjadi :
a. Anionik, contohnya sabun alkali, sodium lauril sulfat
b. Kationik, contohnya ammonium kuartener, benzalkonium klorida
c. Non ionik, contohnya tween, span
d. Amfoter, contohnya protein, lesitin.

F. Prosedur Pembuatan Emulsi

Dalam skala kecil, emulsi dapat dibuat dengan cara sederhana sesuai dengan sifat komponen dan alat yang digunakan. Ada 3 metode yang dapat digunakan dalam pembuatan emulsi, antara lain :

1. Metode gom kering (metode kontinental)

Pada metode ini emulgator (PGA) ditambahkan pada minyak terlebih dahulu, kemudian ditambah air untuk membentuk corpus emulsi, dan yang terakhir diencerkan dengan sisa air yang tersedia.

2. Metode gom basah (metode inggris)

Pada metode ini emulgator dicampurkan dengan air yang cukup terlebih dahulu untuk membentuk mucilago, kemudian ditambahkan minyak sedikit demi sedikit hingga terbentuk emulsi yang baik, dan yang terakhir diencerkan dengan sisa air yang tersedia.

3. Metode botol (metode forbes)

Metode ini khusus digunakan untuk membeuat emulsi dari minyak menguap dan mempunyai viskositas yang rendah (kurang kental). Mula-mula gom dimasukkan ke dalam botol kering dan ditambahkan dua bagian air, botol tersebut ditutup dan dikocok dengan kuat hingga tercampur sempurna. Kemudian ditambahakan dengan sisa air yang tersedia sedikit demi sedikit sambil dikocok kuat.

G. Membedakan Tipe Emulsi

Ada beberapa metode atau cara yang dapat dilakukan untuk membedakan tipe emulsi tersebut, antara lain :

1. Metode pengenceran fase

Metode ini merupakan cara yang paling sederhana, prinsipnya yaitu mengencerkan emulsi dengan fase eksternalnya. Emulsi tipe o/w dapat diencerkan dengan air, sedangkan tipe emulsi w/o dapat diencerkan dengan minyak. Pengamatan dilakukan menggunakan miroskop, jika pada suatu sediaan emulsi yang ditetesi dengan air dapat terencerkan, maka emulsi tersebut tipenya adalah o/w. Sebaliknya apabila tidak terencerkan, maka emulsi tersebut tipenya adalah w/o.

2. Metode pengecatan warna

Cara ini dilakukan dengan penambahan reagen warna pada sediaan emulsi. Metode ini juga dilakukan pengamatan menggunakan mikroskop, apabila suatu sediaan diteteskan larutan Sudan III dan terjadi perubahan warna merah, maka emulsi tersebut tipenya adalah w/o karena larutan Sudan III larut dalam minyak. Apabila suatu sediaan diteteskan larutan metilen blue dan terjadi perubahan warna biru, maka emulsi tersebut tipenya adalah o/w karena larutan metilen blue larut dalam air

3. Metode konduktivitas listrik

Metode ini dilakukan menggunakan alat seperti percobaan larutan elektrolit, yaitu berupa kawat, stop kontak, dan lampu neon ¼ watt yang dihubungkan secara seri. Lampu neon akan menyala jika dicelupkan pada cairan emulsi tipe o/w karena fase eksternalnya adalah air yang dapat menghantarkan arus listrik. Sebaliknya lampu tersebut tidak akan menyala jika dicelupkan pada emulsi tipe w/o karena fase eksternalnya adalah minyak yang tidak dapat menghantarkan arus listrik.

4. Menggunakan kertas saring

Kertas saring yang ditetesi larutan emulsi tipe o/w akan menyebabkan kertas saring tersebut menjadi basah, sedangkan kertas saring yang ditetesi larutan emulsi tipe w/o akan menyebabkan timbulnya bercak noda minyak pada kertas saring tersebut.

H. Stabilitas Emulsi

Emulsi yang baik dan dapat dikatakan stabil apabila dua fase yang terkandung di dalamnya tetap terdispersi merata dalam bentuk tetesan kecil. Emulsi dapat dikatakan tidak stabil apabila mengalami hal-hal berikut :

1. Creaming

Creaming merupakan peristiwa emulsi yang terpisah menjadi dua lapisan, yaitu fase dispers yang lebih banyak daripada lapisan yang lain. Peristiwa ini bersifat reversible, yaitu hanya bersifat sementara, jika larutan ini dikocok maka emulsi akan kembali terdispersi atau homogen.

2. Koalesen dan cracking (breaking)

Peristiwa ini merupakan suatu keadaan emulsi yang pecah karena lapisan film yang melapisi partikel sudah rusak dan tetesan-tetesan minyak mengalami koalesensi / menyatu. Keadaan ini bersifat irreversible, yaitu tidak dapat kembali seperti semula. Peristiwa ini dapat terjadi disebabkan oleh :
a. Peristiwa kimia, seperti penambahan alkohol, elektrolit, perubahan pH, penambahan CaO atau CaCl2 eksikatu
b. Peristiwa fisika, seperti perubahan suhu yang drastis (pemanasan atau pendinginan), penyaringan, pengadukan yang terlalu kuat, dan lain-lain.

3. Inversi

Inversi merupakan peristiwa perubahan tipe emulsi yang terjadi secara tiba-tiba, tipe emulsi w/o berubah menjadi tipe emulsi o/w dan juga sebaliknya. Keadaan ini bersifat irreversible, yaitu tidak dapat kembali seperti semula walaupun dilakukan pengocokan yang kuat.

LEMBAR PRAKTIKUM


1. Kelengkapan Resep
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...........................................................................................................................
2. Obat Tidak Tercampur
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...........................................................................................................................
3. Dosis Maksimum
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...........................................................................................................................
4. Penimbangan Bahan

5. Cara Kerja
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...............................................................................................................
6. Etiket dan Label



CAKRAWALA

Mentega dan Margarin

Mentega dan margarin apakah merupakan zat yang sama? yang biasanya Anda makan sebagai bahan pelengkap roti apakah Mentega atau margarin? apakah keduanya sama? Atau justru sangat berbeda? Mari kita lihat penjelasan singkat berikut ini.

Mentega, disebut juga dengan butter dalam bahasa Inggris, merupakan produk hewani yaitu olahan dari susu. Bagian susu yang diambil untuk membuat mentega adalah krim (lemak dari susu). Krim akan diproses dengan teknik pengadukan terus-menerus hingga fase padatan terpisah dari fase cair dan terkumpul. Mentega adalah salah satu produk emulsi tipe water in oil (fase air dalam fase minyak), kebalikan dari bahan asalnya yaitu krim susu yang merupakan emulsi oil in water (fase minyak dalam fase air).

Sedangkan margarin berasal dari bahasa Inggris margarine, merupakan produk turunan dari minyak nabati yang telah ter-hidrogenasi. Penambahan gugus hidrogen pada ikatan kimia asam lemak menyebabkan bentuk minyak menjadi lebih padat. Di Indonesia, biasanya margarin dibuat dari turunan minyak kelapa sawit, khususnya fraksi stearin yang berbentuk padatan jika berada dalam suhu ruang (25°C).

Karena dibuat dari bahan nabati, margarin tidak memiliki kandungan kolesterol. Margarin merupakan produk emulsi tipe water in oil (fase air dalam fase minyak). Karena mentega dan margarin merupakan produk emulsi, dalam pembuatannya di industri biasanya ditambahkan bahan pengemulsi (emulsifier) contohnya lesitin yang berasal dari telur.
Sumber : https://bakrie.ac.id/berita-itp/artikel-pangan/922-mentega-danmargarin- kenali-keduanya

RANGKUMAN

Emulsi merupakan sediaan dengan sistem dua fase yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain dalam bentuk tetesan kecil. Berdasarkan sumber bahan dasarnya emulsi dapat dibagi menjadi emulsi alam dan emulsi buatan. Emulsi yang terbentuk dapat berupa o/w (oil in water) yaitu emulsi minyak dalam air, maupun w/o (water in oil) yaitu emulsi air di dalam minyak.

Proses terbentuknya suatu emulsi dapat dijelaskan dalam 4 teori, yaitu :
1. Teori tegangan permukaan (surface tension)
2. Teori orientasi bentuk baji (oriented wedge)
3. Teori lapisan antarmuka (interfacial film)
4. Teori lapisan listrik ganda (double layer)

Bahan pengemulsi atau emulgator yang dapat digunakan untuk membuat emulsi dan meningkatkan stabilitas emulsi dapat berasal dari alam tumbuh-tumbuhan, hewan, tanah mineral, maupun sintetis atau buatan.

Dalam pembuatan emulsi terdapat 3 metode dasar yang dapat digunakan, antara lain :
1. Metode gom kering atau metode kontinental
2. Metode gom basah atau metode inggris
3. Metode botol atau forbes

Tipe emulsi o/w ataupun w/o dapat dibedakan dengan 4 metode, yaitu :
1. Metode pengenceran fase
2. Metode pengecatan warna
3. Metode konduktivitas listrik
4. Metode kertas saring
Emulsi yang baik dan stabil apabila dua fase yang terkandung di dalamnya tetap terdispersi merata dalam bentuk tetesan kecil. Emulsi yang tidak stabil apabila mengalami creaming, koalesen dan cracking, inversi

Demikian pembahasan cara pembuatan sediaan obat dalam bentuk emulsi, Komponen Emulsi, Teori Pembentukan Emulsi, Emulgator, Prosedur Pembuatan Emulsi, Membedakan Tipe Emulsi, Stabilitas Emulsi yang bisa kami bagikan kepada sobat semua.
Bintan News
Bintan News Buku catatan digital seorang guru yang menuangkan pengetahuan kedalam tulisan. Semoga artikel tulisan saya bermanfaat bagi orang banyak. Mari menulis! Mari Membaca! Bintan News

Post a Comment for "CARA PEMBUATAN SEDIAAN OBAT DALAM BENTUK EMULSI"

close