-->

Komponen Keterampilan Bertanya Dasar (untuk seorang guru baru)

Keterampilan dasar bertanya - Adapun penguasaan keterampilan bertanya untuk seorang guru merupakan hal yang penting dalam menciptakan suasana pembelajaran lebih bermakna. Dimana seorang guru yang baik mampu mengajukan pertanyaan dengan baik pula.  Secara umum guru belum berhasil menggunakan teknik bertanya efektif.
Proses belajar mengajar (PBM) berlangsung monoton, membosankan manakala selama  berjam-jam guru menjelaskan materi tanpa diselingi dengan pertanyaan, baik sekedar pertanyaan pancingan, atau pertanyaan untuk mengajak siswa berpikir.

Bertanya  adalah suatu unsur yang akan selalu ada dalam suatu proses komunikasi, tidak terkecuali dalam komunikasi pembelajaran. Keterampilan bertanya merupakan ucapan atau pertanyaan yang dilontarkan guru sebagai stimulus untuk memunculkan atau menumbuhkan jawaban (respon) dari peserta didik.  

Pada proses pembelajaran pengajuan pertanyaan berlangsung begitu saja pada kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup, tanpa disadari  sampai dimana tahapan-tahapan keterampilan bertanya merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan  pada penerapan model-model pembelajaran yang dirancang.
Komponen Komponen Keterampilan Bertanya Dasar (untuk seorang guru baru)

Begitu pentingnya penguasaan keterampilan bertanya pada kegiatan pembelajaran, guru hendaknya memahami tahapan-tahapan proses keterampilan bertanya sehingga memberi pengaruh pada peserta didik.

1. Keterampilan Bertanya

Menurut Barnawi dan M. Arifin (2015:145) Keterampilan bertanya merupakan keterampilan yang digunakan untuk mendapatkan jawaban/balikan dari orang lain. Setiap pengajaran, evaluasi, pengukuran, dan penilaian dilakukana dengan pertanyaan.

Pertanyaan yang baik akan menuntun kita pada jawaban yang sesungguhnya dan pertanyaan yang buruk akan menjauhkan kita dari jawaban yang memuaskan. Pengetahuan dibangun dari rasa ingin tahu manusia yang berwujud pertanyaan. Peserta didik dapat memperoleh pengetahuan yang bermakna apabila ia melihat ada sejumlah pertanyaan yang membutuhkan jawaban.

Guru perlu menciptakan pertanyaan pertanyaan kritis yang mendorong peserta didik untuk berpikir mencari jawaban. Betapa pentingnya pertanyaan dalam dunia pengetahuan sehingga memunculkan istilah question is knowledge.

Menurut Usman (2013) Dalam proses pembelajaran, bertanya memainkan peranan penting sebab pertanyaan yang tersusun dengan baik dan teknik pelontaran yang tepat pula akan memberikan dampak positif terhadap peserta didik.

Dampak positif itu antara lain
  1. Meningkatkan partisipasi peserta didik dalam pembelajaran.
  2. Membangkitkan minat dan rasa ingin tahu peserta didik terhadap suatu masalah yang sedang dihadapi atau dibicarakan.
  3. Mengembangkan pola dan cara belajar aktif dari peserta didik sebab berpikir itu sendiri sesungguhnya adalah bertanya.
  4. Menuntun proses berpikir peserta didik sebab pertanyaan yang baik akan membantu peserta didik agar dapat menentukan jawaban yang baik.
  5. Memusatkan perhatian peserta didik terhadap masalah yang sedang dibahas.
  6. Keterampilan dan kelancaran.

a. Dasar-dasar Pertanyaan yang baik

  1. Jelas dan mudah dimengerti oleh peserta didik
  2. Berikan informasi yang cukup untuk menjawab pertanyaan
  3. Difokuskan pada suatu masalah atau tugas tertentu
  4. Berikan waktu yang cukup kepada anak untuk berpikir sebelum menjawab pertanyaan
  5. Bagikanlah semua pertanyaan kepada seluruh murid secara merata .
  6. Berikan respons yang ramah dan menyenangkan sehingga timbul keberanian peserta didik untuk menjawab atau bertanya
  7. Tuntunlah jawaban peserta didik sehingga mereka dapat menemukan sendiri jawaban yang benar

b. Jenis-jenis pertanyaan yang baik

1. Jenis pertanyaan menurut maksudnya
  1. Pertanyaan permintaan (comliance question), yaitu pertanyaan yang mengharapkan agar peserta didik mematuhi perintah yang diucapkan dalam bentuk pertanyaan. Contoh: dapatkah kalian tenang agar suara bapak dapat didengar oleh kalian?
  2. Pertanyaan retoris (rhetorical question), yaitu pertanyaan yang tidak menghendaki jawaban, akan tetatpi dijawab sendiri oleh guru. Hal ini merupakan teknik penyampaian informasi kepada murid.
  3. Pertanyaan mengarahkan atau menuntun (prompting question), yaitu pertanyaan yang diajukan untuk memberi arah kepada peserta didik dalam proses berpikirnya. Hal ini dilakukan apabila guru menghendaki agar peserta didik memperhatikan dengan seksama bagian tertentu atau inti pelajaran yang dianggap penting. Dari segi yang lain, apabila peserta didik tidak dapat menjawab atau salah menjawab, guru mengajukan pertanyaan lanjutan yang akan mengarahkan atua menuntun proses berpikir peserta didik sehingga pada akhirnya peserta didik dapat menemukan jawaban bagi pertanyaan pertama tadi.
  4. Pertanyaan menggali (probing question), yaitu pertanyaan lanjutan yang akan mendorong peserta didik untuk lebih mendalami jawabannya terhadap pertanyaan pertama. Dengan pertanyaan menggali ini peserta didik didorong untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas jawaban yang diberikan pada pertanyaan sebelumnya.
2. Pertanyaan menurut taksonomi Bloom
  1. Pertanyaan pengetahuan (recoll question atau knowledge question), atau ingatan dengan menggunakan kata-kata apa, dimana, kapan, siapa, dan sebutkan. Contoh sebutkan ciri-ciri makhluk hidup?
  2. Pertanyaan pemahaman (comprehension question), yaitu pertanyaan yang menghendaki jawaban yang bersifat pemahaman dengan kata-kata sendiri. Biasanya menggunakan kata-kata jelaskan, uraikan, dan bandingkan. Contoh: jelaskan proses pernafasan dada?
  3. Pertanyaan penerapan (aplication question), yaitu pertanyaan yang menghendaki jawaban untuk menerapkan pengetahuan atau informasi yang diterimanya. Contoh: berdasarkan proses tersebut, kesimpulan apa yang dapat anda berikan?
  4. Pertanyaan sintesis (synthesis question), yaitu pertanyaan yang menghendaki jawaban yang benar, tidak tunggal, tetapi lebih dari satu dan menuntut peserta didik untuk membuat ramalan (prediksi), memecahkan masalah, mencari komunikasi. Contoh: apa yang terjadi apabila tanaman tumbuh dekat dengan kandang ayam?
  5. Pertanyaan evaluasi (evaluation question), yaitu pertanyaan yang menghendaki jawaban dengan cara memberikan penilaian atau pendapatnya terhadap suatu isu yang ditampilkan. Contoh: bagaimana pendapat anda tentang bencana kabut asap di Indonesia? Apa kira-kira solusinya?

c. Hal-hal yang perlu diperhatikan

1. Kehangatan dan keantusiasan

Untuk meningkatkan partisipasi peserta didik dalam proses pembelajaran, guru perlu menunjukkan sikap baik pada waktu mengajukan pertanyaan maupun ketika menerima jawaban peserta didik. Sikap dan cara guru termasuk suara, ekspresi wajah, gerakkan, dan posisi badan menampakkan ada-tidaknya kehangatan dan keantusiasannya.

2. Kebiasaan yang perlu dihindari
  1. Jangan mengulang-ulang pertanyaan apabila peserta didik tidak mampu menjawabnya. Hal ini dapat menyebabkan menurunnya perhatian dan partisipasi peserta didik.
  2. Jangan mengulang-ulang jawaban peserta didik. Hal ini akan membuang-buang waktu, sehingga peserta didik jadi tidak memperhatikan jawaban temannya karena menunggu komentar dari guru.
  3. Jangan menjawab sendiri pertanyaan yang diajukkan sebelum peserta didik memperoleh kesempatan untuk menjawabnya. Hal ini membuat peserta didik frustasi dan mungkin ia tidak mengikuti pelajaran dengan baik.
  4. Usahakan agar peserta didik tidak menjawab pertanyaan secara serempak karena guru tidak dapat mengetahui dengan pasti siapa yang menjawab benar dan saiapa yang jawab salah serta menutup kemungkinan berinteraksi selanjutnya.
  5. Menentukan siapa peserta didik yang harus menjawab sebelum mengajukan pertanyaan akan menyebabkan peserta didik yang tidak ditunjuk untuk menjawab tidak memikirkan jawaban pertanyaan. Oleh karena itu pertanyaan hendaknya ditujukan lebih dahulu kepada seluruh peserta didik baru kemudian guru menunjuk salah seorang untuk menjawabnya.
  6. Pertanyaan ganda: guru kadang-kadang mengajukan pertanyaan yang sifatnya ganda, menghendaki beberapa jawaban atau kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta didik. Contoh: apa yang menyebabkan diare dan apa akibatnya bila terkena diare?

d. Komponen-komponen keterampilan bertanya dasar

1. Penggunaan pertanyaan secara jelas dan singkat
Pertanyaan guru harus diungkapkan secara jelas dan singkat dengan menggunakan kata-kata yang dapat dipahami oleh peserta didik sesuai dengan taraf perkembangannya.

2. Pemberian acuan
Sebelum memberikan pertanyaan, kadang-kadang guru perlu memberikan acuan yang berupa pertanyaan yang berisi informasi yang relevan dengan jawaban yang diharapkan dari peserta didik, contoh: kita ketahui bahwa pencemaran air sungai disebabkan oleh sampah pabrik dan rumah tangga, coba kamu sebutkan faktor penyebab yang lain yang mengakibatkan terjadinya pencemaran air sungai.

3. Pemindahan giliran
Adakalanya satu pertanyaan perlu dijawab oleh lebih dari seorang peserta didik karena jawaban peserta benar atau belum memadai.

4. Penyebaran
Untuk melibatkan peserta didik sebanyak-banyaknya di dalam pelajaran, guru perlu menyebarkan giliran menjawab pertanyaan secara acak. Ia hendaknya berusaha agar semua peserta didik mendapat giliran secara merata.

5. Pemberian waktu berpikir
Setelah mengajukan pertanyaan kepada seluruh peserta didik, guru perlu memberi waktu beberapa detik kepada peserta didik untuk berpikir sebelum menunjuk salah seorang peserta didik untuk menjawabnya.

6. Pemberian tuntutan
Bila peserta didik itu menjawab salah atau tidak tepat jawabannya, guru hendaknya memberikan tuntunan kepada peserta didik supaya dapat menemukan sendiri jawaban yang benar.

e. Komponen-komponen keterampilan bertanya lanjutan

Keterampilan bertanya lanjut dibentuk atas dasar penguasaan komponen-komponen bertanya dasar. Oleh sebab itu, komponen bertanya dasar masih dipakai dalam penerapan keterampilan bertanya lanjut.
Adapun komponen-komponennya adalah sebagai berikut :

1. Pengubahan tuntunan tingkat kognitif dalam menjawab pertanyaan

Pertanyaan yang dikemukakan guru dapat mengandung proses mental yang berbeda-beda, dari proses mental yang rendah sampai proses mental yang tinggi. Oleh karena itu, guru dalam mengajukan pertanyaan hendaknya berusaha mengubah tuntunan tingkat kognitif dalam menjawab pertanyaan dari tingkat mengikat kembali fakta-fakta ke berbagai tingkat kognitif lainnya yang lebih tinggi seperti pemahaman, penerapan, analisi, simtesis, dan evaluasi. Guru dapat pula mengajukan pertanyaan pelacak (probing).

2. Pengaturan urutan pertanyaan

Untuk mengembangkan tingkat kognitif dari yang sifatnya rendah ke yang lebih tinggi dan kompleks, guru hendaknya dapat mengatur urutan pertanyaan yang diajukan kepada siswa dari tingkat mengingat, kemudian pertanyaan pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi. Usahakan agar jangan memberikan pertanyaan yang tidak menentu atau yang bolak-balik, misalnya sudah sampai kepada pertanyaan analisis, kembali lagi kepada pertanyaan ingatan, dan kemudian melonjak kepada pertanyaan evaluasi. Hal ini akan menimbulkan kebingungan pada siswa dan partisipasi siswa dalam mengikuti pelajaran dapat menurun.

3. Penggunaan pertanyaan pelacak

Jika jawaban yang diberikan oleh siswa dinilai benar oleh guru, tetapi masih dapat ditingkatkan menjadi lebih sempurna, guru dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan pelacak kepada siswa tersebut. Berikut ini adalah beberapa teknik pertanyaan pelacak yang dapat digunakan.
  1. Klasifikasi : Jika siswa menjawab dengan kalimat yang kurang tepat, guru dapat memberikan pertanyaan pelacak yang meminta siswa tersebut untuk menjelaskan dengan kata-kata lain sehingga jawaban siswa menjadi lebih baik.
  2. Meminta siswa memberikan alasan (argumentasi) yang dapat menunjang kebenaran pandangannya dalam menjawab pertanyaan guru.
  3. Meminta kesempatan pandangan : Guru dapat memberikan kesempatan kepada siswa lainnya untuk menyatakan persetujuan atau penolakan disertai alasan terhadap jawaban rekannya, agar diperoleh pendangan yang dapat diterima oleh semua pihak.
  4. Meminta kesempatan jawaban : Guru dapat meminta siswa untuk meninjau kembali jawaban yang diberikan bila dianggap kurang tepat.
  5. Meminta jawaban yang lebih relevan : Bila jawaban siswa kurang relevan, guru dapat meminta jawaban yang benar dan relevan dari siswa tersebut.
  6. Meminta contoh : Bila siswa menjawab dengan samar-samar, guru dapat meminta siswa untuk memberikan ilustrasi atau contoh konkret tentang apa yang dikemukakannya.
  7. Meminta jawaban yang lebih kompleks : Guru dapat meminta siswa tersebut untuk memberi penjelasan atau ide-ide penting leinnya sehingga jawaban yang diberikannya menjadi lebih kompleks.

4. Peningkatan terjadinya interaksi

Agar siswa lebih terlibat secara pribadi dan lebih bertanggung jawab atas kemajuan dan hasil diskusi, guru hendaknya mengurangi atau menghilangkan peranannya sebagai penanya sentral dengan cara mencegah pertanyaan dijawab oleh seorang siswa. Jika siswa mengajukan pertanyaan, guru tidak segera menjawab, tetapi melontarkannya kembali kepada siswa lainnya.

Diatas merupakan ulasan komponen keterampilan bertanya dasar yang bisa kami bagikan. Semoga saja bermanfaat dan bisa membantu.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel