Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Menerapkan persiapan kandang dan alat untuk usaha aneka ternak

PERSIAPAN KANDANG DAN PERALATAN USAHA ANEKA TERNAK - Tujuan pembelajaran dari materi ini adalah:
  • Setelah selesai peserta didik diharapkan dapat melakukan persiapan kandang dan sanitasi kandang serta peralatan pada budidaya aneka ternak menggunakan bahan dan peralatan yang tepat serta cara sanitasi yang benar sesuai dengan prosedur dan jenis aneka ternak yang dibudidayakan.

Menerapkan persiapan kandang dan alat untuk usaha aneka ternak

Menerapkan persiapan kandang dan alat untuk usaha aneka ternak
Gambar 1.1 Desain Perkandangan Terpadu
Sumber: https://debsdiscoveridea.wordpress.com/2014/05/16/sistem-peternakan-terpadu/

Peternakan adalah kegiatan mengembangbiakkan dan pemeliharaan hewan ternak untuk mendapatkan manfaat dan hasil dari kegiatan tersebut. Hewan yang banyak diternakkan di antaranya sapi, ayam. kambing, domba, dan babi. Hasil peternakan di antaranya daging, susu, telur, dan bahan pakaian (seperti wol). Selain itu, kotoran hewan dapat menyuburkan tanah dan tenaga hewan dapat digunakan sebagai sarana transportasi dan untuk membajak tanah.

Hal-hal yang termasuk kegiatan beternak diantaranya pemberian makanan, pemuliaan atau pengembangbiakan untuk mencari sifat-sifat unggul, pemeliharaan, penjagaan kesahatan dan pemanfaatan hasil. Peternakan dapat dibedakan menjadi peternakan ekstensif atau intensif, dan terdapat juga peternakan semi intensif yang menggabungkan keduanya.

Dalam peternakan ekstensif, hewan dibiarkan berkeliaran dan mencari makan sendiri, kadang di lahan yang luas, dan kadang dengan pengawasan agar tidak dimangsa. Dalam peternakan intensif, terutama peternakan pabrik yang umum di negara-negara maju, hewan dikandangkan dalam gedung berkepadatan tinggi, makanannya dibawa dari luar, dan hidupnya diatur agar memiliki produksi dan efisiensi tinggi.

Peternakan dimulai sejak terjadinya domestikasi hewan. Berbagai jenis hewan mulai didomestikasi pada saat dan tempat yang berbeda-beda dalam sejarah. Selain hewan ternak yang telah disebutkan di atas, hewan-hewan seperti kuda, kerbau, unta, ilama, alpaka dan kelinci juga diternakkan di beberapa belahan dunia. Peternakan juga meliputi budidaya perairan untuk memelihara hewan air seperti ikan, udang, dan kerang.

Peternakan serangga juga dilakukan di beberapa tempat, seperti peternakan lebah, ulat sutra, bahkan jangkrik yang dijadikan makanan di Thailand. Kebanyakan hewan ternak adalah herbivor atau pemakan tumbuhan, tetapi ada juga yang omnivor seperti babi atau ayam. Hewan pemamah biak (ruminansia) seperti sapi dan kambing dapat mencerna selulosa, sehingga dapat diberi makan rumput di alam bebas. 

Selain itu, hewan-hewan itu dapat diberi makan berenergi dan protein tinggi, seperti tumbuhan serealia dan pakan buatan. Hewan non-ruminansia tidak dapat memakan rumput sehingga harus makan dari sumber lain.

Pada zaman modern, dampak peternakan terhadap lingkungan mulai disoroti, karena kegiatan peternakan membutuhkan banyak air dan lahan, baik untuk hewan ternak maupun untuk tanaman yang ditumbuhkan sebagai makanannya. Selain itu, hewan ternak mengeluarkan emisi gas rumah kaca seperti metana (CH4), dinitrogen monoksida (N2O), dan karbon dioksida (CO2). Muncul juga kekhawatiran akan kesejahteraan hewan terutama seiring meningkatnya peternakan pabrik.

A. Pengertian Kandang Ternak

Kandang adalah struktur atau bangunan tempat hewan ternak dipelihara, dan merupakan salah satu kebutuhan penting dalam usaha peternakan. Tempat tersebut bisa berupa wadah, bangunan atau area tergantung pada jenis hewan yang akan dibudidayakan. Kandang sering kali dikategorikan menurut jumlah hewan yang menempatinya, ada yang hanya berupa satu bangunan satu hewan, satu bangunan banyak hewan namun terpisah sekat, dan satu bangunan diisi banyak hewan tanpa sekat.

Fungsi utama kandang adalah untuk menjaga supaya ternak tidak berkeliaran dan memudahkan pemantauan serta perawatan ternak. Terdapat banyak sekali jenis kandang, baik berdasarkan tipe maupun bahan yang digunakan untuk membuat kandang tersebut, sedangkan penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan. Secara tidak langsung kandang juga memengaruhi kualitas dan kuantitas hasil peternakan. Kandang yang fungsional akan menambah pendapatan bagi para pemiliknya.

Adapun definisi kandang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah bangunan tempat tinggal binatang, ruang berpagar tempat memelihara binatang. Bentuk dan tipe kandang sebaiknya disesuaikan dengan lokasi berdasarkan agroklimat, pola atau tujuan pemeliharaan dan kondisi fisiologis ternak. Sedangkan bahasa Inggris memiliki banyak istilah yang sering kali dibedakan menurut jenis hewan yang dipelihara dan cara pemeliharaannya.
  1. Kandang ayam dapat disebut dengan EN:chicken tractor atau EN:chicken coop( untuk ayam yang dikandangkan di pe arangan rumah);E N:battery cage( kandang
  2. ayam petelur yang sangat sempit); dan EN:furnished cage (battery cage dengan kondisi yang lebih baik).
  3. Kandang kuda umum disebut dengan stable atau stall.
  4. Kandang kambing umum disebut dengan goat pen atau goat stable.
  5. Kandang sapi disebut dengan cow shed.
  6. Kandang ikan di Indonesia disebut dengan keramba
Untuk jenis hewan ternak lain, biasanya menyatu dengan bangunan pertanian lain dan disebut dengan gudang pertanian (barn) atau dipelihara dalam bangunan besar dalam sebuah sistem yang disebut dengan peternakan pabrik (factory farming).

Kandang juga memiliki fungsi atau manfaat yang sangat beragam dalam pemeliharaan ternak, diantaranya adalah:

1. Memudahkan pengelolaan ternak dalam proses produksi seperti pemberian pakan, minum, pengelolaan kotoran/limbah dan perkawinan. Dalam proses pemeliharaan, tentunya ternak membutuhkan pakan, minum dan tempat untuk berteduh serta berkembang biak. Jika ternak peliharaan tidak memiliki kandang, maka akan menyulitkan dalam hal pengelolaan selama pemeliharaan, baik dalam pemberian pakan, minum dan mengembangbiakkan ternak serta memanfaatkan limbah kotoran sebagai pupuk.

2. Melindugi ternak dari gangguan hama predator, penyakit dan pencurian.
Kandang berfungsi untuk menjaga keamanan ternak dari serangan hama, serangan penyakit maupun kehilangan karena pencurian, karena jika tidak memiliki kandang, binatang ternak akan berkeliaran begitu saja dan akibatnya mudah diserang oleh hama predator, serangan penyakit maupun dicuri oleh orang lain.

3. Melindungi ternak dari perubahan iklim yang ekstrim (panas, hujan dan angin).
Perubahan iklim akan berpengaruh pada kenyamanan dan kemampuan ternak untuk tumbuh serta berkembang biak. Dengan adanya kandang, maka hewan ternak selalu sehat dan terlindungi.

B. Inventarisasi Kebutuhan Kandang dan Peralatan

Gambar 1.2 Desain Perencanaan Peternakan Terpadu
Sumber: https://debsdiscoveridea.wordpress.com/2014/05/16/sistem-peternakan-terpadu/

Kandang dan peralatan merupakan salah satu sarana yang penting di dalam usaha peternakan, dengan tersedianya kandang maka dapat mempermudah peternak dalam mengelola usahanya. Penyediaan kandang yang baik dan memenuhi persyaratan teknis, baik dilihat dari segi ekonomi dan kesehatan merupakan modal awal keberhasilan dalam berusaha.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membangun kandang, antara lain :

1. Aspek ekonomi

Dalam membangun kandang ternak harus memperhatikan aspek ekonomisnya, kandang yang dibangun diusahakan semurah mungkin tetapi masih memenuhi persyaratan teknis, yaitu ternak akan betah tinggal di dalam kandang dan membuat pertumbuhan ternak yang normal, sehat sehingga akan memberikan hasil yang optimal.

Kandang yang dibangun dengan biaya mahal belum tentu memenuhi persyaratan teknis bahkan akan sulit untuk mendapatkan keuntungan karena biaya investasinya yang besar. Pada hal intinya dalam setiap usaha perternakan adalah untuk mencari keuntungan. Oleh karena itu dalam membangun kandang harus benar-benar memperhatikan aspek ekonomisnya. Berapa perkiraan umur ekonomis kandang ternak yang akan dibangun tersebut dan perlu anggaran biaya berapa? berapa tahun investasi yang dikeluarkan akan kembali dan lain sebagainya. Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu pengkajian yang lebih mendalam.

2. Aspek sosial

Karena masing-masing ternak mempunyai sifat dan karakteristik yang berbeda antara yang satu dengan yang lainy maka dalam membangun kandang sebaiknya harus memperhatikan aspek sosial yang ada. Apakah dampak yang timbul dari usaha peternakan tersebut dapat mengganggu lingkungan sekitar.

Karena usaha peternakan dapat menghasilkan limbah atau kotoran yang baunya sangat menyengat hidung apabila kotoran tersebut bercampur dengan air kencing, sisa-sisa pakan dan sisa air minumnya, terlebih-lebih bila kotoran atau limbah tersebut tidak dikelola dengan baik, maka akan menyebabkan pencemaran lingkungan.

Kotoran tersebut bercampur dengan air kencing, sisa-sisa pakan dan sisa air minumnya, terlebih-lebih bila kotoran atau limbah tersebut tidak dikelola dengan baik, maka akan menyebabkan pencemaran lingkungan. Untuk mengantisipasi hal tersebut di atas, dianjurkan pada saat membangun kandang sebaiknya agak jauh dengan tempat tinggal atau rumah penduduk sekitarnya. Hal ini untuk mengantisipasi dampak negatif akibat limbah atau kotoran ternak yang kita usahakan.

3. Aspek teknis

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membangun kandang dilihat dari aspek teknis diantaranya:

a. Lokasi kandang

Lokasi usaha peternakan harus memenuhi ketentuan sebagai berikut :
  1. Tidak bertentangan dengan Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) daerah yang bersangkutan;
  2. Ketinggian lokasi terhadap wilayah sekitarnya sesuai dengan lingkungan, sehingga kotoran dan limbah tidak mencemari lingkungan.

Agar lokasi kandang memberi kemudahan-kemudahan dalam manajemen pengelolaannya maka kandang seyogyanya dibangun dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

1) Transportasi mudah

Lokasi kandang hendaknya dekat dengan jalan karena akan memudahkan pada saat pengadaan sapronak dan lain-lain.

2) Dekat sumber air

Lokasi kandang sebaiknya dekat dengan sumber air karena air merupakan kebutuhan sehari-hari yang harus ada. Disamping air digunakan untuk kebutuhan air minum ternak, air digunakan juga untuk memandikan ternak, untuk membersihkan kandang dan peralatan dan lain sebagainya.

3) Jauh dari keramaian

Lokasi kandang sebaiknya jauh dengan keramaian karena apabila kandang dibangun dekat dengan keramaian dapat menyebabkan ternak tidak tenang, yang akhirnya dapat menurunkan produktivitas ternak yang dipelihara.

4) Bebas dari genangan air

Air yang menggenang disekitar kandang, apabila tidak ditangani dengan baik, maka dapat merupakan tempat berkembangnya bibit penyakit. Bibit penyakit akan tumbuh dan berkembang dengan cepat di tempat yang airnya dalam keadaan menggenang. Oleh karena itu apabila akan membangun kandang, pilih tempat atau lahan yang letaknya lebih tinggi dari sekitarnya. Dengan tempat atau lahan yang lebih tinggi dari sekitarnya dengan harapkan apabila ada hujan atau air limbah dari kandang, tidak menggenang disekitar kandang.

5) Memiliki surat ijin

Surat ijin mutak diperlukan bagi peternak yang memiliki usaha yang berskala industri atau berskala usaha yang besar. Tanpa adannya surat ijin usaha, maka usaha peternakan tersebut tidak mungkin dapat berjalan langgeng. Beberapa undang-undang dan peraturan pemerintah yang mengatur kegiatan usaha peternakan harus dipatuhi oleh semua peternak.

Demi berhasilnya usaha atau bertahannya usaha peternakan dalam hal perijinan, maka perlu juga dipelajari dan dipahami terutama yang berkaitan dengan amdal (analisis mengenai dampak lingkungan), pelaksanaan otonomi daerah dan rencana tata ruang wilayah atau tata ruang kota dan lain- lain.

6) Jumlah atau populasi ternak

Jumlah atau populasi ternak yang ada akan berpengaruh terhadap kandang yang akan dibangun. Apabila jumlah atau populasi ternak banyak maka ukuran kandang yang akan dibangun juga akan besar sesuai dengan kebutuhannya. Begitu pula sebaliknya apabila jumlah atau populasi ternaknya sedikit maka ukuran kandang yang akan dibangun juga semakin kecil.

7) Ketersediaan bahan baku

Dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan kandang ternak akan dipengaruhi oleh ketersedian bahan baku yang ada. Apabila di suatu daerah bahan baku dari kayu banyak, maka kontruksi kandang yang dibangun juga dari bahan kayu. Begitu sebaliknya apabila disuatu daerah tidak banyak bahan kayu, maka dalam membangun kandang mungkin dari bahan beton. Walaupun bahan baku lebih mahal.

b. Konstruksi

Kontruksi kandang yang dibangun hendaknya harus kokoh dan kuat tidak mudah roboh apabila ada tiupan angina, hujan yang deras ataupun akibat dorongan ternak yang tingggal didalamnya. Disamping itu kandang harus memenuhi kriteria sebagai berikut:

1) Pondasi kandang
Pondasi hendaknya cukup padat dan kuat, karena untuk menahan beban keseluruhan bangunan seperti: kerangka bangunan, atap bangunan dan dinding kandang serta menahan masuknya air hujan ke dalamnya.

2) Lantai kandang
Lantai kandang hendaknya dibuat sekuat mungkin dan didesain sedemikian rupa sehingga mudah dalam pembersihannya.

Berdasarkan konstruksi lantai, kandang ada 2(dua) tipe yaitu:

1) Kandang lantai rapat, untuk ternak ruminansia besar (sapi), umumnya dibuat dari tembok. Lantai rapat untuk ternak unggas lantai kandang banyak yang dibuat dari lantai tanah, kandang ini sering disebut kandang sistem litter/alas atau deep litter system yaitu kandang yang menggunakan penutup lantai. Bahan litter dapat digunakan diantaranya: sekam padi, serbuk gergaji, potongan jerami kering, tongkol jagung, potongan rumput kering.

2) Kandang lantai renggang atau berlubang, kandang lantai renggang seperti ini umumnya digunakan untuk ternak unggas, dan ruminansia kecil (domba/kambing). Model kandangcage/battery system, wire floor system, slatt floor system digunakan untuk ternak unggas.

3) Dinding kandang

Hal yang perlu diperhatikan pada konstruksi dinding kandang ternak adalah di buat sedemikian rupa sehingga di dalam kandang terdapat udara yang segar dan dalam keadaan nyaman, cahaya matahari dapat masuk di dalam ruangan kandang, ternak yang ada di dalam kandang dapat dilihat dengan mudah. Konstruksi dinding kandang ternak dibuat sedemikian rupa sehingga sesuai dengan jenis dan karakteristik ternak yang dipelihara serta tujuan akhir dari usaha tersebut.

Berdasarkan konstruksi dinding, tipe kandang yang ada adalah kandang sistem terbuka (open house system), dan kandang sistem tertutup (close house system). Di Indonesia kandang sistem tertutup umumnya digunakan untuk ternak unggas.

4) Atap kandang

Atap kandang berfungsi untuk menghindarkan panas dan hujan. Atap kandang diusahakan dari bahan yang awet, memberi kehangatan bagi ternak pada waktu malam hari. Atap kandang dapat menggunakan genting, seng, asbes, rumbia, ilalang maupun ijuk. Gunakan bahan atap kandang yang harganya murah, mudah didapat, tahan lama, panas matahari dapat ditahan dengan baik, sehingga tidak langsung. Konstruksi atap bisa menggunakan tipe atap jongkok/miring, tipe atap gable, tipe atap monitor, tipe atap semi monitor dll.

1. Syarat Kandang dari Segi Kesehatan

Pertumbuhan dan perkembangan ternak yang kita usahakan salah satunya dipengaruhi oleh kandang yang kita sediakan. Apabila kandang yang kita sediakan bagi ternak tersebut memenuhi persyaratan kesehatan, maka ternak tersebut akan tumbuh dan berkembang dengan baik. Begitu sebaliknya apabila kandang yang kita sediakan bagi ternak tidak memenuhi persyaratan kesehatan maka otomatis ternak tersebut tidak akan tumbuh dan berkembang dengan baik. Oleh karena itu pada saat membangun kandang ternak harus memenuhi persyaratan dari segi kesehatannya.

Adapun persyaratan-persyaratan kandang agar memenuhi segi kesehatan ternak harus memperhatikan beberapa hal diantaranya sebagai berikut :

a. Letak Kandang
Tata letak kandang yang dibuat juga akan memengaruhi keberhasilan didalam usaha peternakan. Tata letak kandang ternak untuk induk, untuk pejantan, untuk dara, dan anak sebaiknya letaknya agak berjauhan.Hal ini bertujuan untuk menghindari kegaduhan ternak. Disamping itu untuk menghindari terjadinya penyebaran bibit penyakit yang menular. Antara ternak yang sakit dengan ternak yang sehat. Begitu juga untuk letak kandang karantina, sebaiknya jauh dari kandang-kandang utama yang dipergunakan untuk proses pemeliharaan.

b. Sinar Matahari
Letak kandang diusahakan sedemikian rupa,sehingga matahari dapat leluasa masuk ke dalam kandang. Sinar matahari yang paling baik bagi ternak adalah sinar matahari pagi. Oleh karena itu bagian kandang yang terbuka sedapat mungkin menghadap kearah masuknya sinar matahari pagi.

Sinar matahari pagi banyak mengandung sinar lembayung (ultraviolet). Sinar matahari pagi sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan ternak, karena dapat membantu proses pembentukan vitamin D, dapat membunuh bibit penyakit, dan dapat mempercepat pengeringan kandang yang basah akibat air kencing dan lainnya.

c. Ventilasi
Kandang ternak harus cukup terbuka untuk keluar masuknya udara. Adanya pertukaran udara yang baik maka di dalam kandang akan selalu terdapat udara yang segar, bersih dan sehat.

Ventilasi kandang yang sempurna sangat menguntungkan bagi ternak yang tinggal di dalam kandang karena ventilasi bermanfaat untuk mengeluarkan udara kotor dari dalam kandang dan menggantikan udara yang segar dari luar kandang.

d. Kelembaban
Kelembaban dalam ruangan kandang sangat berpengaruh terhadap kesehatan ternak yang tinggal di dalamnya. Kelembaban yang tinggi dapat menyebabkan ternak menderita suatu penyakit pernafasan. Kelembaban yang tinggi dalam kandang bisa disebabkan oleh beberapa hal antara lain; dari badan ternak itu sendiri, kotoran dan air kencing, percikan air minum pada saat ternak minum dan sebagainya.

Kelembaban juga akan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan bibit penyakit atau sumber penyakit, apabila kelembaban yang ada cocok untuk pertumbuhan dan perkembangan suatu bibit penyakit atau sumber penyakit, maka populasi bibit penyakit dapat meningkat dengan pesat. Dengan meningkatnya populasi bibit penyakit, maka kemungkinan besar terserang penyakit semakin besar, terlebih-lebih apabila kondisi fisik ternak kurang bagus.

e. Hujan dan Angin Kencang
Kandang ternak hendaknya terjaga dari pengaruh hujan dan angin kencang, sebab kemungkinan air hujan akan masuk kedalam kandang atau angin kencang dapat menyebabkan bangunan kandang roboh. Untuk itu perlu dipikirkan mengenai kekuatan bahan bangunan dan konstruksi serta kemungkinan air hujan akan masuk kedalam kandang dihindari.

f. Pohon Pelindung
Untuk memperoleh udara yang sejuk dan segar maka sedapat mungkin di sekitar kandang ditanam pohon pelindung. Pohon pelindung yang ditanam dipilih yang mempunyai tajuk daun lebar, ranting atau pohonnya tidak mudah patah serta perakaran dalam dan kuat sehingga tidak mudah roboh.

2. Menentukan Model/Tipe Kandang

Model atau tipe kandang yang akan dibangun dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain:

a. Iklim
Negara kita Indonesia ini termasuk negara agraris beriklim tropis maka sebagian besar petani peternak dalam membangun kandang dengan sistem terbuka, dinding kadang tidak penuh atau kandang tidak berdinding sama sekali.

b. Tujuan Produksi
Kandang ternak yang dibangun biasanya disesuaikan dengan tujuan produksinya. Misalnya kandang untuk ternak ruminanisa perahakan berbeda dengan kandang ternak ruminansia pedaging, kandang unggas petelur tidak sama dengan kandang unggas pedaging.

c. Umur Ternak
Kandang yang digunakan untuk memelihara ternak muda atau anak akan berbeda dengan ternak dewasa. Untuk ternak muda atau anak ukuran kandang tentunya lebih kecil apabila dibandingkan dengan ternak dewasa. Disamping ukuran kandang, konstruksi dinding kandang untuk anak ternak umumnya dinding yang agak rapat (tidak terbuka keseluruhan), hal ini bertujuan untuk menghindari cuaca yang dingin diwaktu malam hari.

d. Jenis ternak
Jenis ternak yang dipelihara akan berpengaruh terhadap jenis kandang yang dibuat. Untuk ternak sapi dan kerbau mempunyai model atau kontruksi yang berbeda dengan kandang ternak unggas, domba dan kambing karena karakteristik ternaknya berbeda-beda.

e. Keadaan ekonomi peternak

Keadaan ekonomi peternak sangat memengaruhi model atau tipe kandang yang akan dibangun. Petani peternak yang bermodal besar biasanya membangun kandang secara permanen dan bangunannya moderen. Berbeda dengan petani peternak yang mempunyai modal kecil atau sedikit, mereka akan membangun kandang ternak yang sederhana dan semurah mungkin. Yang penting dilihat dari aspek kesehatannya masih memenuhi persyaratan.

3. Peralatan Kandang dan Sarana Pendukungnya

Peralatan kandang yang digunakan dalam pemeliharaan ternak, tentunya berbeda antara jenis ternak unggas, ternak ruminansia maupun monogastrik. Peralatan yang digunakan dan wajib dalam pemeliharaan ternak unggas, peralatan yang digunakan antara lain adalah alat pemanas/induk buatan (brooder), tempat pakan (feeder) untuk berbagai jenis umur terdiri dari tempat pakan manual (long feeder, round feeder, tray feeder), tempat pakan otomatis (Chain feeder dan pan feeder), tempat minum (waterer) untuk berbagai jenis umur terdiri dari tempat minum manual (long drinker atau round drinker). Tempat minum otomatis (automatic bell drinker, Nipples, drink cups, hanging automatic waterer), alat untuk penghasus hama, peralatan kebersihan kandang, peralatan kesehatan unggas, peralatan pemanenan telur/daging unggas dan lain-lain.

C. Sanitasi Kandang, Peralatan dan Lingkungan

Kandang merupakan salah satu bagian yang penting dalam pemeliharaan ternak. Sebagai tempat tinggal, hidup, melakukan aktivitas sehari-hari, kandang selain nyaman juga harus sehat atau bebas dari mikroorganisme penyebab penyakit. Salah satunya adalah melakukan pembersihan dan pembebas hamaan (sanitasi) kandang, peralatan serta lingkungan ternak.

Keberhasilan pada saat proses pemeliharan ternak salah satunya ditentukan oleh bagaimana peternak melakukan kegiatan sanitasi kandang, peralatan dan lingkungannya. Tanpa adanya kegiatan sanitasi kandang, peralatan dan lingkungannya sebelum proses pemeliharaan, kemungkinan akan berhasilnya usaha peternakan sangatlah kecil.

1. Pengertian Sanitasi

Sanitasi adalah tindakan menjaga kebersihan kandang, peralatan dan lingkungan sekitar kandang. Sanitasi kandang dan peralatan dilakukan selain untuk mencegah terjangkitnya penyakit baik yang disebabkan oleh virus, bakteri, parasit, protozoa dan juga untuk mengurangi kemungkinan penularan penyakit. Sanitasi merupakan salah satu upaya untuk menjaga kesehatan ternak. Sanitasi kandang dan lingkungan ternak dilakukan sebelum memulai kegiatan pemeliharaan ternak baik itu ternak ruminansia, unggas maupun aneka ternak.

Kegiatan sanitasi kandang dan lingkungan dilakukan dengan cara: membersihkan lingkungan di dalam kandang dan lingkungan di luar kandang. Sanitasi di luar kandang dilakukan dengan membabat semak-semak, menyapu dan mengumpulkannya di tempat yang aman, sehingga tidak mengganggu atau menimbulkan penyakit pada ternak, yang sedang dipelihara. Setelah lingkungan dibersihkan selanjutnya dilakukan pencucian kandang dengan air hingga bersih dan baru kemudian di semprot dengan desinfektan.

2. Prinsip Kegiatan Sanitasi

Prinsip dari kegiatan sanitasi kandang, peralatan dan lingkungan adalah: bersih secara fisik, bersih secara kimiawi (tidak mengandung bahan kimia yang membahayakan) dan bersih secara mikrobiologis.

a. Bersih secara fisik

Yang dimaksud dengan bersih secara fisik, dalam sanitasi kandang dan peralatan adalah bahwa kandang dan peralatan tersebut setelah disanitasi benar-benar bersih dari kotoran dan debu yang menempel. Sehingga kandang dan peralatan tersebut secara kasat mata memang kelihatan bersih dan enak apabila dipandang mata.

Disamping itu kandang dan peralatan tersebut secara fisik bersih dan enak apabila dipandang mata juga tidak menimbulkan bau yang tidak sedap ( tidak enak). Kalau kandang dan peralatan tidak di sanitasi kemungkinan yang terjadi adalah kandang tersebut kotor dan dapat menimbulkan bau yang tidak sedap. Kandang dan peralatan yang kotor dan bau merupakan sarangnya suatu penyakit.

b. Bersih secara kimiawi

Yang dimaksud bersih secara kimia adalah: bahwa kandang dan peralatan tersebut setelah dilakukan sanitasi memang betul-betul bersih secara kimia. Yaitu tidak mengandung bahan kimia yang membahayakan. Membahayakan disini adalah membahayakan bagi pekerja kandang maupun bagi ternak yang akan dipelihara di dalam kandang tersebut. Bahan kimia untuk sanitasi kandang kadang-kadang ada sebagian yang tertinggal atau menempel bagian bagian dinding kandang, lantai kandang atau tempat pakan dan tempat minum.

Apabila bahan kimia yang untuk sanitasi kandang tersebut ada yang mengandung bahan beracun dan berbahaya (B3) akan membawa dampak buruk terhadap ternak yang akan dipelihara dan dapat pula bagi pekerja kandang atau yang melakukan sanitasi. Oleh karena itu prinsip kegiatan sanitasi kandang peralatan diharapakan memang betulbetul bersih secara kimia.

c. Bersih secara mikrobiologis.

Seperti apa yang pernah disinggung di atas bahwa kegiatan sanitasi adalah kegiatan atau suatu tindakan untuk mencegah agar ternak yang akan dipelihara bebas dari serangan berbagai jenis penyakit. Tindakan tersebut dapat dilakukan dengan cara membersihkan kandang dan peralatan dari semua kotoran/debu yang menempel baik yang ada di dalam maupun diluar kandang, dan kemudian dilanjutan dengan cara mencuci dengan bahan deterjen, mengapur dan melakukan menyemprotan dengan desinfekatan.

Untuk itu dalam pemilihan bahan kimia untuk kegiatan sanitasi harus dapat membersihkan atau membunuh mikrobiologis yang dapat menyebabkan suatu penyakit pada ternak. Mikrobiologis atau mikroorganisme

1) Membunuh mikroorganisme.

Sifat bahan kimia yang digunakan untuk kegiatan sanitasi kandang, peralatan dan lingkungan ternak seperti telah disinggung di atas , yaitu harus dapat membunuh mikroorganisme sumber penyakit. Karena mikroorganisme sumber penyakit merupakan musuh utama bagi semua peternak. Apabila mikroorganisme sumber penyakit tidak dibunuh, maka ternak kemungkinan besar akan terserang penyakit, yang akhirnya peternak mengalami kerugian.

2) Mempunyai sifat membersihkan yang baik.

Selain mempunyai sifat membunuh mikroorganisme, bahan sanitasi harus mempunyai sifat membersihkan yang baik. Sebagai contoh: tempat pakan dan tempat minum untuk ternak kadang-kandang kelihatan licin, kotor dan berwarna hijau. Keadaan semacam itu, apabila dipergunakan terus menerus dapat mengganggu kesehatan, karena mikroorganisme sumber penyakit bersarang ditempat itu. Oleh karena itu bahan sanitasi tersebut dipergunakan untuk membersihkannya.

3) Mudah digunakan.

Keberhasilan dalam kegiatan sanitasi kandang, peralatan dan lingkungan ternak sangat ditentukan oleh mudah dan tidaknya bahan sanitasi tersebut digunakan. Pilihlah bahan sanitasi yang mudah digunakan, jangan memilih bahan sanitasi yang susah penggunnaannya.

4) Mudah didapat.

Dimana untuk mendapatkan bahan sanitasi kandang dan peralatan tersebut, apakah di sekitar lokasi peternakan ataukah harus memesan terlebih dahulu. Kalau harus memesan berarti bahan sanitasi tersebut susah didapatkan. Oleh karena itu pilihlah bahan sanitasi yang mudah didapat, harga juga murah , mudah penggunaannya dan lain sebagainya.

5) Bau yang ditimbulkan dapat diterima.

Bahan kimia untuk sanitasi kandang dan peralatan pada umumnya berbau, pilihlah bahan sanitasi yang mempunyai bau yang tidak begitu menyengat dan dapat diterima oleh lingkungan. Yang dimaksudmaksudmaksud lingkungan disini adalah lingkungan yang menerima dampak dari bau bahan sanitasi yang di gunakan tersebut, diantara manusia, ternak, hewan , ikan dan lain sebaginya. Setelah pemilihan bahan sanitasi dilakukan, langkah berikutnya adalah cara penggunaannya. Apakah ditabur, dioleskan, dicampur, dilarutkan, disemprotkan dan lain sebagainya. Cara penggunaan bahan sanitasi kandang dan peralatan harus tepat juga, yaitu tepat waktu, tepat dosis, tepat sasaran dan tepat cara.

1) Tepat Cara.

Cara penggunaan bahan sanitasi ini penting, karena apabila salah dalam penggunaannya akan tidak efektif. Ada beberapa cara penggunaan bahan sanitasi diantara: ditabur, dioleskan, dilarutkan dalam air, disemprotkan dan lain sebainya.

2) Tepat Sasaran

Dalam menggunakan bahan sanitasi untuk kandang dan peralatan harus dipilih dan harus tepat sasarannya, yaitu untuk membunuh mikroorganisme atau membersihkan mikroorganisme jenisnya apa? apakah bakteri, virus, protozoa ataukah jamur. Karena masing-masing mikroorganisme mempunyai sifat dan karakteristik yang berbeda.

3) Tepat Dosis

Pada umumnya setiap bahan kimia yang digunakan untuk sanitasi , ada brosur yang isinya tentang: komposisi bahan , indikasi, dosis dan cara pemakaian, apakah dicampur air atau tidak, dioleskan, disemprotkan, ditaburkan atau melalui pengasapan (fumigasi).

4) Tepat Waktu

Agar bahan kimia untuk sanitasi kandang, peralatan dan lingkungan dapat efektif dalam penggunaannya, maka pelaksanaan sanitasi harus tepat waktu juga. Kapan waktu yang tepat untuk kegiatan sanitasi apakah pada saat mikroorganisme sumber penyakit sudah di ambang batas ekonomi, ataukah pada waktu di bawah batas ambang ekonomi.

3. Contoh Bahan Desinfektan:

a. Neo Antisep (larutan pembasmi kuman) komposisi bahannya Iodium aktif 3 % dan bahan pembantu di gunakan untuk membasmi virus, bakteri dan jamur. Adapun penggunaannya dapat dengan cara dioleskan pada bagian yang luka, untuk mencuci kandang, mesin tetas dan peralatan lainnya. Untuk pencegahan penularan penyakit pada waktu ada wabah , neo antisep ini dapat digunakan dengan cara menyemprot dan menyucihamakan peralatan kandang.

b. Primacide – 200 adalah bahan kimia untuk desinfeksi dan sanitasi yaitu untuk sanitasi kandang, peralatan dan lingkungan kandang. Baik itu sebelum maupun setelah kandang, peralatan tersebut digunakan. Sedangkan dosis cara penggunaannya sudah ada di dalam kemasan botolnya atau ada brosur penggunaannya

c. Caprides adalah desinfektan untuk desinfeksi kandang dan lingkungan serta peralatan peternakan lainnya dari kontaminasi baik itu dari virus maupun dari bakteri. Sedangkan dosisnya untuk desinfeksi kandang ( 40- 50 m2 ) dan peralatan peternakan (sapi, kerbau, kambing, domba, ayam dll) 40 ml/10 liter air. Komposisi caprides terdiri dari ethanol dan benzalkonium chloride.

Beberapa contoh bahan desinfektan lainnya selain yang disebut diatas, dan cara penggunaannya antara lain:

Tabel 1.1 Jenis-jenis desinfektan dan cara penggunaannya
Sumber: Dinas perpustakaan dan kearsipan banyuwangi

Disamping lokasi penggunaannya dan cara penggunaannya ada juga kegunaannnya misalnya khlorin untuk membunuh spora bakteri dan membunuh salmonella, sabun/deterjen untuk mencuci atau menghilangkan jasad renik. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam sanitasi adalah : kandang / ruang dan alat yang akan disanitasi, metode yang akan digunakan, bahan atau zat kimia serta aplikasinya, keterampilam pekerja dan monitoring program sanitasi.

4. Kandang /Ruangan

Kandang atau ruangan yang akan disanitasi berhubungan dengan bahan dan alat yang digunakan. Kandang /ruangan semakin lebar atau besar maka kebutuhan bahan untuk sanitasi semakin banyak. Keberhasilan dalam kegiatan sanitasi salah satunya ditentukan oleh peralatan yang digunakan. Untuk ruangan atau kandang yang berkuran besar atau lebar memerlukan peralatan mekanik atau memakai mesin agar lebih cepat dan lebih efisien. Seperti mesin bobcat untuk membersihkan kotoran dan litter ternak sapi, Mesin sprayer/power sprayer untuk menyempotrot kandang dan lingkungan dll. Akan tetapi kalau kandang / ruangan hanya kecil dan sempit dapat menggunakan peralatan yang sederhana atau peralatan yang manual. Seperti sekop, cangkul, sapu, pengki, kereta dorong, had sprayer dll.)

5. Metode Sanitasi

Pemilihan bahan sanitasi apakah sudah sesuai dengan kegunaannya, apakah untuk membunuh mikroorganisme, spora, salmonella ataukah hanya untuk menghilangkan atau mencuci jasad renik. Setelah memilih bahan sanitasi baru menentukan metode yang digunakan. Karena metode sanitasi juga akan menentukan apakah kegiatan sanitasi tersebut berhasil atau tidak (dalam arti apakah sesuai dengan tujuan sanitasi yaitu untuk membunuh bibit penyakit). Harga bahan sanitasi juga perlu dipertimbangkan, karena demi efisiensi dalam penggunaan anggaran selama proses pemeliharaan ternak berlangsung.

6. Peralatan Untuk Kegiatan Sanitasi

Ada beberapa macam jenis peralatan yang dapat dipergunakan untuk melakukan kegiatan sanitasi kandang dan lingkungan ternak diantaranya: sapu, sikap, ember, sekop, pacul, sabit, parang, pengki, kereta dorong, mesin rumput dan lain-lain. Peralatan tersebut dipergunakan untuk membersihkan lingkungan baik yang ada di dalam kandang maupun di luar kandang. Peralatan yang dipergunakan seperti yang dijelaskan di atas sering disebut sebagai peralatan kebersihan. Sedang peralatan yang lain untuk kegiatan sanitasi kandang dan lingkungan adalah hand sprayer, bak celup/dipping (baik itu yang di tempatkan di depan pintu masuk kandang maupun yang di tempatkan di pintu masuk ke dalam areal atau lokasi peternakan untuk ban kendaraan).

7. Jenis KegiatanSanitasi Kandang dan Lingkungan

a. Sanitasi kandang

Sanitasi kandang dilakukan sebelum kandang dipergunakan dengan tujuan untuk membasmi semua bibit-bibit penyakit yang dapat menyerang ternak yang akan dipelihara. Cara yang dilakukan dengan membersihkan dan membebaskan kandang dari sumber - sumber penyakit dan termasuk juga semua peralatan yang ada di dalam kandang. Kegiatan yang dapat dilakukan antara lain : membersihkan, menyemprot kandang sebelum ternak masuk kedalam kandang, membuang kotoran ternak di tempat yang aman , jauh dari kandang, tempat pembuangan atau penampungan kotoran yang khusus. Sedangkan desinfektan yang digunakan adalah yang ramah lingkungan dan telah direkomendasikan oleh pihak yang berwajib.

b. Sanitasi ternak

Semua ternak yang berasal luar yang akan masuk di lingkungan peternakan harus disemprot. Penyemprotan dilakukan bersamaan dengan alat angkutan atau kendaraan yang membawanya. Hal ini bertujuan untuk mengurangi penyebaran bibit penyakit yang berasal dari ternak atau agen /sumber penyakit selama pengangkutan.

c. Sanitasi pekerja

Semua pekerja atau pegawai yang masuk ke lokasi peternakan sebaiknya juga di sanitasi. Sanitasi pekerja atau karyawan pada umumnya dilakukan dengan penyemprotan dan dipping/bak celup. Alat untuk penyemprotan pada umumnya dipasang di depan pintu masuk ke lokasi peternakan, sedang dipping/ bak celup di buat di depan pintu masuk kelokasi peternakan atau di depan pintu masuk masing-masing kandang.

Penggunaan dipping /bak celup didepan pintu masuk kandang ini, pada pada umumnya dilakukan pada peternakan unggas sperti ayam, sedang untuk ternak ruminansia jarang dilakukan. Sanitasi pekerja kandang ini dilakukan dengan maksud agar mobilitas pekerja dari kandang satu dengan kandang lainnya tetap terjaga dalam kondisi bebas penyakit sehingga penyebaran kuman penyakit bisa terhindarkan.

d. Sanitasi terhadap sarana dan prasarana

Sanitasi terhadap sarana dan prasarana juga sangat penting, karena dapat menentukan keberhasilan dalam pemeliharaan ternak. Sanitasi sarana dan prasarana ini dilakukan, untuk menjaga dan mengantisipasi penyebaran bibit penyakit di lingkungan peternakan yang disebabkan oleh penggunaan sarana dan prasarana secara bergantian di masing-masing kandang.

e. Sanitasi kendaraan yang masuk ke lokasi farm

Semua kendaraan yang akan masuk ke dalam lokasi farm harus di sanitasi, agar bebas dari berbagai sumber penyakit yang dapat menyebabkan ternak yang dipelihara sakit. Sanitasi kendaraan dapat dilakukan dengan cara membuat bak perendaman (dipping) yang berisi air di campur dengan desinfekatan, untuk merendam roda kendaraan yang akan masuk ke lokasi, dan melakukan menyemprot semua bagian kendaraan, melakukan termasuk pula barang-barang yang memungkinkan.

8. Cara Melakukan Sanitasi Kandang dan Peralatan pada Ternak Ruminansia

Kegiatan sanitasi kandang, peralatan dan lingkungan yang dilakukan pada pemeliharaan ternak ruminansia pada prinsipnya sama, yaitu untuk mencegah timbul berbagai jenis penyakit yang dapat meyerang ternak ruminansia selama proses pemeliharaan. Sanitasi kandang, peralatan dan lingkungan ternak ruminansia sedikit agak berbeda, tidak seperti pada ternak unggas.

Karena perkembangan penyakit ternak ruminansia relatif tidak secepat seperti perkembangan penyakit pada ternak unggas. Disamping itu ternak ruminansia agak lebih tahan terhadap serang penyakit. Prinsip sanitasi adalah untuk memperbaiki, mempertahankan atau mengembalikan kesehatan yang baik pada ternak maupun pada manusia. Prinsip sanitasi seperti apa yang pernah disingung di bagian atas yaitu bersih secara kimia, bersih secara fisik dan bersih secara mikrobiologis.

Kontaminasi dengan mikroorganisme pembawa penyakit dapat terjadi pada kandang, peralatan kandang, lingkungan kandang, sarana dan prasarana selama proses pemeliharaan ternak. Oleh karena itu kegiatan sanitasi harus diterapkan pada semua lini dalam proses pemeliharaan. Adapun kegiatan sanitasi pada kandang, peralatan, lingkungan ternak ruminansia meliputi:
  • Membersihkan kandang (dinding dan lantai kandang) dari kotoran ternak, sisa-sisa pakan dll
  • Mencuci lantai dan dinding kandang dengan air yang bersih
  • Melakukan desinfeksi terhap kandang dan lingkungan

9. Cara Melakukan Sanitasi Kandang dan Peralatannya Aneka Ternak

Kandang dan peralatan yang dipergunakan untuk memelihara aneka ternak, juga perlu di sanitasi, agar ternak yang dipelihara bebas dari serangan berbagai jenis penyakit. Penyakit yang menyerang aneka ternak peliharaan dapat dicegah dengan cara sanitasi kandang dan peralatan. Adapun cara melakukan sanitasi kandang, peralatan dan lingkungan untuk aneka ternak pada prinsipnya sama dengan sanitasi kandang dan peralatan yang dilakukan pada proses pemeliharan ternak lainya seperti pada ternak unggas dan ternak ruminansia, yaitu dengan cara membersihkan, mencuci, menyemprot dengan desinfektan.

CAKRAWALA
Kandang Sehat - Ternak Sehat
Gambar 1.3 Kandang Ternak Dengan Sanitasi Yang Baik
Sumber : https://id.images.search.yahoo.com/yhs/search;

Kondisi kandang yang baik dan sehat merupakan salah satu penunjang dalam keberhasilan usaha ternak Anda. Kandang ternak yang sehat haruslah mempunyai desian yang baik, meliputi pencahayaan, pembuangan kotoran dan tempat menaruh pakan. Selain itu kandang ternak yang baik adalah kandang ternak yang bersih dan kering sehingga ternak yang berada di dalamnya menjadi lebih sehat dan terhindar dari berbagai macam penyakit.

Bagi ternak, kandang merupakan faktor yang harus diperhatikan. Kandang yang merupakan tempat tinggal, tempat berproduksi, mengerami telur, tempat untuk membesarkan anak-anaknya dan merupakan tempat untuk berkembang biak. Bagaimanapun juga ternak harus disiapkan kandang yang nyaman, tidak kepanasan maupun kedinginan dan memiliki sirkulasi udara yang baik agar udara sehat selalu masuk, bersih dan tentunya bebas dari kuman maupun bakteri pengganggu agar ternak selalu sehat.

Demikian pembahasan KD 3.1 Menerapkan persiapan kandang dan alat untuk usaha aneka ternak yang bisa kami paparkan. Semoga artikel ini bisa membantu.
Bintan News
Bintan News Buku catatan digital seorang guru yang menuangkan pengetahuan kedalam tulisan. Semoga artikel tulisan saya bermanfaat bagi orang banyak. Mari menulis! Mari Membaca! Bintan News
close