Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Menerapkan Cara Perawatan Sistem Starter

Menerapkan cara perawatan sistem starter - Setelah mempelajari materi tentang sistem starter pada mesin kendaraan, peserta didik dapat :
  1. Melakukan identifikasi komponen sistem starter pada mesin kendaraan
  2. Melakukan pemeriksaan kondisi komponen sistem starter pada mesin kendaraan
  3. Melakukan overhaul komponen sistem starter pada mesin kendaraan
  4. Melakukan perbaikan dan penggantian komponen sistem starter pada mesin kendaraan

Menerapkan Cara Perawatan Sistem Starter

Sistem starter pada unit kendaraan dikategorikan ke dalam sistem kelistrikan mesin. Sistem starter berfungsi untuk memberikan putaran awal agar mesin dapat memulai siklus kerjanya.

Pada kendaraan-kendaraan keluaran awal masih mengaplikasikan sistem mekanik untuk menghidupkan mesin kendaraan, terutama kendaraan dengan isi silinder (cc) kecil, yaitu dengan cara memutar poros engkol.

Namun saat ini, dengan perkembangan teknologi yang pesat sistem starter tidak lagi memanfaatkan tenaga manusia, melainkan dengan memanfaatkan energi listrik dari beterai untuk memutar motor starter dan meneruskan putaran kepada mesin kendaraan.

Bahkan saat ini terdapat produk sepeda motor yang sudah memanfaatkan teknologi ACG (alternating current generator) dimana sistem pengisian menjadi satu kesatuan dengan sistem starter sehingga suara pada saat pertama kali menghidupkan mesin menjadi lembut.
2.1 Sistem starter pada kendaraan modern

A. Sistem Starter pada Kendaraan Ringan

Sistem starter yang digunakan pada sebuah kendaraan pada dasarnya adalah sama, yaitu memanfaatkan motor starter untuk memberikan putaran awal terhadap mesin.

Motor starter yang digunakan ada beberapa tipe dan masing-masing tipe memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Tipe-tipe motor starter tersebut diantaranya adalah tipe konvensional, tipe reduksi dan tipe planetary serta tipe planetary reduction-segmen conductor (PS).
2.2 Berbagai tipe motor starter pada kendaraan

B. Komponen dan Cara Kerja Sistem Starter

Sistem starter pada kendaraan terdiri dari beberapa komponen pendukung, yang satu sama lain bekerja saling berkaitan. Komponen-komponen sistem starter pada kendaraan ringan diantaranya adalah sebagai berikut.

1. Beterai (battery)

Secara umum beterai pada sebuah kendaraan memiliki fungsi sebagai sumber energi untuk penerangan dan aksesoris tertutama pada saat mesin kendaraan mati. Kemudian pada saat mesin distarter baterai memiliki fungsi untuk menghidupkan motor starter dan pengapian pada mesin. Pada saat mesin sudah hidup beterai sebagai stabilisator energi listrik yang dihasilkan oleh pembangkit energi listrik di kendaraan atau alternator.


Beterai sebagai penyedia arus untuk sistem starter harus selalu dalam kondisi yang baik, karena motor starter membutuhkan arus yang besar untuk memutar roda gila (flywheel) pada poros engkol mesin kendaraan.
2.3 Beterai pada sebuah kendaraan

2. Kunci kontak (ignition switch)

Kunci kontak (ignition switch) pada sistem starter berfungsi untuk memutus atau menghubungkan arus listrik dari baterai ke solenoid pada unit motor starter. Kunci kontak diletakkan pada dashboard kendaraan, tepatnya di bawah roda kemudi.

Kunci kontak memiliki empat terminal, terminal B dihubungkan dengan beterai, terminal IG dihubungkan dengan sistem pengapian, terminal ST dihubungkan dengan sistem starter dan terminal ACC dihubungkan dengan sistem assesories.
2.4 Posisi kunci kontak (ignition switch) pada kendaraan

3. Motor starter.

a. Yoke dan pole core

Komponen pada motor starter yang berbentuk seperti silinder disebut dengan yoke, yoke ini merupakan dudukan dari pole core yang diikat menggunakan sekrup.

Jadi yoke merupakan dudukan pole core, dan pole core merupakan komponen yang berfungsi sebagai penopang field coil dan memperkuat medan magnet yang dihasilkan field coil ketika dialiri arus listrik.
2.5 Yoke dan pole core pada motor starter

b. Kumparan medan (field Coil)

Jika pada sistem pengapian ada komponen yang namanya koil pengapian (ignition coil), pada motor starter ada komponen yang bernama kumparan medan (field coil). Coil sendiri merupakan gulungan kawat penghantar.

Kumparan medan (field Coil) juga disebut dengan istilah lilitan atau kumparan stator. Fungsi kumparan medan (field coil) pada motor starter adalah untuk membangkitkan medan magnet, agar mampu dialiri arus yang besar field coil terbuat dari lempengan tembaga.
2.6 Kumparan medan (field Coil) pada motor starter

c. Jangkar (armature)

Fungsi jangkar (armature) adalah untuk merubah energi listrik menjadi energi mekanik dalam gerak putar. Jangkar (armature) juga disebut dengan nama kumparan atau lilitan rotor.

Armature tersusun dari beberapa komponen yaitu armature core, armature coil, comutator, armature shaft dan bagian-bagian lainnya. Kedua ujung shaft armature ini, masing-masing ditopang oleh bearing yang bertujuan agar armature dapat berputar dengan stabil diantara pole core.

Armature coil disusun pada celah-celah core dan masing-masing ujung armature coil disambungkan ke segmen-segmen commutator. Dengan demikian arus yang melewati armature coil dapat membuat komponen armatur dapat berputar dan menghasilkan momen putar untuk memutar fly wheel.
2.7 Jangkar (armature) pada motor starter

d. Sikat-sikat (brushes)

Sikat-sikat (brushes) pada motor starter berfungsi untuk mengalirkan listrik dari field coil ke armature coil kemudian dialirkan ke massa melalui komutator. Bahan utama pembuat brush adalah tembaga lunak dan karbon. Pada umumnya brush atau sikat pada motor starter jumlahnya ada empat buah, yang terdiri dari dua jenis yaitu brush positif dan brush negatif.

Sikat positif diberi isolator dan dipasangkan dengan armature coil melalui comutator. Sedangkan sikat negatif dipasangkan ke pemegang yang berhubungan dengan massa atau body kendaraan. Sikat-sikat ini agar dapat selalu berhubungan dengan comutator maka pada sikat terdapat pegas.


Pegas ini berfungsi untuk menekan sikat agar selalu dapat berhubungan dengan comutator. Jika sikat habis karena terkikis sehingga tidak menekan commutator, maka momen putar yang dihasilkan motor starter menjadi lemah atau bisa juga motor starter tidak dapat berputar.
2.8 Sikat-sikat (brush) pada motor starter

e. Kopling starter (starter clutch) dan gigi pinion (pinion gear) 

Kopling starter berfungsi untuk memindahkan momen putar dari armature shaft ke fly wheel dan untuk mencegah berpindahnya tenaga putar dari fly wheel (ketika mesin sudah hidup) ke motor starter.

Starter clutch (kopling starter) merupakan pengaman dari armature coil ketika roda penerus (ring gear) cenderung memutar gigi pinion, ini dapat terjadi ketika mesin sudah hidup (putaran mesin lebih cepat). 

Kemudian pinion gear yang juga menjadi satu kontruksi dengan starter clutch berfungsi untuk memindahkan tenaga putar dari armature shaft ke ring gear. Pinion gear inilah yang berhubungan langsung dengan ring gear.
2.9 Kopling starter (starter clutch) dan gigi pinion (pinion gear)

f. Rem jangkar (armature brake)

Armature brake berfungsi sebagai pengerem ketika pinion gear lepas dari kaitan fly wheel. Pengereman pada motor starter sangat penting guna menjaga umur komponen pinion gear.

Pada saat anda melakukan starter pertama kali dan mesin belum hidup, tentu saja Anda akan melakukan starter kembali, sehingga apabila tidak ada pengereman maka akan membuat pinion masih berputar dan ketika dilakukan starter kembali maka dapat merusak pinion gear karena pinion gear dapat menabrak gigi pada fly wheel.
2.10 Rem jangkar (armature brake) pada motor starter

g. Switch starter (magnetic switch atau solenoid)

Switch starter (magnetic switch atau solenoid) pada motor starter merupakan komponen yang memiliki fungsi ganda, yang pertama adalah untuk mendorong pinion gear sehingga berhubungan dengan ring gear. Kemudian yang kedua adalah berfungsi sebagai main switch atau relay yang memungkinkan arus yang besar langsung dari baterai mengalir ke motor starter.

Magnetic switch atau saklar magnet terdiri dari kontak plate yang terhubung dengan plunger. Plunger pada magnetic switch digulung dengan dua kumparan, kumparan bagian dalam dibuat menjadi lebih tipis atau disebut dengan kumparan pull in coil sedangkan kumparan bagian luar dibuat lebih tebal dan disebut dengan hold in coil. Kumparan pull in coil dihubungkan ke massa melalui field coil dan armature sedangkan kumparan hold in coil dihubungkan langsung dengan massa.
2.11 Switch starter (magnetic switch atau solenoid) pada motor starter

h. Tuas penggerak/pendorong (drive lever)

Tuas penggerak/pendorong (drive lever) merupakan komponen motor starter yang berfungsi untuk mendorong pinion gear agar berkaitan dengan ring gear pada fly wheel dan melepas perkaitan pinion gear dari perkaitan ring gear pada saat mesin sudah hidup.

Prinsip kerja drive lever seperti halnya sebuah tuas, apabila salah satu ujung dari drive lever ini ditarik oleh poros pada solenoid, maka ujung yang lainnya akan mendorong pinion gear.
2.12 Tuas penggerak/pendorong (drive lever) pada motor starter

C. Pengkabelan Sistem Starter pada Kendaraan Ringan

Sistem starter memiliki beberapa komponen yang satu sama lain dihubungkan menggunakan kabel penghantar. Beterai (battery), sekring (fuse), kunci kontak (ignition switch) dan motor starter merupakan komponen utama pada sistem starter. Namun untuk memaksimalkan arus listrik yang menuju sistem starter (solenoid) dapat ditambahkan sebuah relay.

Pengkabelan (wiring) dari sistem starter, baik yang tidak menggunakan relay maupun yang menggunakan relay seperti terlihat pada gambar di bawah.


2.13 Jaringan sistem starter tanpa relay


2.14 Jaringan sistem starter dengan relay

D. Pemeriksaan Sistem Stater pada Kendaraan Ringan

1. Pemeriksaan beterai

Pemeriksaan baterai apakah dalam keadaan baik, dengan mengukur tegangan. Dalam kondisi sistem starter baik, jika kunci kontak diputar ke posisi start (ST), baterai akan mengalirkan arus dalam jumlah besar ke motor starter.

Adanya tahanan dalam baterai menyebabkan adanya penurunan tegangan. Jika tegangan yang terukur menunjukkan 9,6 Volt atau lebih pada saat itu, maka berarti baterai dalam keadaan normal. Periksalah adanya kerak-kerak karbon atau adanya sulfatisasi pada terminal-terminal baterai.

Jika tegangan baterai dalam kondisi baik/normal, adanya batu sulfat dan korosi pada terminal-terminal baterai dapat mengakibatkan kinerja starter lemah, terjadi rugi tegangan sehingga tegangan sesungguhnya yang digunakan motor starter lebih rendah dari tegangan baterai, ketika di start/posisi kunci kontak start.

Periksa tegangan pada terminal 30 motor starter pada saat start. Dalam keadaan kabel start tidak terhubung atau hubungan yang kurang baik, baterai akan selalu memberikan tegangan pada terminal 30. Ketika arus besar mengalir melalui motor starter, maka tegangan yang digunakan motor starter sedikit lebih rendah dari tegangan yang terukur pada terminal baterai, hal ini disebabkan karena ada tahanan pada kabel baterai.

Jika tegangan yang terukur pada terminal 30, 8 Volt atau lebih, maka kabel starter dalam keadaan baik. Sebaliknya jika tegangannya yang terukur kurang dari nilai tersebut, periksalah kerusakan kabel, perbaiki, atau ganti kabel tersebut.

2. Pemeriksaan kunci kontak

Periksa tegangan pada terminal 50 motor starter pada saat kunci kontak pada posisi strart (ST), tegangan harus menunjukkan 8 Volt atau lebih. Pastikan gigi transmisi harus pada posisi netral (N) atau parkir (P) pada kendaraan yang menggunakan transmisi otomatis.

Jika tegangan pada terminal 50 tidak sesuai dengan spesifikasi pada saat kunci kontak pada posisi start, periksalah wiring diagram system starter dan periksa bagian-bagian yang ada kaitannya dengan komponen-komponen seperti:S ekring utama, kunci kontak, saklar netral, relay starter dan sebagainya. Ganti jika terdapat kerusakan.

Mengacu pada buku manual kendaraan untuk pertolongan dalam membedakan terminal 30 dan terminal 50 (terminal 50 selalu menggunakan kabel dengan ukuran penampang lebih kecil, kabel dengan penampang besar digunakan untuk terminal 30 dan terminal C.

3. Pemeriksaan motor starter Pengecekan kumparan penarik

Periksa bahwa pinion bergerak keluar, pada saat beterai dihubungkan pada motor starter seperti yang ditunjukkan pada gambar dibawah. Energi yang ditimbulkan pada pemeriksaan kumparan penarik dan kumparan penahan dan aktifasi switch magnetis tidak memutar motor starter.

Bila gear pinion tidak bergerak keluar, periksa kerusakan pada kumparan penarik, atau hambatan terlalu besar pada gerakan sliding plunyer atau penyebab kerusakan lainnya.
2.15 Pemeriksaan kumparan penarik

Pengecekan kumparan penahan

Setelah selesai memeriksa fungsi kumparan penarik. periksalah bahwa gear pinion tidak tertarik kembali ke dalam pada saat kabel dari terminal C dilepaskan, plunger harus tetap pada posisinya karena kemagnetan masih tetap ada melalui kumparan penahan.

Jika pinion tertarik kembali kedalam pada saat pemeriksaan ini, periksa kerusakan kumparan penahan, hubungan masa yang kurang baik atau kerusakan lainnya.


2.16 Pemeriksaan kumparan penahan

Pengecekan kembalinya gear pinion

Jika pemeriksaan kumparan penahan telah selesai, lepaskan kabel dari bodi starter sperti yang ditunjukkan pada gambar dibawah ini. Gear pinion harus dengan cepat tertarik kembali masuk kedalam, karena kumparan penahan tidak bekerja lagi, dengan bantuan pegas pengembali maka plunger akan kembali ke posisi semula.

Jika gear pinion tidak kembali dengan segera, periksa pegas pengembali, gesekan sliding plunger (gerakan plunger pada rumahnya) yang kurang baik, atau penyebab lainnya.
2.17 Pemeriksaan kembalinya pinion gear

Pengecekan putaran motor starter tanpa beban Ikat/pasang dengan kokoh motor starter pada ragum atau pemegang yang kuat. Hubungkan motor starter, dengan baterai dan ampere meter seperti yang ditunjukkan pada gambar dibawah ini. Gear pinion harus bergerak maju ke depan dan motor starter berputan dengan halus.
2.18 Pemeriksaan putaran motor starter tanpa beban

Catat dan baca arus yang mengalir melalui Ampere meter bila motor starter telah stabil. Nilai hasil pengukuran harus sesuai dengan range spesifikasi pada buku manual.

Periksa kembalinya gear pinion, dan motor harus segera berhenti berputar ketika kabel dilepaskan dari terminal 50 (ini hanya perlu untuk motor starter tipe biasa/konvensional). Jika motor starter tidak dapat berhenti dengan segera, maka berarti rem ankernya rusak.

Jumlah arus listrik yang mengalir melalui sirkuit dalam test tanpa beban bervariasi tergantung dari motor starter, kebanyakan arus mengali berkisar 200 sampai 300 ampere untuk beberapa motor starter. 

Lihat data pada buku manual sebelum melakukan pemeriksaan ini. Pastikan bahwa ampere meter telah di seting dengan benar, baik hubungan kabel maupun batas ukur ampere meter. Hati-hati pada waktu mempergunakan kabel berpenampang besar.

LEMBAR PRAKTIKUM

Tujuan Pembelajaran Praktikum
Setelah menyelesaikan kegiatan praktik diharapkan peserta didik dapat:
1. Mengetahui komponen sistem starter (starting system)
2. Mengukur komponen sistem starter (starting system)
3. Menjelaskan cara kerja sistem starter (starting system)
4. Mengidentifikasi kerusakan yang terjadi pada sistem starter (starting system)

Alat dan Bahan
Peralatan dan bahan yang digunakan pada kegiatan praktik antara lain:
1. Kotak alat (toolbox)
2. Motor starter terurai
3. Motor starter terangkai dalam kondisi dapat dioperasikan/hidup
4. Multi meter/multi tester/AVO meter
5. Jangka sorong (Vernier caliper)
6. Feeler gauge
7. Dial gauge
8. pull scale
9. Beterai (Accumulator / accu)
10. Kabel dengan penjepit pada kedua ujungnya
11. Lap (majun)

Keselamatan Kerja:
1. Gunakan peralatan sesuai dengan fungsinya.
2. Kenakanlah pakaian kerja (wear park) selama melakukan kegiatan praktik.
3. Jika ragu-ragu dalam pelaksanaan kegiatan praktik konsultasikan terlebih dahulu dengan guru pembimbing.
4. Hati-hati di dalam melaksanakan kegiatan praktik.

Tugas dan Evaluasi:
1. Buatlah laporan kegiatan praktik sesuai dengan job sheet praktik dan data yang diperoleh selama melakukan kegiatan praktik!
2. Jelaskan fungsi masing-masing komponen sistem starter (starting system)!
3. Jelaskan kerusakan yang mungkin terjadi pada komponen sistem starter (starting system)!

Media Kegiatan Praktik:
1. Buku manual (manual book) praktik
2. CD interaktif
3. Wall chart

Langkah Kerja:
1. Persiapkan peralatan dan bahan yang akan digunakan pada kegiatan praktik!
2. Kenakanlah pakaian kerja (wear park) dengan benar dan rapi!
3. Pinjamlah peralatan dan bahan di ruang alat dan periksa kondisi alat sebelum digunakan!

4. Lakukan pembongkaran, pengukuran, pemeriksaan dan perakitan serta pengujian seperti di bawah ini!
Membongkar motor starter

1. Jepitlah motor starter pada ragum, buka mur pengikat klem kabel utama ke motor starter, kemudian lepas baut/mur pemegang solenoid.

2. Lepaskan solenoid dari motor starter dengan menggoyang-goyangkan solenoid supaya plunyernya (poros solenoid) terlepas dari tuas pengerak (drive lever).

3. Buka tutup bantalan (bearing), dengan lidah pengukuran (feeler gauge) periksa celah samping poros anker/jangkar (armature) antara plat pengunci dan kerangka ujung, kemudian bandingkan hasil pengukuran dengan buku petunjuk (spesifikasi).

4. Buka plat pengunci, pegas dan ring/karet, buka dua baut panjang dan keluarkan kerangka ujung komutator.

5. Dengan sepotong kawat baja lepas pegas-pegas sikat (brush springs) dan lepas sikat-sikat (brushes) dari pemegangnya

6. Lepaskan pemegang sikat dari anker/jangkar (armature)

7. Buka kerangka kumparan medan (field coil) dari rumah penggerak pinion.

8. Buka tuas penggerak dari rumah penggerak pinion dan lepaskan anker/ jangkar (armature) dari rumah pengerak

9. Dengan alat khusus keluarkan cincin penyetop dari ring pengunci dan lepaskan ring pengunci, kemudian keluarkan pinion beserta kopling searah (oneway clutch) bebas dan poros anker/jangkar (armature)

Membersihkan komponen-komponen motor starter
1. Bersihkan pinion beserta kopling searah (oneway clutch) dengan tanpa dicuci
2. Bersihkan dengan bensin komponen-komponen lainnya tetapi jangan sampai basah kuyup
3. Keringkan komponen yang dicuci, perhatikan ring-ring jangan sampai hilang Memeriksa dan memperbaiki komponen motor starter

1. Lilitan/kumparan jangkar/anker (armature coil)

Periksa komutator dari kemungkinan putus pada sirkuitnya dengan menggunakan ohmmeter, periksa antar segmen pada komutator dan pastikan terdapat kontinuitas, jika antar segmen tidak ada kontinuitas disarankan untuk melakukan penggantian armature.

Periksa ada tidaknya hubungan komutator dengan massa dengan menggunakan ohmmeter, pastikan antarkomutator dan armature coil core tidak terdapat kontinuitas, jika ada kontinuitas disarankan untuk melakukan penggantian armature.

2. Komutator (commutator)

Periksa kemungkinan terdapat kotoran dan kebakaran pada permukaan komutator, jika kotor atau terbakar, perbaiki dengan ampelas (No 400) atau mesin bubut. Periksa run out komutator dengan menempatkan komutator pada v-blok dan menggunakan dial gauge, ukur run out komutator. Run out maksimal adalah 0,05 mm. Jika run out melebihi nilai maksimal, perbaiki komutator dengan menggunakan mesin bubut.

Periksalah diameter komutator dengan menggunakan jangka sorong (vernier caliper). Diameter standar: 28 mm dan diameter minimum: 27 mm. Jika diameter komutator kurang dari nilai minimum disarankan untuk melakukan penggantian armature.

Periksalah kedalaman alur pada komutator, bersihkan alur dari kotoran atau benda lain dan ratakan permukaan pada ujungnya. Kedalaman alur komutator standar: 0,6 mm dan kedalaman minimal: 0,2 mm. Jika kedalaman alur kurang dari nilai minimal, perbaiki dengan daun gergaji.

3. Kumparan medan (field coil)

Periksalah kemungkinan terputusnya sirkuit pada field coil dengan menggunakan ohmmeter, periksalah kontinuitas antara kabel timah dan sikat, jika tidak ada kontinuitas lakukan penggantian field coil. 

Periksa hubungan ke massa pada field coil dengan menggunakan ohmmeter, pastikan tidak ada kontinuitas antara ujung field coil dan field frame, jika terdapat kontinuitas, perbaiki atau ganti field frame.

4. Sikat-sikat (brushes)

Periksalah panjang sikat dengan menggunakan jangka sorong (vernier caliper). Panjang sikat standar: 14,00 mm dan panjang sikat minimal: 9,0 mm, jika panjangnya kurang dari nilai minimal, gantilah pemegang sikat dari field coil.

5. Pegas sikat (brush spring)

Periksalah beban pada pegas sikat (brush spring), baca nilai pada pull scale ketika pegas mulai terlepas dari sikat (brush), beban pada pegas terpasang: 8,8 N sampai dengan 17,7 N, jika tidak sesuai lakukan penggantian pegas sikat (brush spring).

6. Pemegang sikat (brush holder)

Periksalah sekat pada pemegang sikat dengan menggunakan ohmmeter, pastikan tidak ada kontinuitas antara pemegang sikat positif (+) dan negatif (-), jika ada kontinuitas, perbaiki atau lakukan penggantian pemegang sikat (brush holder).

7. Kopling searah (oneway clutch) dan roda gigi pinion (pinion gear)

Periksalah kondisi gigi pada roda gigi, periksa gigi dari kemungkinan aus atau rusak pada planetari, gigi dalam dan kopling starter. Apabila terjadi kerusakan pada gigi, lakukan penggantian roda gigi. Jika gigi pada kopling starter rusak, lakukan penggantian kopling starter. Periksa juga kemungkinan aus atau rusak pada gigi ring gear.

Periksalah kopling starter dengan memutar pinion gear pada kopling searah dengan putaran jarum jam dan periksa bahwa pinion berputar bebas.

Kemudian putarlah pinion gear pada arah berlawanan arah jarum jam, periksa bahwa pinion terkunci, jika tidak seperti ketentuan lakukan penggantian kopling starter.

8. Switch magnet (magnetic switch/solenoid)

Periksalah kondisi plunyer dengan menekan plunyer dan bebaskan kembali, pastikan plunyer kembali ke posisi semula dengan cepat. Jika tidak sesuai dengan ketentuan lakukan pengganti switch magnet. Lakukan pengujian sirkuit pada pull-in-coil, menggunakan ohmmeter, periksalah kontinuitas antara terminal 50 dan C, jika tidak ada kontinuitas, lakukan penggantian switch magnet.

Lakukan pengujian sirkuit pada hold-in-coil, menggunakan ohmmeter, periksalah kontinuitas antara terminal 50 dan bodi switch, jika tidak ada kontinuitas lakukan penggantian switch magnet.

9. Poros planetary dan bearing tengah

Periksalah poros planetary dan bearing tengah, menggunakan mikrometer, ukur diameter luar poros planetary yang menyentuh bearing tengah, diameter poros standar: 14,980-15,000 mm. Menggunakan caliper gauge, ukur diameter dalam pada bearing tengah, diameter dalam: 15,008-15,050 mm.
Sumber: Modul dan Job Sheet VEDC Malang

Kurangkan diameter poros planetary dari diameter dalam bearing, celah oli standar untuk bearing tengah: 0,01-0,06 mm, celah oli maksimal untuk bearing tengah : 0,2 mm, jika celahnya lebih dari nilai maksimal lakukan penggantian poros planet carrier dan bearing tengah.

Merakit motor starter

1. Tempatkan pinion pada poros anker (armature shaft), tempatkan cincin penyetop pada poros anker, pasang ring pengunci.

2. Dengan ragum tekan ring pengunci periksa bahwa ring pengunci terpasang dengan benar.

3. Dengan obeng, pukul pinion dalam usaha memasukan cincin penyetop ke dalam ring pengunci.

4. Pasang tuas penggerak (drive lever) pinion pada rumah penggerak, pasang anker (armature) beserta pinion pada rumah penggerak, pasang kerangka kumparan medan (field coil frame) pada anker.

5. Tempatkan pemegang sikat (brush holder) di atas poros anker (armature), dengan sepotong kawat baja pegang pegas sikat serta pasang sikat pada pemegang sikat.

6. Pasang kerangka ujung pada poros anker/jangkar (armature) dan pasang 2 baut panjang, pasang karet, pegas dan plat pengunci, ukur celah samping anker antara plat pengunci dan kerangka ujung, pasang tutup bantalan dengan dua sekrup.

7. Kaitkan solenoid pada tuas pengerak, pasang baut/mur pengikat solenoid, pasang klem kabel utama ke motor starter.

Menguji kemampuan starter

Perhatian: untuk menghindari kebakaran pada koil, lakukan pengujian ini selama 3-5 detik.
1. Lakukan pengujian PULL-IN dengan melepas kabel field coil dari terminal C, menghubungkan baterai pada switch magnet seperti pada gambar di atas. Periksa gerakan gigi pinion ke arah luar. Jika gigi pinion tidak bergerak, lakukan penggantian switch magnet.

2. Lakukan pengujian HOLD-IN, dalam keadaan baterai terhubung seperti di atas, dan gigi pinion keluar, lepaskan kabel negatif (-) dari terminal C dan periksalah gigi pinion, pastikan masih tertahan diluar, jika gigi pinion bergerak kedalam, lakukan penggantian switch magnet.

3. Periksalah gerakan kembalinya gigi pinion dengan melepas kabel negatif (-) dari bodi switch, pastikan gigi pinion bergerak ke dalam kembali, jika gigi pinion tidak bergerak ke dalam lakukan penggantian swicht magnet.

4. Periksalah celah gigi pinion dengan hubungkan baterai pada switch magnet seperti pada gambar, gerakkan gigi pinion ke arah armature dan ukurlah celah antara gigi pinion dan stop collar, celah standar: 1-4 mm.

5. Lakukan pengujian kemampuan tanpa beban dengan menghubungkan kabel field coil pada terminal C, dan pastikan kabel tidak berhubungan dengan masa, kemudian hubungkan beterai dan ampermeter pada starter seperti pada gambar, pastikan starter berputar lembut dan stabil serta gigi pinion bergerak keluar.

SOAL ESSAY
Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan baik dan benar!
1. Jelaskan bagaimana cara memeriksa solenoid atau switch starter (magnetic switch) pada motor starter!
2. Jelaskan bagaimana cara memeriksa kumparan jangkar atau kumparan rotor (armature)!
3. Jelaskan dengan gambar cara memeriksa drop tegangan pada saat distarter!
4. Bagaimanakah cara magnetic switch memajukan pinion gear!
5. Gambarkan rangkaian sistem starter pada kendaraan!
❤❤❤❤❤❤❤
Demikian pembahasan mengenai menerapkan cara perawatan sistem starter pada kendaraan. Semoga bisa bermanfaat.
Bintan News
Bintan News Buku catatan digital seorang guru yang menuangkan pengetahuan kedalam tulisan. Semoga artikel tulisan saya bermanfaat bagi orang banyak. Mari menulis! Mari Membaca! Bintan News
close