close
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Mendiagnosis Kerusakan Transmisi Manual

Adapun tujuan pembelajaran 3.16 mendiagnosis kerusakan transmisi manual, antara lain:
  • Setelah terjadi permasalah pada transmisi manual peserta didik akan mampu melakukan diagnosis awal terhadap kerusakan transmisi manual dengan teliti.
  • Setelah melakukan diagnosis awal, peserta didik dapat melakukan pengujian pada komponen transmisi manual menggunakan alat ukur dengan benar.
  • Setelah pengujian peserta didik dapat mengetahui kerusakan yang terjadi pada transmisi manual dengan benar.
  • Setelah melakukan pengujian dengan tepat peserta didik menemukan kerusakan pada transmisi manual dengan tepat.
Adapun tujuan pembelajaran 4.16 Memperbaiki transmisi manual antara lain:
  • Setelah mengetahui kerusakan transmisi manual peserta didik dapat melakukan pembongkaran transmisi manual beserta komponen-komponennya.
  • Peserta didik dapat melakukan pembongkaran transmisi manual beserta komponen-komponen sesuai prosedur langkah-langkah pembongkaran.
  • Setelah melakukan pembongkaran peserta didik dapat menguji kerusakan komponen transmisi manual menggunakan alat ukur dengan tetap.
  • Setelah melakukan pengukuran peserta didik dapat mengganti komponen transmisi manual yang rusak dan tidak layak dipakai sesuai dengan spesifikasi.
  • Setelah melakukan pergantian komponen peserta didik dapat melakukan perakitan komponen transmisi manual sesuai dengan langkah-langkah kerja.
  • Peserta didik merakit kembali komponen transmisi manual tanpa terjadi kerusakan.

Mendiagnosis Kerusakan Transmisi Manual

Mendiagnosis Kerusakan Transmisi Manual

Gejala-gejala berikut ini menandakan bahwa terjadi kesalahan pada unit transmisi manual,
(1)  Gigi Loncat dari hubungan.
(2)  Gigi sulit Masuk.
(3)  Suara berisik yang tidak normal .

Dari gejala-gejala di atas dapat dianalisis faktor penyebab, dan  proses perbaikan  atau perbaikannya. Hasil analisis seperti terlihat pada tabel diatas.

Proses pembongkaran dan pemasangan transmisi merupakan sesuatu hal yang sangat sulit. Selain posisinya yang berada dibawah kendaraan, bentuknya yang berat serta mekanisme kerjanya yang saling berkaitan, maka saya anjurkan untuk membawa kepada yang ahlinya.

Namun, apabila kendaraan anda mengalami gejala - gejala seperti yang tertera pada tabel, maka anda bisa mengetahui dari awal kerusakan yang sedang terjadi.

Berikut adalah beberapa jenis penyebab kerusakan transmisi manual pada kendaraan yang dapat membantu ketika menganalisis kerusakan yang terjadi.




1. Keausan 

Keausan umumnya didefinisikan sebagai kehilangan material secara progresif atau pemindahan sejumlah material dari suatu permukaan sebagai suatu hasil pergerakan relatif antara permukaan tersebut dan permukaan lainnya. Keausan pada material berhubungan erat dengan gesekan (friction) dan pelumasan (lubrication).

Ada beberapa macam jenis keausan yaitu
  1. Keausan adhesive: terjadi bila kontak permukaan dari dua material atau lebih mengakibatkan adanya perlekatan satu sama lain dan pada akhirnya terjadi pelepasan/pengoyakan salah satu material.
  2. Keausan abrasif: terjadi bila suatu partikel keras (asperity) dari material tertentu meluncur pada permukaan material lain yang lebih lunak sehingga terjadi penetrasi atau pemotongan material yang lebih lunak.
  3. Keausan lelah: merupakan mekanisme yang relatif berbeda dibandingkan dua mekanisme sebelumnya, yaitu dalam hal interaksi permukaan. Baik keausan adhesive maupun abrasif melibatkan hanya satu interaksi sementara pada keausan lelah dibutuhkan interaksi multi. Permukaan yang mengalami beban berulang akan mengarah pada pembentukan retak-retak mikro. Retak-retak tersebut pada akhirnya menyatu dan menghasilkan pengelupasan material. Tingkat keausan sangat tergantung pada tingkat pembebanan.
  4. Keausan Oksidasi ( keausan korosif): Pada prinsipnya mekanisme ini dimulai dengan adanya perubahan kimiawi material di bagian permukaan oleh faktor lingkungan. Kontak dengan lingkungan ini akan menghasilkan pembentukan lapisan pada permukaan dengan sifat yang berbeda dengan material induk. Sebagai konsekuensinya, material pada lapisan permukaan akan mengalami keausan yang berbeda Hal ini selanjutnya mengarah kepada perpatahan interface antara lapisan permukaan dan material induk dan akhirnya seluruh lapisan permukaan itu akan tercabut.

2. Masuknya Kotoran Kedalam Transmisi

Kotoran pada transmisi adalah benda-benda yang masuk kedalam transmisi yang bisa menyebabkan komponen-komponen pada transmisi mengalami kerusakan. Kotoran-kotoran yang ada dalam transmisi biasanya berupa pasir dan air.
  1. Kotoran pasir: Masuknya kotoran pasir pada transmisi akan berakibat vatal pada bearing yang ada pada transmisi tersebut, biasanya kerusakan yang ditimbulkan oleh pasir tersebut adalah adanya goresan-goresan pada permukaan bearing atau bola bearing.
  2. Kotoran air: Masuknya kotoran air pada transmisi juga akan berakibat vatal pada komponen yang ada didalam transmisi tersebut. Akibat yang ditimbulkan pengotor air pada bearing biasanya akan terjadi pengkaratan pada bearing tersebut.

3. Kurangnya Pelumas Pada Transmisi

Sistem pelumasan antara dua permukaan yang bergerak relatif melibatkan behavior partikel pelumas antara kedua permukaan, tipe pelumas, jenis pelumasan, dan metoda aplikasi pelumas. Pelumas memiliki beberapa fungsi utama yaitu :
  1. Pelumas (Lubricant). Salah satu fungsi minyak pelumas adalah untuk melumasi bagian-bagian mesin yang bergerak untuk mencegah keausan akibat dua benda yang bergesekan. Minyak pelumas membentuk Oil film di dalam dua benda yang bergerak sehingga dapat mencegah gesekan/kontak langsung diantara dua benda yang bergesekan tersebut.
  2. Pendingin(Cooling). Minyak pelumas mengalir di sekeliling komponen yang bergerak, sehingga panas yang timbul dari gesekan dua benda tersebut akan terbawa/merambat secara konveksi ke minyak pelumas, sehingga minyak pelumas pada kondisi seperti ini berfungsi sebagai pendingin mesin.
  3. Pembersih (Cleaning). Kotoran atau bram-bram yang timbul akibat gesekan, akan terbawa oleh minyak pelumas menuju karter yang selanjutnya akan mengendap di bagian bawah carter dan ditangkap oleh magnet pada dasar carter. Kotoran atau bram yang ikut aliran minyak pelumas akan di saring di filter oli agar tidak terbawa dan terdistribusi kebagian-bagian mesin yang dapat mengakibatkan kerusakan/ mengganggu kinerja mesin.
Jika pelumas pada transmisi kurang, maka akan besar sekali dampak yang ditimbulkannya, dampak tersebut adalah :
  • Kurangnya pelumas pada transmisi akan menyebabkan komponen pada transmisi tidak terlumasi secara sempurna, akibatnya gesekan akan terjadi sehingga akibat yang ditimbulkan adalah bearing bisa menjadi rusak.
  • Sebagaimana diketahui salah satu fungsi pelumas adalah untuk mendinginkan, apabila pelumas pada transmisi berkurang maka fungsi pendingin pada pelumaspun tidak akan sempurna akibat yang ditimbulkan adalah bearing pada transmisi akan cepat panas, panas yang terjadi pada bearing akan menyebabkan kekuatan ataupun keuletan pada bearing berkurang, kalau hal ini terus berlanjut secara berkelamaan maka bearing tersebut akan rusak.
  • Apabila transmisi kekurangan pelumas, maka fungsi pelumas sebagai pembersih tidak akan efisien ini disebabkan karna pelumas tidak mampu membersihkan komponen pada transmisi secara menyeluruh, akibatnya kotoran-kotoran pada transmisi akan menempel pada komponen yang ada didalam transmisi, dan apabila ini dibiarkan maka bearing pada transmisi akan rusak. Kerusakan yang terjadi pada bearing biasanya goresan-goresan pada permukaan bearing atau juga pada bola-bola bearing.

4. Beban Berlebih

Beban berlebih adalah beban yang diberikan melebihi beban maksimal pada kendaraan. Pada mobil suzuki carry 1.5 beban maksimal yang dibolehkan adalah 1195 kg atau sekitar 1,2 ton, dan apabila beban yang diberikan kepada mobil suzuki carry 1.5 melebihi 1,2 ton maka bearing pada transmisi akan mengalami kerusakan. Banyak sekali konsumen yang melalaikan hal tersebut akibatnya bearing pada transmisi akan mengalami kerusakan. Ada dua faktor utama yang menyebabkan kerusakan bearing akibat beban berlebih, faktor tersebut adalah :
  1. Getaran yang tinggi akibat dari beban yang diberikan : Ini terjadi karena gear pada transmisi bekerja keras untuk memutar poros, ini terjadi karna beban yang diberikan terlalu besar sehingga poros akan mengalami getaran yang tinggi. Getaran tersebut akan mengakibatkan kerusakan bearing, kerusakan bearing yang terjadi seperti bearing patah atau retak.
  2. Panas yang tinggi pada transmisi : Panas yang tinggi ini terjadi karna beban yang ada pada mobil suzuki carry terlalu besar akibatnya mesin akan bekerja keras untuk memutar gear pada transmisi, sehingga akan menimbulkan panas yang tinggi pada transmisi, panas yang tinggi tersebut akan membuat bearing pada transmisi rusak ini disebabkan bearing pada transmisi mengalami pemuaian sehingga kekuatan dari bearing tersebut akan berkurang akibatnya bearing akan menjadi rusak.

5. Umur Pakai

Jika suatu material diberikan beban atau gesekan secara terus menerus, maka dalam kurun waktu yang lama material tersebut akan rusak. Sama halnya bearing, kerusakan bearing pada transmisi terjadi karena putaran gear dan poros pada sebuah transmisi, yang menyebabakan bearing tersebut bergesekan.

Gesekan yang terjadi secara terus menerus dan dalam kurun waktu yang lama akan menyebabkan bearing tersebut rusak.

Umur pakai bearing adalah batas pakai bearing yang telah dibuat oleh pabrik yang apabila digunakan atau dipakai dalam waktu tertentu bearing tersebut akan rusak. Adapun faktor-faktor penyebab kerusakan bearing sebelum umur pakainya adalah :
  1. Kelalaian konsumen dalam merawat transmisi, sehingga bearing akan rusak sebelum waktu pakainya.
  2. Masuknya kotoran pada transmisi: Biasanya terjadi karna kelalaian mekanik tidak membersihkan baut penutup oli dan juga tidak membersihkan transmisi pada saat penggantian oli pelumas akibatnya bearing akan mengalami kerusakan sebelum umur pakainya.
  3. Beban berlebih: Beban berlebih ini akan membuat getaran dan panas yang tinggi pada transmisi. Panas dan getaran tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada bearing sebelum umur pakai bearing habis.

NO

Gangguan

Kemungkinan Penyebab

Cara mengatasi

1

Tongkat perneling susah dipindah

  1. Bola pengunci tongkat pemindah gigi macet

  2. Tangkai sambungan pemindah gigi macet

  3. Tuas pemindah gigi bengkok

  1. Ganti

  2. Ganti

  3. Ganti

2

Tongkat Pemindah gigi longgar

  1. Bushing bola pengunci tuas pemindah gigi aus

  2. Bola pengunci tuas pemindah aus

  1. Ganti

  2. Ganti

3

Susah pindah gigi

  1. Tuas control pemindah gigi bengkok

  2. Kurang oli

  3. Oli kurang bagus

  4. Tangkai pemindah atau garbu pemindah longgar

  5. Ring sinkromes aus

  6. Kerucut gigi sinkromes aus

  7. Kontak ring sinkromes dan kerucut gigi jelek

  8. Kelonggaran ggi memanjang berlebih

  9. Bearing aus

  10. Pey key snkronister aus

  11. Pra-beban bearing gigi poros primer terlalu besar

  1. Ganti

  2. Tambah oli

  3. Ganti oli

  4. Ganti

  5. Ganti

  6. Ganti

  7. Ganti

  8. Ganti

  9. Ganti

  10. Ganti

  11. Ganti

4

Gigi melompat

  1. Garbu pemindah gigi aus

  2. Tuas Kontrol bengkok

  3. Hub clutch sleeve aus

  4. Gigi poros sekunder aus

  5. Permukaan gigi geser aus

  6. Backlash gigi kebanyakan

  7. Bearing aus

  8. Dudukan mesin longgar atau pemasangan tidak tepat

  1. Ganti

  2. Ganti

  3. Ganti

  4. Ganti

  5. Ganti

  6. Ganti

  7. Ganti

  8. Ganti

  9. Kencangkan

5

Suara abnormal (bunyi berisik)

  1. Oli kurang

  2. Kualitas oli jelek

  3. Bearing aus

  4. Gigi poros sekunder aus

  5. Permukaan gigi geser aus

  6. Backlash gigi kebanyakan

  7. Gigi roda gigi rusak

  8. Ada kotoran pada gigi

  9. Gigi diferensial rusak atau backlasnya kebanyakan

  1. Tambah oli

  2. Ganti oli

  3. Ganti

  4. Ganti

  5. Ganti

  6. Ganti

  7. Ganti

  8. Ganti

  9. Ganti atau setel

6

Pidah gigi keras

  1. Jarak main pedal kopling terlampau besar sehingga macet

  2. Pelat kopling aus

  3. Pelat kopling kontor terkena minyak

  4. Poros garbu pemindah berubah bentu atas ausnya tidak merata

  5. Bola lokasi pecah

  6. Sleeve sinkromesa aus

  7. Hub sinkromes aus

  1. Setel menurut petunjuk

  2. Ganti

  3. Ganti

  4. Ganti

  5. Ganti

  6. Ganti

  7. Ganti

7

Gigi lepas sendiri

  1. Tuas transmisi berubah bentuk

  2. Sumbu garbu pidah aus

  3. Bola baja lokasi aus

  4. Pegas bola baj lokasi lemah

  5. Garbu pindah aus

  6. Gigi terlampau bergerak ke arah tekan

  7. Ring atau hub sinkromes aus

  8. Bantalan poros masuk (input shaft) poros utama (main shaft) atau poros lawan(counter shaft) aus

  1. Perbaiki/ganti

  2. Ganti

  3. Ganti

  4. Ganti

  5. Ganti

  6. Ganti

  7. Ganti

  8. Ganti

8

Gigi tidak mau masuk

  1. Pegas sinkromes lemah atau patah

  2. Alur dalam ring sinkromes aus

  3. Ring sinkromes macet pada kerucut

  4. Poros garbu pemindah berubah bentuk

  5. Garbu pemundah aus

  1. Ganti

  2. Ganti

  3. Ganti

  4. Ganti

  5. Ganti


Langkah warm-up mesin sebelum digunakan pun juga sangat disarankan agar gigi persneling tidak terasa keras. Karena, ketika proses pemanasan mesin maka secara tak langsung oli akan mengalir melumasi komponen, termasuk gigi persneling sehingga ketika dikendarai maka perpindahan giginya pun akan terasa lebih lembut dan ringan dioperasikan.

Diatas ini merupakan langkah dan tahapan dalam Mendiagnosis Kerusakan Transmisi Manual. Adapun hasil yang akan diperoleh adalah letak komponen rusak.
Admin
Admin Buku catatan digital seorang guru yang menuangkan pengetahuan kedalam tulisan. Semoga artikel tulisan saya bermanfaat bagi orang banyak. Mari menulis! Mari Membaca! Bintan News

Post a Comment for "Mendiagnosis Kerusakan Transmisi Manual"