close
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Memahami Berbagai VOVD yang Digunakan untuk Ternak

MEMAHAMI BERBAGAI VOVD YANG DIGUNAKAN UNTUK TERNAK (RUMINANSIA, UNGGAS, DAN ANEKA TERNAK).
Memahami Berbagai VOVD yang Digunakan untuk Ternak
Materi memahami berbagai VOVD yang digunakan untuk ternak diharapkan sobat akan:
  1. Setelah mempelajari materi tentang memahami berbagai VOVD yang digunakan untuk ternak (ruminansia, unggas, dan aneka ternak), peserta diklat mampu membedakan antara vaksin, obat, vitamin, dan disinfektan dengan aman.
  2. Setelah mempelajari materi tentang memahami berbagai VOVD yang digunakan untuk ternak (ruminansia, unggas, dan aneka ternak), peserta diklat mampu menjelaskan kegunaan vaksin, obat, vitamin, dan disinfektan dengan aman.
  3. Setelah mempelajari materi tentang mengidentifikasi VOVD yang digunakan untuk ternak (ruminansia, unggas dan aneka ternak), peserta diklat mampu membedakan antara vaksin, obat, vitamin, dan disinfektan dengan benar.
  4. Setelah mempelajari materi tentang mengidentifikasi berbagai VOVD yang digunakan untuk ternak (ruminansia, unggas, dan aneka ternak), peserta diklat mampu melakukan pemberian vaksin, obat, vitamin, dan disinfektan dengan aman.

A. MEMBEDAKAN VAKSIN, OBAT, VITAMIN, DISINFEKTAN

1. Vaksin

Vaksin merupakan suatu produk biologis yang berisi sejumlah jasad renik (hidup atau mati) yang diketahui sebagai penyebab suatu penyakit. Daya kerja vaksin adalah spesifik. Untuk pencegahan penyakit, vaksin dapat dibuat dari jasad renik lain, misal bakteri, parasit, atau bahan toksin.

Vaksinasi adalah suatu tindakan dengan sengaja memasukkan agen penyakit (antigen) yang telah dilemahkan ke dalam tubuh hewan dengan tujuan merangsang pembentukan daya tahan atau daya kebal terhadap penyakit tertentu untuk tidak menimbulkan p e n y a k i t . Va k s i n a s i m e r a n g s a n g mekanisme pertahanan tubuh untuk menghasilkan antibodi sampai suatu ketika dapat digunakan melawan serangan penyakit.

Untuk kepentingan keselamatan terhadap risiko timbulnya penyakit, dapat menggunakan virus yang telah dimatikan. Tindakan vaksinasi merupakan salah satu usaha agar hewan yang divaksinasi memiliki daya kebal sehingga terlindung dari serangan penyakit.

Kebal atau imun adalah suatu keadaan tubuh tahan atau kebal terhadap serangan penyakit. Ada dua kebal dilihat dari cara terbentuknya, yaitu kebal alami atau kekebalan yang terjadi karena diperoleh secara alami tanpa sengaja diupayakan, dan kebal perolehan yaitu suatu kekebalan yang disengaja atau diperoleh dengan memasukkan agen penyakit tertentu.

Berdasarkan sifat hidup agen penyakit, vaksin dibedakan menjadi dua, yaitu:

Vaksin Aktif (Live Virus)
Sebagian besar vaksin untuk unggas tipe live virus yang diproduksi di labiratorium dengan cara membiakkan strain-strain virus dalam telur yang telah berisi embrio dengan sistem kultur sel. Pada vaksin aktif, agen penyakit masih hidup, tetapi sudah dilemahkan (dikurangi patogenitasnya) dan struktur agen penyakit masih utuh.

Vaksin live memiliki karakteristik:
  1. berisi virus/bakteri yang sudah dilemahkan
  2. berbentuk kering beku dalam kemasan vial
  3. aplikasi tetes mata, spray, peroral/air minum, tusuk sayap
  4. respons pembentukan antibodi cepat, tetapi relatif cepat turun
Vaksin Inaktif (Killed Virus)
Vaksin yang mengandung mikro - organisme yang telah mati. Vaksin killed virus ini untuk merangsang produksi antibodi unggas. Dalam keadaan normal, di mana penularan penyakit sangat rendah, maka vaksinasi yang dilakukan cukup sedikit, Namun, apabila dalam situasi yang kurang menguntungan misalnya pada saat perubahan cuaca maka khususnya untuk unggas layer vaksinasi yang dilakukan harus lebih banyak.

Pada vaksin inaktif, agen penyakit sudah dimatikan, tetapi masih immunogenik (dapat merangsang pembentukan kelembaban struktur agen) penyakit sudah tidak utuh. Karakteristik vaksin killed adalah:
  1. Berisi virus, bakteri mati, atau protein virus
  2. Bentuk cairan dalam pelarut oil adjuvant/alumunium hydroxide kemasan botol
  3. Aplikasi suntik intra musculler atau sub cutan
  4. Reaksi pembentukan antibodi lebih lambat, tetapi bertahan lebih lama.
Cara Kerja Vaksin Aktif
Setelah masuk ke dalam tubuh, harus bermultiplikasi/berkembang biak pada infeksi alami. Setelah agen penyakit berkembang biak akan menggertak jaringan limfoid (pabrik pembuat kekebalan, yaitu bursa fabricius, thymus, kel harderian, caecal tonsil, dll.) untuk membentuk zat kebal (antibody) adanya multiplikasi virus yang tidak diinginkan.

Untuk itu, tetap perlu menjaga agar kondisi ternak sebelum dan sesudah vaksin tetap baik, pemberian vitamin dan elektrolit sangat dianjurkan. Vaksin inaktif mempunyai cara kerja yang berbeda, yaitu setelah masuk dalam tubuh tidak perlu bermultiplikasi, tetapi langsung memacu respons vaksinasi dengan vaksin inaktif akan lebih baik jika sebelumnya telah mendapat vaksinasi dengan vaksin aktif. Agar vaksin yang kita lakukan dapat berhasil dengan baik, maka perlu diperhatikan hal-hal berikut.
  1. Ayam yang divaksin harus dalam keadaan sehat (tidak sedang sakit).
  2. Apabila pelaksanaan vaksin melalui air minum, maka tempat minum harus dicuci baik-baik. Tidak diperkenankan menggunakan disinfektan, sabun, dan jenis lain yang dapat membunuh virus atau bakteri.
  3. Air minum tidak mengandung Chloor (kaporit).
  4. Ayam harus dipuasakan selama 2 jam dan larutan vaksin diusahakan habis diminum selama 1—2 jam.
  5. Bila vaksin dilakukan dengan suntikan, maka harus dilakukan dengan hati-hati sebab dapat menimbulkan stres.
  6. Vaksin harus disimpan di tempat vaksin (box vaksin) dan diberi es batu.
  7. Vaksin harus terhindar dari sinar matahari.
  8. Botol dan larutan sisa vaksin harus dimusnahkan dengan cara dikubur.
  9. Sebelum dan sesudah vaksin sebaiknya diberi obat/vitamin antistres.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam vaksinasi adalah:
a. Ternak harus sehat
b. Jenis dan tipe vaksin
c. Umur ternak
d. Cara atau metode dalam melakukan vaksinasi
e. Perlakuan terhadap vaksin
f. Penanganan ternak sebelum dan setelah vaksin

2. Obat

Obat adalah sediaan atau paduan bahanbahan yang siap untuk digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan, kesehatan, dan kontrasepsi.

Penggolongan Obat
Beberapa istilah penting berkaitan dengan obat antara lain:
  • “Sediaan biologi” adalah obat hewan yang dihasilkan melalui proses biologi pada hewan atau jaringan hewann untuk menimbulkan kekebalan, mendiagnosis suatu penyakit, atau menyembuhkan penyakit melalui proses imunologik, antara lain berupa vaksin, sera (antisera), hasil rekayasa genetika, dan bahan diagnostika biologi.
  • “Sediaan farmakoseutika” adalah obat hewan yang dihasilkan melalui proses nonbiologi, antara lain vitamin, hormon, enzim, antibiotik, dan kemoterapeutik lainnya, antihistamin, antipiretik, dan anestetik yang dipakai berdasarkan daya kerja farmakologi.
  • “Sediaan premiks” adalah obat hewan yang dijadikan imbuhan pakan atau p e l e n g k a p p a k a n h e w a n y a n g pemberiannya dicampurkan ke dalam pakan atau air minum hewan.
  • “Sediaan obat alami” adalah bahan atau ramuan bahan alami yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan m i n e r a l , s e d i a a n g a l e n i k a t a u campuran dari bahan-bahan tersebut yang digunakan sebagai obat hewan.
  • Golongan obat alami baik meliputi obat asli Indonesia maupun obat asli dari negara lain untuk hewan yang tidak mengandung zat kimia sintetis dan belum ada data klinis serta tidak termasuk narkotika atau obat keras dan khasiat serta kegunaannya diketahui secara empirik.
  • “Obat keras” adalah obat hewan yang bila pemakaiannya tidak sesuai dengan ketentuan dapat menimbulkan bahaya bagi hewan dan/atau manusia yang mengonsumsi produk hewan tersebut.
  • “Obat bebas terbatas” adalah obat keras untuk hewan yang diberlakukan sebagai obat bebas untuk jenis hewan tertentu dengan ketentuan disediakan dalam jumlah, aturan dosis, bentuk sediaan, dan cara pemakaian tertentu serta diberi tanda peringatan khusus.
  • “Obat bebas” adalah obat hewan yang dapat dipakai pada hewan secara bebas tanpa resep dokter hewan.
Obat dapat digolongkan menjadi beberapa golongan, yaitu:
Berdasarkan Bentuk
a) Kapsul
b) Kaplet
c) Bolus
d) Tablet
e) Suppositoria
f) Unguenta
g) Infus
h) Ekstrak
i) Guttae
j) Galenik
k) Larutan/Cairan (injeksi, sirop, dipping, intra mamaria)
l) Serbuk/Bubuk
m) Salep, topical (kulit, mata)
n) Krim
o) Gas (Spray)

Dalam pemakaian obat ini, peralatan yang akan digunakan harus benar–benar steril, atau disterilisasi dahulu misalnya dengan dengan sabun, disinfektan, dan air hangat untuk kemudian disterilisasikan dengan air panas selama 15—20 menit. Pemberian obat dilakukan antara lain melalui mulut (oral atau per os atau per enteral) dan Parenteral (para enteral), misalnya disuntikkan secara intramuskuler, pada daerah subkutan (bawah kulit), inhalasi, dan melalui vena.

Obat bebas adalah obat yang boleh digunakan tanpa resep dokter (disebut obat OTC = Over The Counter), terdiri atas obat bebas dan obat bebas terbatas. Obat ini biasanya digunakan untuk jenis penyakit ringan dan tidak terlalu b e r b a h a y a . Pe n g g u n a a n o b a t i n i biasanya hanya berdasarkan pengalaman sakit saja tanpa adanya diagnosis dokter.

a. Obat Bebas

Obat bebas merupakan tanda obat yang paling "aman". Obat bebas yaitu obat yang bisa dibeli bebas di apotek bahkan di warung, tanpa resep dokter, ditandai dengan lingkaran hijau bergaris tepi hitam. Obat bebas ini digunakan untuk mengobati gejala penyakit yang ringan. Misalnya vitamin/multivitamin (Livron B Plex).

b. Obat Bebas Terbatas

Obat bebas terbatas (dahulu disebut daftar W) yakni obat-obatan yang dalam jumlah tertentu masih bisa dibeli di apotek tanpa resep dokter, memakai tanda lingkaran biru bergaris tepi hitam. Contohnya, obat antimabuk (Antimo), antiflu (Noza). Pada kemasan obat seperti ini, biasanya tertera peringatan yang bertanda kotak kecil berdasar warna gelap atau kotak putih bergaris tepi hitam, dengan tulisan sebagai berikut.
  • P.No. 1: Awas! Obat keras. Bacalah aturan pemakaiannya.
  • P.No. 2: Awas! Obat keras. Hanya untuk bagian luar dari badan.
  • P.No. 3: Awas! Obat keras. Tidak boleh ditelan.
  • P.No. 4: Awas! Obat keras. Hanya untuk dibakar.
  • P.No. 5: Awas! Obat keras. Obat wasir, jangan ditelan.
3. Vitamin

Vitamin adalah zat katalitik esensial yang tidak dapat disintesis tubuh dalam me t a b o l i sme n y a , s e h i n g g a h a r u s diperoleh dari luar tubuh. Tanpa vitamin manusia, hewan dan makhluk hidup lainnya tidak akan dapat melakukan aktivitas hidup dan kekurangan vitamin dapat memperbesar peluang terkena penyakit pada tubuh kita. Jadi, defisiensi vitamin adalah kekurangan salah satu atau lebih vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh. Sebanyak 13 macam vitamin yang dibutuhkan oleh ayam dikelompokkan dalam vitamin larut lemak dan vitamin larut air.

Vitamin larut lemak terdiri atas vitamin A, D, E, dan K, sedangkan vitamin larut air meliputi thiamin (B1), riboflavin (B2), nicotiniamide (B3), asam pantotenat (B5), piridoksin (B6), biotin (B7), asam folat (B9), sianokobalamin (B12), dan Vitamin C.

Semua vitamin tersebut sangat penting bagi ayam dan harus tercukupi kebutuhannya agar ayam bisa tumbuh dan berproduksi. Sebutir telur yang normal mengandung ketersediaan vitamin yang cukup dan hal inilah yang menjadi alasan bahwa telur sangat baik sebagai sumber vitamin bagi pangan manusia.

Vitamin adalah substansi organik yang sangat penting untuk menjaga kesehatan dan hidup, termasuk untuk produksi maupun reproduksi. Vitamin dibutuhkan dalam jumlah yang sangat kecil dan biasanya diperoleh dari bahan makanan karena tubuh sendiri tidak bisa membuatnya (esensial).

Jenis Vitamin

a. Larut dalam lemak, yaitu vitamin A, D, E, dan K;
b. Larut dalam air, group vitamin B dan C.

Pembagian tersebut sangat penting dilihat dari fungsi dan aplikasi di industri peternakan.
Vitamin larut lemak terutama berhubungan dengan pemeliharaan dan fungsi dari jaringan dan organ tubuh. Pada batasan tertentu, disimpan di dalam hati (A, D, K), sedang vitamin E disimpan di jaringan lemak.

Adapun vitamin larut air secara aktif berpartisipasi dalam proses metabolisme dari tubuh melalui sistem enzim atau bagian dari sistem enzim. Vitamin yang larut dalam air praktis tidak ada simpanan di dalam tubuh sehingga kebutuhan vitamin larut air perlu disuplai secara reguler setiap hari.

4. Disinfektan

Yang dimaksud dengan disinfektansia adalah semua senyawa yang dapat mencegah infeksi dengan jalan penghancuran atau pelarutan jasad renik yang patogen (dapat menyebabkan sakit). Disinfektansia biasanya digunakan untuk barang-barang yang tidak hidup.

Misalnya ruang operasi, kandang, peralatan kandang, dan sebagainya. Desinfeksi merupakan hal yang sangat penting menjaga biosekuriti di area peternakan. Disinfeksi pada peternakan ditunjang adanya fasilitas disinfektan, seperti kolam dipping dan spraying. Ko l a m d i p p i n g d i g u n a k a n u n t u k merendam sepatu bot ataupun roda kendaraan yang akan masuk ke dalam peternakan. Tempat spraying digunakan untuk mendesinfeksi tubuh dari orang yang akan masuk ke dalam wilayah peternakan.

Semua peralatan yang berasal dari luar peternakan hendaknya diisolasikan terlebih dahulu dalam ruangan yang tertutup sempurna selama dua hari. Dalam ruangan i ni , benda-benda tersebut difumigasi. Setelah dilakukan fumigasi, kemudian diuji terhadap kontaminan oleh seorang staf ahli. Penggunaan disinfektan harus memperhatikan kandungan disinfektan tersebut sehingga tidak salah penggunaannya dan sesuai dengan syarat disinfektan yang baik, yaitu aman, efektif, dan efisien.

B. FUNGSI DAN KEGUNAAN VOVD

1. Fungsi Vaksin

Pada dasarnya, setiap makhluk hidup, termasuk ayam, memiliki sistem pertahanan tubuh alami di dalam tubuhnya. Ayam memiliki 2 sistem pertahanan t u b u h , y a i t u p e r t a h a n a n p r i m e r (nonspesifik) dan pertahanan sekunder (spesifik). Pertahanan primer merupakan  pertahanan yang pertama kali bereaksi jika bibit penyakit kontak dengan tubuh.

Pertahanan ini ditunjang oleh struktur anatomi tubuh serta melibatkan proses fisik (contoh adanya gerakan bulu getar pada saluran pernapasan, reaksi batuk, dll.), kimiawi (pengaturan pH dan enzimenzim), dan biologi (antibodi). Adapun p e r t a h a n a n s e k u n d e r d i b e d a k a n menjadi 2, yaitu sistem kekebalan tubuh yang menetap yang diperankan oleh makrofag serta sistem kekebalan tubuh b e r ge ra k ( ke ke b a l a n s e l u l e r d a n humoral/antibodi).

Jika ayam sakit atau menunjukkan gejala sakit, hal itu menjadi pertanda bahwa bibit penyakit telah berhasil menembus benteng pertahanan ayam. Meski di luar tubuh ayam masih ada dua benteng pertahanan seperti lingkungan peternakan dan lingkungan kandang, namun apabila jumlah bibit penyakit yang berhasil menembus benteng sebelumnya sangat banyak dan tingkat keganasannya tinggi, maka kemung-kinkan benteng di dalam tubuh ayam pun akan kalah.

Mengapa vaksinasi sangat penting dilakukan? Vaksinasi ialah tindakan pemberian vaksin atau infeksi buatan yang terkendali untuk menstimulasi pembentukan antibodi yang protektif dan seragam, sesuai dengan jenis vaksin yang diberikan. Fungsinya ialah merangsang pembentukan kekebalan (antibodi) pada tubuh ternak sehingga dapat mencegah infeksi penyakit. Prinsipnya, vaksinasi diberikan terlebih dahulu sebelum terjadinya infeksi lapangan.

Saat ini serangan penyakit sudah menyebar hampir ke seluruh wilayah, baik p e n y a k i t v i r a l m a u p u n p e n y a k i t bakterial. Oleh karena itu, tindakan pencegahan dengan vaksinasi ini sangat perlu dilakukan dengan berbagai pertimbangan seperti:
  • Penyakit viral tidak dapat disembuhkan dengan pemberian obat.
  • Pengendalian terbaik dengan memberikan kekebalan pada ayam.
  • Adanya penyakit bakterial yang jika sudah telanjur menyerang, sulit diberantas secara tuntas sehingga mudah muncul kembali (misalnya korisa).
  • Biaya kesehatan untuk pencegahan lebih murah jika dibandingkan dengan biaya pengobatan/terlanjur terjadi kasus penyakit.
2. Fungsi Obat

Obat bagi ternak berfungsi untuk memulihkan organ tubuh atau pun jaringan tubuh yang rusak. Obat juga dapat diartikan sebagai sesuatu yang dapat memulihkan, sebagai perbaikan, atau pengubahan fungsi organik pada manusia atau hewan. Obat dapat merupakan bahan yang disintesis di dalam tubuh (misalnya hormon dan vitamin D) atau merupakan bahan-bahan kimia yang tidak disintesis di dalam tubuh.

3. Fungsi Vitamin

Defisiensi vitamin adalah kekurangan salah satu atau lebih vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh. Sebanyak 13 macam vitamin yang dibutuhkan oleh ternak dikelompokkan dalam vitamin larut lemak dan vitamin larut air. Vitamin larut lemak terdiri atas vitamin A, D, E, dan K, sedangkan vitamin larut air meliputi thiamin (B1), riboflavin (B2), nicotiniamide (B3), asam pantotenat (B5), piridoksin (B6), biotin (B7), asam folat (B9), sianokobalamin (B12), dan Vitamin C.

Semua vitamin tersebut sangat penting bagi ternak dan harus tercukupi kebutuhannya agar ternak bisa tumbuh dan berproduksi. Sebutir telur yang normal mengandung ketersediaan vitamin yang cukup dan hal inilah yang menjadi alasan bahwa telur sangat baik sebagai sumber vitamin bagi pangan manusia.

Defisiensi Vitamin Larut Dalam Air

a. Vitamin B1 (Thiamin)

Vitamin B1 banyak terdapat pada bagian luar biji-bijian atau biji padipadian. Vitamin B1 juga banyak ditemukan pada produk ragi, daging babi, ikan, dan susu. Thiamin dibutuhkan oleh unggas untuk metabolisme karbohidrat. Defisiensi vitamin B1 ini mengakibatkan polyneuritis yang m e n i m b u l k a n ke l u m p u h a n d a n berakhir dengan kematian ayam.

Defisiensi vitamin tersebut dapat saja terjadi pada bahan baku ransum yang berjamur dan berbau apek (karena terjadi oksidasi kandungan lemak/ minyak). Vitamin B1 mudah terurai pada suhu tinggi dan pada keadaan alkalis. Makanan ayam yang mengandung garam-garam alkalis akan cepat kehilangan vitamin B1 nya.

Gejala yang terlihat akibat kekurangan vitamin ini antara lain anoreksia (kehilangan nafsu makan), diikuti oleh penurunan berat badan, bulu berdiri, kaki lemah, dan langkah kaki tidak teratur. Ayam dewasa kerap kali menunjukkan jengger yang berwarna biru. Jika defisiensi berlangsung lebih lanjut, maka akan terlihat adanya paralisis pada otot yang diawali dengan menekuknya jari, kemudian diikuti oleh paralisis otot ekstensor pada kaki, sayap, dan leher. 

Ayam akan segera kehilangan kemampuan untuk berdiri atau hanya duduk tegak dan jatuh ke lantai dan terbaring dengan kepala yang meregang. Ayam yang menderita defisiensi vitamin B1 dapat mengalami penurunan temperatur tubuh sampai 35,6° C.

b. Vitamin B2 (ribovlavin)
Ayam Mengalami Curly-Toe Paralysis Akibat Defisiensi Vitamin B2

Curly-Toe Paralysis
Gejala defisiensi vitamin B2 di antaranya terjadi curly-toe paralysis, pertumbuhan lambat, dan penurunan jumlah produksi telur.

Sumber dari vitamin B2 (riboflavin) adalah keju, susu, telur, sayur-sayuran segar, daging, dan leguminosa. Gejala defisiensi riboflavin di antaranya pertumbuhan terganggu (vitamin ini esensial untuk nonruminansia dan ruminansia umur < 4 minggu), bentuk abnormal dari fetus, penetesan telur terganggu, bisa terjadi kematian atau kekerdilan anak ayam.

Suatu penyakit pada anak-anak ayam dan kadang kala pada anak-anak kalkun akibat kekurangan riboflavin dalam ransum. Ayam yang terserang tidak dapat berjalan; bila dipaksa maka ayam berjalan pada siku-sikunya dengan jari-jari kaki dibengkokkan ke dalam, sayap tergantung ke bawah, otot kaki lemah, dan kulit kering adalah gejala-gejala lain yang dapat dijumpai pada defisiensi riboflavin.

c. Vitamin B3 (niasin)

Sumber niasin adalah protein yang mengandung banyak triptopan seperti daging, buah-buahan, yang mengandung asam nikotinat, susu, dan sayuran berdaun. Kebutuhan niasin itu sendiri pada babi dan unggas berbeda. Misalnya babi dengan berat badan 5—10 kg membutuhkan 22 mg/kg ransum sama dengan babi yang sedang bunting. Babi dengan berat badan 10—2 kg membutuhkan 18 m g / k g r a n s u m . A y a m b r o i l e r diperkirakan 27 mg/kg ransum, dan ayam layer membutuhkan sekitar 10 mg/kg ransum.

d. Vitamin B6 (piridoksin)

Vitamin B6 (Piridoksin) meliputi grup yang terdiri atas tiga senyawa yang berhubungan berdekatan, yaitu piridoksin, piridoksal, dan piridoksamin. Piridoksin merupakan komponen terbesar dalam produk-produk berasal tumbuh-tumbuhan.

Vitamin B6 mempunyai peranan dalam mengkonversi triptofan ke derivat niasin dan mengambil bagian dalam interkonversi asam lemak esensial. Sebagian besar butir-butiran dan konsentrat protein merupakan sumber piridoksin.

Biji-bijian, bungkil kedelai, ragi, dan protein hewan merupakan sumber piridoksin. Ransum rata-rata cukup mengandung vitamin tersebut. Kebutuhan vitamin B6 pada ayam petelur yaitu sebanyak 3,0—4,5 mg/kg ransum, pada ayam broiler sekitar 2,5—3 mg/kg ransum, sedangkan pada babi kebutuhan vitamin B6 sebesar 1 , 1—1 , 5 mg / kg ra n s um.

G e j a l a defesiensi vitamin B6 pada ayam yaitu terjadi gejala gangguan pertumbuhan, anemia, pembekuan darah lambat, dan konvulsi seperti gejala ND ,khususnya pada ayam muda, sedangkan pada ayam tua jarang terjadi. Pada ayam petelur, defesiensi vitamin B6 menyebabkan penurunan produksi telur dan daya tetes rendah. Pada burung, terjadi dermatitis dengan gejala pertumbuhan lambat, ada kutil di jari-jari dan kaki, gemetaran, gerakan badan tak terkoordinasi.

e. Vitamin B12 (kobalamin)

Kobalamin adalah vitamin yang mengandung kobalt yang berada dalam bentuk derivat "cyanide" yaitu "cyanocobalamin". Cyanide dapat diganti dengan gugus hidroksil (B12a) atau hidrokobalamin dan juga gugus nitrit (B12c) atau nitrokobalamin.

Vitamin B12 berfungsi dalam sintesa protein dan dalam metabolisme asam nukleat serta senyawa-senyawa yang mengandung satu atom C. Vitamin B12 banyak terdapat pada produk-produk hewan dan dalam rumen ruminansia serta jaringan organ.

Vitamin B12 dibutuhkan relatif sedikit oleh unggas. Pada babi sebesar 3μg/kg ransum, pada ayam broiler sebesar 9 μg/kg ransum, dan pada ayam layer sebsear 3 μm/kg ransum.
Adapun beberapa gejala umum defesiensi vitamin B12 yaitu:
1) Terjadinya gangguan saraf
2) Pertumbuhan terganggu atau lambat
3) Inkoordinasi badan
4) Daya tetas telur rendah
5) Terjadinya anemia
6) Gangguan reproduksi pada babi

f. Asam Panthotenat (B5)

Kebutuhan asam pathotenat pada babi 7—10 mg/kg, tergantung berat badannya atau 11—16 mg/kg ransum. Pada ayam petelur ± 10 mg/kg ransum, pada broiler ±mg/kg ransum, dan pada ikan 30—40 mg/ton ransum.

Gejala Defesiensi Vitamin B5 pada Babi
1) Pertumbuhan lambat
2) Diare
3) Bulu rontok
4) Kulit bersisik
5) Cara jalan seperti angsa
6) Gerakan yang sulit terkoordinasi pada babi muda karena degenerasi saraf.

Gejala Defesiensi Vitamin B5 pada Ayam
1) Mula-mula terjadi gangguan pertumbuhan
2) Dermatitis dan pembengkakan pada kelopak mata
3) Nekrosis pada bursa fabrisius dan thymus
4) Penurunan daya tetas telur

g. Biotin

Biotin adalah derivat imidazol yang banyak terdapat dalam bahan makanan alam. Vitamin ini berwarna putih, stabil terhadap panas, mengandung sulfur, dan asam valerat, larut dalam air dan 95% etanol, mudah rusak oleh asam dan basa kuat dan mengalami dekomposisi pada temperature 2320 C.Dalam metabolisme, biotin berperan sebagai fiksasi CO2 yang selanjutnya ditransfer substrat yang lain. Sumber biotin adalah hati, yeast, kacang tanah, telur, tanaman berdaun hijau, jagung, gandum, biji-bijian lainnya, dan ikan.

Kebutuhan biotin pada broiler yaitu 300—500 mcg/kg ransum.

Defisiensi biotin dapat menyebabkan rontoknya rambut, turunnya berat badan dan pada ayam meningkatnya kematian serta terjadinya perubahanperubahan skeletal pada anak-anak ayam.

Defisensi ini juga menyebabkan dermatitis pada kaki lalu paruh dan mata. Yang paling sering terkena adalah ayam broiler, yaitu terjadinya sindrom liver fatty (FLKS atau Fatty Liver and Kidney Syndrome). Kejadian ini disebabkan karena kurang aktifnya pirivat dikarboksilase yang berperan d a l a m g l u k o n e o g e n e s i s ( j a d i pembentukan glukosa dari piruvat terhambat).

h. Vitamin C (asam karbonat)

Vitamin C mempunyai dua bentuk, y a i t u b e n t u k o k s i d a s i ( b e n t u k dehydro) dan bentuk reduksi. Kedua bentuk ini mempunyai aktivitas biologi. Dalam makanan bentuk reduksi yang terbanyak. Bentuk dehydro dapat terus teroksidasi menjadi diketogulonic acid yang inaktif.

Keadaan vitamin C inaktif ini sering terjadi pada proses pemanasan. Dalam suasana asam, vitamin ini lebih stabil daripada dalam basa yang menjadi inaktif. Formula vitamin C mirip dengan glukosa. Ayam atau spesies unggas dapat mensintesis vitamin C dalam ginjal.
Oleh karena itu, kebanyakan ahli berpendapat bahwa ayam tidak perludiberi tambahan vitamin C.

Begitupun pada babi jarang sekali terjadi defisiensi vitamin C. Adapun sumber dari vitamin C adalah buah jeruk, tomat, semangka, sayuran hijau, dan masih banyak lainnya.

Defisiensi vitamin C dapat menyebabkan "scurvy". Gejala ini berkaitan dengan kebutuhan vitamin C guna sintesa kolagen. Oleh karena itu, patologinya akan berkaitan dengan melemahnya pembuluh darah dan kapiler bed (yang cenderung menimbulkan perdarahan), ulserari dan lambatnya penyembuhan luka, serta perubahan-perubahan pada gigi dan gusi, pertumbuhan tulang terhambat dan lambatnya kesembuhan keretakan tulang. Vitamin C hanya dibutuhkan oleh manusia, monyet, dan marmut dan tidak berperan penting bagi unggas.

i. Vitamin A (Retinoid)

Vitamin A adalah nama generik yang menunjukkan semua senyawa selain karotenoid yang memperlihatkan aktivitas biologi retinol. Vitamin A adalah suatu alkohol biokimia, suatu retinol, dan terdapat sebagai vitamin A1, di dalam hewan vertebrata tingkat tinggi dan ikan dari air asin (laut). Adapun vitamin A2 terutama terdapat pada ikan-ikan air tawar. Pada produk hewan, vitamin A makanan terdapat sebagai asam lemak berantai panjang atau ester retinol. Setiap ternak perlu vitamin A.

j. Vitamin E (α-tokoferol)

Vitamin E (tokoferol) adalah minyak yang terdapat pada tumbuh-tumbuhan, khususnya benih gandum, beras, dan biji kapas. Terdapat tiga jenis vitamin E, yaitu tokoferol. Vitamin E juga berfungsi sebagai antioksidan, yaitu mencegah oksidasi pada asamasam lemak tak jenuh serta menghambat timbulnya peroksidasi dari lipida pada membran sel.

Selain itu juga berfungsi dalam reaksi fosforilasi, metabolisme asam nukleat, sintesis asam askorbat dan sintesis ubiquinon, reproduksi, mencegah encephalomalasia, dan distorsi otot.

Vitamin E terdapat di alam, yaitu pada l e m a k d a n m i n y a k h ew a n a t a u tanaman terutama bagian kecambah gandum, telur, dan colustrum susu sapi. Vitamin E juga berperan dalam sistem kekebalan tubuh ayam. Kerja vitamin E sangat berhubungan dengan kerja mineral selenium (Se). Kerusakan vitamin E dalam ransum bisa dihindari melalui manajemen penyimpanan ransum yang baik.

Defisiensi vitamin E dapat menyebabkan degenerasi epitel germinal pada hewan jantan serta resorpsi embrio pada hewan betina (pada mamalia) yang tergantung pada vitamin E.

D ef i s i e n s i v i t ami n E s e r i n g ka l i berkomplikasi dengan jenis penyakit lain seperti penyakit avian encephalomyelitis, exudative diathesis dan muscular dystrophy.

k. Vitamin K (Filokinon)

Vitamin K juga sangat diperlukan oleh tubuh karena Vitamin K berperan dalam proses pembekuan darah. Sumber dari vitamin K yaitu minyak sayuran, sayur-sauyran hijau, dan kulit gandum. Ruminansia dalam rumen banyak disentesis vitamin K, sedangkan pada nonruminansia dalam usus besar disentesis vitamin K, namun tidak bisa diserap.

Kebutuhan vitamin K pada hewan di antaranya:

1) Ayam starter: 0,53 mg/kg ransum
2) Layer dan broiler: 2,2 mg/kg ransum
3) Babi: ± 5mg/kg ransum
Contoh kasus defisiensi vitamin K pada ayam ialah terjadinya perdarahan di otot daging dan lamanya waktu penutupan luka ketika ayam mengalami luka/perdarahan. Umum terjadi karena sindroma malabsorpsi lemak yang berhubungan dengan disfungsi pancreas, atropi mukosa usus.
4. Fungsi Disinfektan

Disinfektan dapat diartikan sebagai bahan kimia yang dapat digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi atau pencemaran jasad renik seperti bakteri dan virus, dapat juga untuk membunuh atau menurunkan jumlah mikroorganisme atau kuman penyakit lainnya.

Bahan disinfektan dapat digunakan untuk proses desinfeksi tangan, lantai, ruangan, peralatan. Disinfektan yang tidak berbahaya bagi permukaan tubuh dapat digunakan dan bahan ini dinamakan antiseptik

Fungsi Disinfektan
a. Mencegah terjadinya infeksi silang
b. Mempertahankan peralatan dalam keadaan siap pakai

C. PENGGUNAAN VOVD

1. Penggunaan Vaksin

Salah satu usaha guna mencegah terjadinya penularan penyakit adalah dengan vaksinasi. Berikut adalah beberapa metode vaksinasi yang umum dilakukan pada ternak.

a. Vaksinasi melalui campuran air minum

Cara penggunaan:

Perhatikan jenis/tipe strain vaksin, jumlah ternak, umur ternak, pelarut (air minum), tempat atau wadah air minum. Air minum yang telah dicampur vaksin harus habis pada hari itu juga. Amati apakah konsumsi air minum oleh ternak merata atau tidak. Akan lebih baik, sebelum divaksin, ternak dipuasakan terlebih dulu.

b. Vaksinasi melalui tetes mata dan tetes hidung
Vaksinasi Lewat Tetes Mata

Vaksin Oral (Lewat Mulut)


Vaksin Tetes Hidung
Cara penggunaan:
Dilakukan pada anak ayam d itempat penetasan atau pada masa brooding (masa penghangatan) di kandang. Perhatikan jenis/tipe strain vaksin. Vaksin dilarutkan sesuai dengan konsentrasi dan dosis yang disyaratkan vaksin, vaksin harus benar-benar mengenai mukosa mata atau hidung.

Pelarut dituangkan ke dalam botol vaksin sehingga terisi 2/3 dari botol tersebut. Botol lalu ditutup dan dikocok sampai rata (homogen) dengan cara digoyangkan dengan arah seperti angka delapan. Selanjutnya, teteskan vaksin pada mucosa mata atau hidung 1 dosis/ekor sesuai dengan konsentrasi. Biasanya satu ekor ayam ditetesi sekali tetes dengan dosis kurang lebih 2 ml.

Ayam yang telah divaksin, bila paruh dibuka, akan terlihat biru sesuai dengan warna pelarut yang digunakan.

c. Vaksinasi intramuscular

Cara penggunaan:
Vaksinasi Intramuscular
Perhatikan cara pegang ternak, perhatikan jenis dan atau tipe strain vaksin, dosis serta pengenceran. Jika memungkinkan 1 dosis setara dengan 1 ml pelarut sehingga memudahkan dalam teknik penyuntikan. Perhatikan arah dan posisi jarum suntik (sejajar dengan arah serabut otot dengan kemiringan sekitar 45—69􀀀. Otot tempat penusukan arah adalah pada bagian dada.

Untuk vaksin jenis live caranya:
Aquades dituangkan dalam botol vaksin sebanyak 2/3 bagian dari botol vaksin tersebut. Lalu ditutup dan dikocok sampai homogen. Larutan vaksin dituang ke dalam botol yang masih berisi sisa aquades (pelarut) lalu ditutup dan dikocok sampai homogen.

Botol vaksin dibilas 1—2 kali. Untuk vaksin jenis kill yang disuntikkan pada dada atau paha, caranya sebagai berikut: sebelum vaksin dipakai dikocok terlebih dahulu. Setelah homogen, vaksin tersebut disuntikkan dengan dosis yang sesuai.

d. Vaksin subcutan

Cara penggunaan:
Perhatikan cara memegang ternak. Perhatikan jenis atau tipe strain vaksin, dosis serta pengenceran. Ayam dipegang pada kulit, daerah pertengahan belakang leher diangkat. Jarum penyuntik ditusukkan dari arah kepala ke arah tubuh. Hindari menusuk otot saraf dan tulang daerah leher. Tempat memasukkan vaksin secara subcutan adalah pada daerah belakang leher.
Vaksinasi Subcutan pada Ternak Ayam

e. Vaksinasi Melalui Sayap (Wing Web)
Vaksinasi Wing Web
Cara penggunaan:
Perhatikan cara memegang ternak, jenis atau tipe strain vaksin, dosis, serta pengenceran. Pelarut (khusus untuk jenis tersebut) dituangkan dalam botol vaksin sehingga terisi 2/3 bagian botol, lalu ditutup dan dikocok sampai homogen.

Larutan vaksin dituangkan dalam pelarut, lalu botol ditutup dan dikocok rata. Jarum penusuk yang sudah disiapkan dicelupkan ke dalam larutan vaksin. Lipatan sayap ditusuk dari arah sebelah dalam ke arah luar smpai tembus, hati-hati jangan sampai menusuk pembuluh darah, tulang, dan otot (daging) ayam.

f. Vaksinasi dengan Cara Spray
Vaksinasi dengan Cara Spray
Vaksinasi cara ini sering dilakukan pada pascapenetasan, pada ruangan, atau mesin penetas secara massal dengan cara disemprotkan pada anak ayam umur sehari.

2. Penggunaan Obat

Apapun yang ada di dunia, jika tidak ditangani dengan baik, maka akan cepat rusak. Obat yang menggunakan label kedaluwarsa jika tidak ditangani dengan baik, maka akan rusak sebelum masa waktu penyimpanan. Perusahaan selalu mencantumkan label tata cara penyimpanan tujuan ini tiada lain adalah untuk memperpanjang daya simpan obat.

Masa penyimpanan semua jenis obat mempunyai batas waktu, karena lambat laun obat akan terurai secara kimiawi akibat pengaruh cahaya, udara, dan suhu. Akhirnya khasiat obat akan berkurang. Tanda-tanda kerusakan obat kadang kala tampak dengan jelas, misalnya bila larutan bening menjadi keruh dan bila warna suatu krim berubah tidak seperti awalnya atau berjamur.

Contoh pananganan cara penyimpanan, misalnya disimpan pada tempat yang teduh, tidak terkena cahaya matahari langsung. Jangan menggunakan gancu, jangan dibanting, tutup kembali setelah pemakaian, jangan diposisikan roboh, dan lain-lain.

Aturan Penyimpanan
Guna memperlambat penguraian, maka semua obat sebaiknya disimpan di tempat yang sejuk dalam wadah asli dan terlindung dari lembab dan cahaya. Hendaknya disimpan di suatu tempat yang tidak bisa dicapai oleh anak, agar jangan dikira sebagai permen berhubung bentuk dan warnanya kerap kali sangat menarik. Obat-obat tertentu harus disimpan di lemari es dan persyaratan ini selalu dicantumkan pada bungkusnya, misalnya insulin.

Lama Penyimpanan Obat
Masa penyimpanan obat tergantung dari kandungan dan cara menyimpannya. Obat yang mengandung cairan paling cepat terurainya karena bakteri dan jamur dapat tumbuh baik di lingkungan lembab. Maka itu terutama obat tetes mata, kuping dan hidung, larutan, sirup, dan salep yang mengandung air atau krim sangat terbatas jangka waktu kedaluwarsanya.

Pada obat-obat biasanya ada kandungan zat pengawet yang dapat merintangi pertumbuhan kuman dan jamur. Akan tetapi, bila wadah sudah dibuka, maka zat pengawet pun tidak dapat menghindarkan
rusaknya obat secara keseluruhan.

Apalagi bila wadah sering dibuka-tutup. misal obat tetes mata, atau mungkin bersentuhan dengan bagian tubuh yang sakit, misal pipet tetes mata, hidung, atau telinga. Oleh karena itu, obat hendaknya diperlakukan dengan hati-hati, yaitu setelah digunakan, wadah obat perlu ditutup kembali dengan baik, juga membersihkan pipet/sendok ukur dan mengeringkannya.

Di negara maju, pada setiap kemasan obat harus tercantum bagaimana cara menyimpan obat dan tanggal kedaluwarsanya, diharapkan bahwa di kemudian hari persyaratan ini juga akan dijalankan di Indonesia secara menyeluruh. Akan tetapi, bila kemasan aslinya sudah dibuka, maka tanggal kedaluwarsa tersebut tidak berlaku lagi.

Dalam daftar di bawah ini, diberikan ringkasan dari jangka waktu penyimpanan dari sejumlah obat bila kemasannya sudah dibuka. Angka ini hanya merupakan pedoman saja, dan hanya berlaku bila obat disimpan menurut petunjuk yang tertera dalam aturan pakai.

Tabel 6.1 Jangka Waktu Penyimpanan Obat

Metode Penyuntikan pada Ternak

a. Penyuntikan intramuskuler

Suntik ke dalam otot utama ternak. Sebaiknya gunakan jarum ukuran 18 gauge, 2,5—4 cm. Tusukkan langsung ke dalam otot. Sebelum memasukkan obat, jangan sampai ada gelembung udara pada alat suntik (spuit/syringe).

Untuk menghilangkannya, dengan semprotkan jarum ke udara sampai larutan keluar dari jarum. Perhatikan suntikan jangan sampai mengenai pembuluh darah, untuk meyakinkan, tariklah sedikit pengisap.

b. Penyuntikkan Subcutan (bawah kulit) 

Suntikan di bawah kulit umumnya dilakukan pada daerah leher atau belakang bahu. Biasanya jarum 1—2,5 cm disisipkan menyudut lewat kulit. Agar tidak menusuk jari kita, tariklah kulit dengan jari-jari kita, sisipkan jarum lewat kulit sambil mengarahkan ujungnya menjauhi jari kita.

c. Penyuntikan Intravena

Cara ini adalah yang paling berbahaya sehingga pelaksanaannya harus hatihati dan terus menerus memperhatikan denyut jantung. Lokasi penyuntikan biasanya di vena jugularis (vena leher) yang terletak pada pangkal leher. Gunakan jarum ukuran 18 gauge, penyuntikan dilakukan secara pelanpelan. Di antara ketiga cara, penyuntikan yang b i a s a d i g u n a k a n a d a l a h i n j e k s i intramuskular karena caranya mudah dan efek sampingnya relatif kecil.

Pengetahuan yang Diperlukan dalam Melakukan Pengobatan pada Ternak Sebagaimana telah disinggung di muka, bahwa melakukan diagnosis suatu penyakit ternak merupakan bidang kerja petugas kesehatan hewan (veterinarian). Untuk melakukan diagnosis, diperlukan alat-alat khusus dan tes laboratorium.

Walaupun demikian, peternak yang sudah berpengalaman biasanya dapat mendiagnosis beberapa penyakit yang sifatnya umum diderita ternak. Peternak dituntut untuk selalu belajar dan berusaha melakukan penanganan/ pertolongan awal terhadap ternak sakit.

Kapan petugas kesehatan dihubungi?
Hal tersebut tergantung pada keseriusan masalah serta ketidakmampuan peternak untuk mengatasinya. Peternak hendaknya segera menghubungi petugas kesehatan hewan, bilamana:
1. Ada ternak yang mati, sementara peternak tidak mengetahui penyebabnya
2. Ternak sakit dengan temperatur yang tinggi
3. Ternak tidak mau makan lebih dari sehari
4. Ternak jatuh atau berbaring, tetapi tidak dapat berdiri lagi
5. Ternak mendapat kesulitan/kelainan dalam melahirkan
6. Ternak menderita penyakit menular
7. Nafsu makan baik, tetapi pertumbuhannya lambat.
Agar peternak menghemat biaya dan petugas kesehatan menghemat waktu, peternak perlu mempersiapkan segala sesuatu yang mungkin dibutuhkan, untuk memperlancar proses pengobatan ternak oleh petugas. Peternak hendaknya telah memiliki beberapa bahan atau perlengkapan yang biasa digunakan, seperti tali tambang, tali halter, ember, kain lap bersih, air hangat/panas, dan lain-lain. Tali tambang, tali halter, serta pencocok hidung diperlukan untuk mempermudah perlakuan pada ternak, seperti terlihat pada gambar berikut.
Gambar 6.10 Penggunaan Halter dan Pencocok Hidung untuk Mempermudah Penangan Ternak

Ketika petugas melakukan pengobatan, hendaknya peternak dapat menungguinya.

Hal ini dimaksudkan untuk:
  • Siap membantu petugas bila diperlukan
  • Menjawab pertanyaan-pertanyaan petugas berkenaan dengan ternak yang sakit, untuk mempermudah diagnosis
  • Memperoleh informasi/rekomendasi yang banyak dari petugas, guna perawatan ternak lebih lanjut. 
Dalam kasus-kasus tertentu, saat tidak memungkinkan untuk menghubungi petugas kesehatan, peternak dapat melakukan pengobatan sementara penyakit-penyakit umum dengan tetap memperhatikan prosedur dan teknik pengobatan yang benar dan aman. Hal tersebut perlu diperhatikan, mengingat bahwa obat-obatan sangat berguna bagi ternak, tetapi juga dapat membahayakan bila tidak digunakan secara benar sesuai petunjuk penggunaannya.
Berikut Beberapa Tips Penggunaan Obat- Obatan pada Ternak
  • Perhatikan dan baca secara teliti keterangan berikut petunjuk penggunaan yang tertera pada label setiap kemasan obat.
  • Tidak menggunakan obat-obatan yang sudah habis masa berlakunya (kedaluwarsa).
  • Gunakan obat hanya untuk spesiesspesies ternak sebagaimana yang direkomendasikan pada label.
  • Tidak mencampur beberapa obat jadi satu tanpa rekomendasi petugas kesehatan.
  • Menggunakan obat sesuai dosis yang ditentukan
  • Aplikasikan obat sesuai petunjuknya, misalnya yang seharusnya melalui injeksi jangan diberikan melalui oral atau sebaliknya.
  • Ketika melakukan injeksi, pilih alat suntik/jarum yang sesuai.
Pemberian obat pada ternak dapat dilakukan dengan beberapa cara. Cara mana yang akan diterapkan, keterangan biasanya sudah tertera pada label kemasan obat. Metode yang digunakan antara lain melalui mulut (cara oral), melalui penyuntikan (injeksi), atau melalui infus. 

Adapun untuk obat luar, d a p a t d i a p l i k a s i k a n d e n g a n c a ra dioleskan, dengan cara spray/semprot, atau dengan cara pencelupan (dipping). Obat yang diberikan melalui mulut dapat berupa pil/kapsul, cairan/larutan atau tepung/serbuk. Beberapa alat dapat digunakan.

Untuk memudahkan pemberian obat melalui mulut, misalnya alat pencekok (drenching gun) dan alat pendorong pil/kapsul (balling gun). 
Gambar 6.11 Pemberian Obat Melalui Mulut dengan Balling Gun

Pemberian obat secara injeksi/penyuntikan dapat dilaksanakan kedalam urat daging (intramuscular/IM), di bawah kulit (subcutaneous/SC), ke dalam pembuluh darah vena (intravenous/IV), ke dalam ambing (intramammary/IMM).

Alat injeksi/suntik yang digunakan hendaknya disesuaikan dengan maksud pengobatan. Sebelum digunakan untuk pengobatan, alat-alat harus disterilisasi lebih dahulu, misalnya dengan sabun, disinfektan, dan air hangat/air panas.

Penyuntikan secara intramuskuler, sebaiknya menggunakan jarum ukuran 18 gauge, 2,5—4 cm. Ditusukkan langsung ke dalam otot/ urat daging pada bagian dada atau paha.

Penyuntikan secara subkutan umumnya dilakukan pada daerah leher atau belakang pundak. Jarum yang digunakan ukuran 1—2,5cm yang disisipkan menyudut lewat kulit.
Gambar 6.12 Pengobatan dengan Injeksi, Intramuskuler (A), dan Subcutan (B)

Penyuntikan secara intravena biasanya dilakukan pada vena bagian leher (vena jugularis). Penyuntikan dilakukan secara pelan-pelan menggunakan jarum ukuran 18 gauge. Lilitkan tali pada pangkal leher sedemikian sehingga mempermudah mendapatkan vena jugularis. Pastikan darah tidak masuk ke dalam alat suntik. Penyuntikan secara intramammary dilakukan dengan alat suntik khusus, diaplikasikan pada ambing melalui lubang puting.
Gambar 6.13 Pengobatan dengan Injeksi, Intravena (A), dan Intramammary (B)

3. Penggunaan Vitamin

Apabila kita perhatikan dengan teliti, level vitamin yang ditambahkan pada pakan dan/atau air minum ternak di dunia ini, maka terlihat suatu variasi yang besar sekali antara negara yang satu dengan negara yang lain untuk ternak yang sama, bahkan antara peternakan yang satu dengan yang lain dan antara ahli yang satu dengan ahli yang lain, dsb.

Perbedaan tersebut bisa dimengerti mengingat kondisi produksi secara komersil terdapat beberapa faktor yang akan menyebabkan kekurangan suplai vitamin dan termasuk juga faktor yang mempengaruhi respons hewan ternak terhadap vitamin.

Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Perbedaan Kebutuhan Vitamin
  • Least Cost Formulation (LCF) seringkali harus mengurangi atau mengeluarkan beberapa bahan baku pakan ternak yang kaya akan kadar vitamin;
  • kandungan yang bervariasi dan bioavailabilitas dari berbagai vitamin yang terdapat di dalam bahan baku pakan;
  • adanya vitamin antagonis dalam bahan baku pakan atau dari sumber lainnya;
  • variasi lingkungan atau perbedaan heat index (HI) lingkungan dan kondisi manajemen;
  • perbedaan sistem pemeliharaan ekstensif, semi intensif dan intensif;
  • adanya program pembatasan pakan;
  • perbaikan genetik ternak;
  • pengaruh stres dan penyakit.
Dalam nutrisi hewan, pengertian kebutuhan vitamin yang minimum (minimum requirement) dan kebutuhan vitamin yang optimum (optimum allowance), sering salah dimengerti atau salah penafsiran.

Kebutuhan Minimum
Jumlah vitamin yang dibutuhkan oleh hewan untuk mencegah timbulnya gejala defisiensi dan memungkinkan untuk pertumbuhan dan reproduksi yang normal

Kebutuhan Optimum
Jumlah vitamin yang dibutuhkan oleh hewan untuk produksi maksimum dan untuk menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh yang optimum. Jumlah vitamin yang dibutuhkan tersebut ialah untuk mengkompensasi faktor-faktor yang mempengaruhi respons hewan terhadap vitamin beserta yang menyebabkan kekurangan supai vitamin. Konsep atau hubungan antara kebutuhan vitamin minimum dan optimum telah ditetapkan oleh NRC (National Research Council) USA untuk semua jenis vitamin.

SUMBER VITAMIN BAGI TERNAK

a. Bahan baku pakan;
b. Sintesa oleh mikroba saluran pencernaan;
c. Feed supplement sintetik.

Vitamin pada bahan baku pakan tidak dapat dipegang sebagai patokan karena variasinya sangat besar, cepat rusak, dan bio-availabilitas-nya juga sangat bervariasi.

Sintesa oleh mikroba di dalam saluran pencernaan dapat diperhitungkan untuk hewan ruminansia (untuk vitamin B group saja), sedangkan pada unggas dan babi sintesa vitamin di dalam usus relatif terbatas jumlahnya.

Supplementasi preparat multivitamin p a d a h ew a n t e r n a k m e m e g a n g peranan yang sangat penting dan bisa dipakai sebagai patokan untuk industri peternakan karena dosisnya tepat, vitaminnya lebih stabil dan bioavailabilitas- nya mendekati 100%.
METODE PEMBERIAN VITAMIN Melalui:
a. Pakan;
b. Air minum;
c. Injeksi.

Suplementasi (tambahan) Vitamin Lewat Air Minum
Pada kondisi peternakan komersil biasanya ditambahkan multivitamin melalui air minum untuk hewan ternak selain lewat pakan.

Ekstrasuplementasi melalui air minum ini dapat dipertanggung-jawabkan karena beberapa faktor sebagai berikut.
a. Hewan ternak seringkali tidak mendapat vitamin yang cukup melalui pakan karena cara mencampur yang tidak benar dan/atau kadar vitamin dalam bahan baku terbatas;
b. Pada banyak kasus stres dan sakit, nafsu makan turun dengan drastis, mikrosaat- saat tersebut hewan ternak membutuhkan vitamin lebih banyak.

Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Kebutuhan Vitamin yang Meningkat pada Hewan Ternak
a. Cepatnya pertumbuhan;
b. Produksi tinggi (daging, susu, telur);
c. Kandang sempit (pemeliharaan sistem intensif);
d. Perubahan formulasi pakan secara mendadak;
e. Pindah kandang/transportasi;
f. Kandang dan lingkungan yang tidak sesuai;
g. Stres fisiologis tertentu (ganti bulu);
h. Infeksi virus dan kuman, dll;
i. Pengobatan (anticacing, aplikasi vaksin);
j. Takut dan/atau terkejut.

BIAYA VITAMIN UNTUK HEWAN TERNAK

Pada umumnya, para ahli nutrisi lebih banyak membahas biaya penggunaan vitamin dalam pakan saja dan sering melupakan vitamin melalui air minum.

Pada pakan ayam broiler/babi, vitamin hanya mengkonstitusi ± 33% dari seluruh jumlah bahan baku pakan dan mengambil bagian ± 0,08% dari total berat pakan yang biayanya diperkirakan hanya 2% dari seluruh biaya pakan.

Pada pakan sapi, vitamin A, D₃, dan E mengkonstitusi kurang dari 33% dari seluruh jumlah bahan baku pakan dan mempresentasikan ± 0,00014% dari total bobot pakan dengan biaya hanya sekitar 0,3% dari seluruh biaya pakan.

Bila dibandingkan, biaya vitamin dalam pakan, maka biaya tambahan vitamin melalui air minum bisa dikatakan ekstra kecil, tetapi dapat dikatakan tambahan biaya untuk asuransi premium.

4. Penggunaan Disinfektan

Adapun teknik mengaplikasikan desinfektansia meliputi:
a. Oles;
b. Spraying (semprot);
c. Dipping (rendam);
d. Spraying dan Dipping (semprot, sekaligus rendam);
Disinfekatan yang baik harus memiliki beberapa sifat, yakni:
a. Antiseptika harus memiliki sifat antibakterial yang luas;
b. Tidak mengiritasi jaringan hewan atau manusia;
c. Sifat meracunnya rendah, mempunyai daya tembus yang tinggi;
d. Masih aktif meskipun di sekitarnya ada jaringan tubuh, darah, nanah, dan jaringan yang mati;
e. Tidak mengganggu proses kesembuhan;
f. Tidak merusak alat-alat operasi, lantai kandang dan dinding kandang;
g. Tidak menyebabkan warna yang mengganggu pada jaringan yang dioperasi;
h. harganya relatif murah.

Kebutuhan Bahan untuk Sanitasi dan Dosis
Keberhasilan dalam kegiatan sanitasi kandang dan peralatan sangat ditentukan oleh disinfektan yang digunakan dan ketepatan dalam menentukan dosisnya.

Dosis dari masing-masing disinfektan berbeda-beda tergantung dari merek dan produsennya. Semakin tepat dalam memilih disinfektan dan dosis dalam pelaksanaan sanitasi kandang dan peralatan, maka semakin baik pula disinfektan tersebut dalam menekan pertumbuhan dan perkembangan mikro organisme sebagai pembawa penyakit tersebut.

Berikut adalah contoh beberapa disinfektan yang dapat dipergunakan untuk kegiatan sanitasi kandang dan peralatan serta sarana kandang pendukung lainnya.
Tabel 6.2 Contoh Pemakaian Bahan Sanitasi Disinfektan pada Kandang dan Peralatan Sanitasi Kandang dan Peralatan Prosedur Sanitasi

Dalam rangka mempersiapkan kandang dan peralatan untuk kegiatan agribisnis ternak ruminansia perah (pemerahan sapi, kerbau, ternak, dan kambing), maka kandang dan peralatan tersebut perlu dilakukan sanitasi sebelum dipergunakan.

Agar pelaksanaan kegiatan sanitasi dapat berjalan dan berhasil optimal, maka perlu adanya prosedur yang benar. Prosedur adalah suatu pedoman atau panduan dalam melakukan tahapantahapan kegiatan sanitasi kandang dan peralatan, sehingga akan diperoleh suatu hasil yang optimal.

1) Penentuan Sasaran
Penentuan sasaran adalah penentuan tempat atau benda yang akan disanitasi. Tentukan sasaran yang akan disanitasi. Kalau yang akan disanitasi adalah kandang, peralatan, dan sarana pendukung kandang, maka yang perlu dipertimbangkan adalah berapa luas kandangnya, berapa jumlah peralatan kandang, berapa jumlah sarana pendukung kandangnya, dan berapa luas area lingkungan kandangnya, dan lain sebagainya.
Gambar 6.14 Sanitasi Peralatan Kandang

2) Pemilihan Bahan Sanitasi
Dalam pemilihan bahan untuk sanitasi kandang, peralatan, dan lingkungan peternakan, yang perlu dipertimbangkan adalah:
  1. Efektif, karena tujuan dari sanitasi kandang, peralatan, dan lingkungan peternakan adalah untuk mencegah terjadinya serangan suatu penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri, protozoa, jamur/ parasit. Maka dalam memilih bahan untuk sanitasi pilihlah bahan sanitasi yang mempunyai sifat efektif dalam membasmi virus, bakteri, protozoa, dan jamur/ parasit.
  2. Harga murah, pilihlah bahan untuk sanitasi kandang dan perlengkapan yang mempunyai harga murah, akan tetapi mempunyai daya kasiat yang tinggi dalam memberantas atau membunuh mikroorganisme pembawa penyakit. Karena kalau bahan untuk sanitasi tersebut harganya mahal, maka akan memperbesar anggaran biaya yang harus dikeluarkan.
  3. Mudah didapat, di samping harganya murah, pilihlah bahan sanitasi yang mudah didapat. Jangan memilih bahan sanitasi yang tidak tersedia di lokasi usaha.
  4. Tidak mempunyai efek yang buruk.
Selain efektif, harga murah, dan mudah didapat, bahan sanitasi harus tidak mempunyai efek yang buruk. Yang dimaksud tidak mempunyai efek yang buruk adalah tidak menyebabkan atau menimbulkan bahaya bagi ternak, peternak, dan lingkungan. Berbicara lingkungan di sini adalah baik itu lingkungan biotik maupun lingkungan abiotik.

Klasifikasi disinfektan dan disinfektan yang sering digunakan di peternakan petelur dapat dilihat pada tabel.

DASAR-DASAR KESEHATAN TERNAK
Tabel 6.3 Klasifikasi Disinfektan.

Kebutuhan Bahan untuk Sanitasi dan Dosis
Keberhasilan dalam kegiatan sanitasi k a n d a n g d a n p e r a l a t a n s a n g a t ditentukan oleh disinfektan yang digunakan dan ketepatan dalam menentukan dosisnya. Dosis dari masing-masing disinfektan berbedabeda, tergantung dari merek dan produsennya. Semakin tepat dalam memilih disinfektan dan dosis dalam pelaksanaan sanitasi kandang dan peralatan, maka semakin baik pula disinfektan tersebut dalam menekan pertumbuhan dan perkembangan mikroorganisme sebagai pembawa penyakit tersebut. Berikut adalah contoh beberapa disinfektan yang dapat dipergunakan untuk kegiatan sanitasi kandang dan peralatan serta sarana kandang pendukung lainnya.


PRAKTIK

Judul : Mengidentifikasi macam bentuk obat
Tujuan : peserta diklat dapat menyebutkan macam-macam bentuk obat
Waktu : 3 x 45 menit

Alat dan bahan :
§ Macam obat-obatan ruminansia dan unggas
§ Kaca pembesar
§ Alat tulis
a. Cawan

Keselamatan kerja:
a. Gunakan baju lapangan
b. Hati-hati dalam bekerja

Langkah kerja:
a. Siapkan alat dan bahan yang diperlukan.
b. Lakukan pengamatan terhadap obat yang disediakan.
c. Ambil kesimpulan terhadap pengamatan yang telah dilakukan:
1) Bentuk
2) Cara penggunaan
3) Fungsi obat
4) Gambar/foto cara pemberian obat
5) Gambar bentuk (boleh difoto)
6) Asal
d. Lakukan tindakan yang harus dilakukan terkait dengan kesimpulan yang dibuat.

Demikian materi memahami berbagai VOVD yang digunakan untuk ternak. Semoga ulasan kami ini bisa bermanfaat.
Admin
Admin Buku catatan digital seorang guru yang menuangkan pengetahuan kedalam tulisan. Semoga artikel tulisan saya bermanfaat bagi orang banyak. Mari menulis! Mari Membaca! Bintan News

Post a Comment for "Memahami Berbagai VOVD yang Digunakan untuk Ternak"