Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Menerapkan Penanganan Aneka Ternak yang Sakit

MENANGANI TERNAK YANG SAKIT - Setelah selesai pembelajaran peserta didik diharapkan mampu mampu menangani ternak yang sakit dengan baik dan benar sesuai prosedur.
Menerapkan Penanganan Aneka Ternak yang Sakit
Gambar 7.1 pengecekan kondisi hewan ternak
Sumber: https://jambi.tribunnews.com/2019/02/25/penyakit-brucellosis-bisa-menulardari- hewan-ke-manusia-150-sapi-di-kerinci-diperiksa

Penyakit Ternak bisa disebabkan oleh banyak hal seperti manajemen perkandangan yang kurang bagus, serangan agen infeksius, virus, bakteri, parasit, jamur. Penyakit pada ternak dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar bagi peternak khususnya dan masyarakat luas pada umumnya. Karena banyak penyakit ternak yang tidak hanya menyerang ternak tetapi juga dapat menular kepada manusia yang disebut penyakit “ZOONOSIS”. Sehingga penanganan pada ternak yang sakit harus dilakukan dengan baik dan benar sesuai standar operasional prosedur peternakan.

Kesehatan ternak adalah suatu keadaan atau kondisi tubuh hewan dengan seluruh sel yang menyusun dan cairan tubuh yang dikandungnya secara fisiologis berfungsi normal. Salah satu bagian yang paling penting dalam penanganan kesehatan ternak adalah melakukan pengamatan terhadap ternak yang sakit melalui pemeriksaan ternak yang diduga sakit. Pemeriksaan ternak yang diduga sakit adalah suatu proses untuk menentukan dan mengamati perubahan yang terjadi pada ternak melalui tanda-tanda atau gejala-gejala yang nampak sehingga dapat diambil suatu kesimpulan dan suatu penyakit dapat diketahui penyebabnya.

Gangguan kesehatan pada ternak terjadi karena adanya infeksi agen penyakit oleh bakteri/ kuman, virus, parasit atau disebabkan oleh gangguan metabolisme. Oleh karena itu, bekal pengetahuan tentang pentingnya mengenal beberapa jenis penyakit ternak yang sering terjadi di lapangan dan sekaligus upaya penanggulangannya perlu diketahui oleh pelaku peternakan.

Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan memperhatikan perkandangan yang baik misalnya ventilasi kandang, lantai kandang juga kontak dengan ternak lain yang sakit dan orang yang sakit. Sanitasi merupakan usaha pencegahan penyakit dengan cara menghilangkan atau mengatur faktor-faktor lingkungan yang berkaitan dengan perpindahan dari penyakit tersebut.

Penyakit pada ternak secara umum terbagi menjadi penyakit infeksi dan penyakit non infeksi. Penyakit infeksius adalah penyakit yang disebabkan oleh agenagen infeksi. Agen-agen infeksi penyebab penyakit antara lain virus, bakteri, mikal, parasit. Sedangkan penyakit non infeksius adalah penyakit yang disebabkan selain agen infeksi misalnya akibat defisiensi nutrisi, defisiensi vitamin, defisiensi mineral dan keracunan pakan (Tariakoso, 2009)

A. Pengertian

Usaha penanganan penyakit adalah pengendalian dan sekaligus pembasmian. Tujuan penanganan penyakit adalah untuk mengurangi kejadian penyakit menjadi sekecil mungkin, sehingga kerugian yang bersifat ekonomi dapat ditekan seminimal mungkin. Dalam penanganan penyakit diperlukan program pengelolaan kesehatan (health management) kelompok, meliputi usaha untuk mencegah timbulnya penyakit dan mengurangi kerugian akibat serangan penyakit.

Unsur yang termasuk dalam program pengelolaan kesehatan kelompok menyangkut pemberian pakan yang layak, penggunaan bibit yang baik dan sehat, pengelolaan serta pengamanan penyakit. Keempat unsur tersebut saling memengaruhi, misalnya penyakit yang dapat memengaruhi kemampuan bibit, juga dapat memengaruhi efisiensi pakan. Demikian juga pemberian pakan yang tidak layak akan mempermudah timbulnya penyakit dan membahayakan kesehatan ternak

B. Identifikasi Jenis Penyakit

Agen penyebab penyakit pada ternak dapat dikelompokkan dalam 3 kelompok, yaitu:

1. Penyebab Fisik

Penyakit ternak yang disebabkan oleh agen fisik antara lain luka akibat benturan, terjatuh karena lantai kandang yang licin pada sapi, terjepit pada ayam. Penanganan kasar oleh peternak sering kali menyebabkan luka-luka pada tubuh ternak.

2. Kimiawi

Penyakit yang disebabkan oleh agen penyakit yang bersifat kimia antara lain : penyakit defisiensi dan keracunan. Penyakit defisiensi mineral, seperti kalsium menyebabkan pertumbuhan terhambat, konsumsi pakan turun, laju metabolik basal meningkat, aktivitas menurun dan osteoporosis. Defisiensi vitamin, misalnya vitamin D menyebabkan rachitis, terutama pada hewan muda dan osteomalasia pada ternak yang sudah sempurna tulangnya, namun diberi pakan dengan kadar vitamin D yang kurang dari kebutuhan. Osteomalasia adalah suatu keadaan yang ditandai oleh dekalsifikasi sebagian tulang sehingga mengakibatkan tulang menjadi lunak dan rapuh.

Turkey Diseases merupakan penyakit akibat keracunan oleh mikotoksin yang mencemari bahan pakan pernah terjadi di Inggris dan menyebabkan kematian sampai 10.000 ekor kalkun. Mikotoksin adalah sejenis racun yang dihasilkan oleh sejenis jamur. Mikotoksin terkenal yang dihasilkan oleh Aspergillus flavus disebut aflatoksin bersifat sangat toksik bagi ternak, baik unggas maupun ruminansia.Keracunan bisa juga disebabkan oleh bahanbahan anorganik, seperti : H2S, NH3, CH4, merkaptan dan lain-lain. Bahanbahan tersebut sebagai kontaminan yang dibebaskan dari kotoran ternak.

Amoniak memiliki arti penting pada peternakan ayam oleh karena gas tersebut tersebar luas di peternakan dan memberikan andil yang cukup besar dalam memengaruhi kesehatan ternak maupun dan manusia. Toleransi maksimal manusia terhadap amoniak sebesar 5 - 10 ppm dan pada unggas sebesar 15 - 20 ppm. Kadar amoniak 50 ppm akan menghambat pertumbuhan babi dan apabila terjadi kontak dalam waktu yang lama menyebabkan ternak tersebut terserang pneumonia maupun penyakit pernapasan yang lain. Pada kadar tersebut broiler akan terganggu pertumbuhannya sampai 7%. Pada kadar amoniak antara 50 –100 ppm akan mengganggu pertumbuhan broiler dan pulet sebesar 15%.

3. Penyebab Biologis

Penyebab penyakit yang berupa agen biologis antara lain: bakteri, virus, jamur, protozoa dan metazoa. Penyakit akibat agen biologis ini bersifat menular (infeksius), sedangkan agen kimiawi maupun fisik bersifat tidak menular (non infeksius). Pada umumnya penyakit virus bersifat sangat akut karena menimbulkan angka kematian yang tinggi bagi ternak dan penyakit ini tidak dapat diobati, hanya dapat dicegah dengan sanitasi dan vaksinasi. Pengobatan pada penyakit virus dengan antibiotik dimaksudkan tidak untuk membunuh virus, namun hanya bertujuan untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder oleh bakteri yang memperburuk kondisi ternak.

C. Penentuan Jenis Dan Penghitungan Dosis Obat

Dosis obat adalah jumlah atau takaran tertentu dari suatu obat yang memberikan efek tertentu terhadap suatu penyakit. Pemberian dosis obat haruslah tepat karena jika dosis terlalu rendah, maka efek terapi tidak tercapai. Sebaliknya jika berlebih, bisa menimbulkan efek toksik atau keracunan bahkan kematian. Takaran pemakaian yang dimuat dalam farmakope Indonesia dan farmakope negara-negara lain hanya dimaksudkan sebagai pedoman saja.

1. Macam-macam dosis obat berdasarkan takaran yang digunakan:

Dosis terapi atau dosis lazim adalah takaran yang diberikan dalam keadaan biasa dan dapat menyembuhkan. Dosis lazim suatu obat dapat ditentukan sebagai jumlah yang dapat diharapkan menimbulkan efek pada pengobatan ternak dewasa yang sesuai dengan gejalanya. Rentangan dosis lazim suatu obat menunjukkan perkisaran kuantitatif atau jumlah obat yang dapat ditentukan dalam kerangka praktek pengobatan biasa. Untuk obat-obatan yang mungkin dipakai oleh ternak muda maka dosisya diturunkan dari dosis ternak dewasa.

2. Dosis maksimal (DM)

adalah takaran terbesar yang dapat diberikan kepada ternak dewasa untuk pemakaian sekali dan sehari tanpa membahayakan. Dosis maksimal bukan merupakan batas yang harus mutlak ditaati.

3. Lethal dose 50 adalah takaran yang menyebabkan kematian pada 50% hewan percobaan.

4. Lethal dose 100 adalah takaran yang menyebabkan kematian pada 100% hewan percobaan.

5. Dosis toksis adalah takaran pemberian obat yang dapat menyebabkan keracunan, tetapi tidak menyebabkan kematian.

6. Dosis sinergis,

bila dalam suatu resep terdapat dua atau lebih bahan obat yang berDM dan menpunyai efek yang sama maka dihitung DM gabungann yang tidak boleh lebih dari satu.

Tujuan perhitungan dosis obat adalah agar hewan mendapatkan obat sesuai dengan yang diperlukan oleh ternak tersebut, atau berdasarkan dosis yang ditentukan oleh dokter hewan resep. Dosis obat yang harus diberikan pada ternak untuk menghasilkan efek yang diharapkan tergantung dari banyak faktor, diantarannya:

1. Umur

Umur ternak merupakan suatu pertimbangan untuk menentukan dosis obat, dosis obat memiliki kekhususan dalam perawatan neonatal (kelahiran baru) , ternak pedriatik dan geriatik. Dosis yang dipergunakan bagi ternak pediatrik merupakan pecahan dari dosis orang dewasa, tergantung pada umur pasein dan secara relatif terhadap ternak yang lebih muda

2. Bobot badan

Rasio antara jumlah obat yang digunakan dan bobot tubuh memengaruhi konsentarsi obat pada tempat kerjanya. Untuk itu dosis obat memerlukan penyesuaian dari dosis biasa untuk ternak dewasa ke dosis yang tidak lazim, ternak kurus atau gemuk, penentuan dosis obat untuk ternak yang lebih muda, berdasarkan bobot badan lebih tepat diandalkan dari pada yang mendasarkan kepada umur sepenuhnya.
Dosis obat berdasarkan bobot badan, dinyatakan dalam milligram (obat) perkilogram (berat badan).

3. Status Patologi

Efek obat-obatan tertentu dapat dimodifikasikan oleh kondisi patologi ternak dan harus dipertimbangkan dalam penentuan obat yang akan digunakan dan juga dosisnya yang tepat. Obat-obat yang memiliki potensi berbahaya tinggi pada suatu situasi terapentik tertentu hanya boleh dipakai apabila kemungkinan manfaatnya melebihi kemungkinan risikonya terhadap ternak, dan bila sudah tidak ada lainnya yang cocok dan kemungkinan keracunannya lebih rendah.

4. Toleransi

Kemampuan untuk memperpanjang pengaruh suatu obat, khususnya apabila dibutuhkan untuk pemakaian bahan yang terus menerus disebut toleransi obat. Efek toleransi obat ialah obat yang dosisnya harus ditambah untuk menjaga respon terapeutik tertentu. Untuk kebanyakan obat-obatan pengembang toleransi dapat diperkecil dengan cara memprakasai terapi dengan dosis efektifnya yang terendah dengan cara mencegah perpanjangan pemakaian.

5. Terapi dengan obat yang diberikan secara bersamaan.

Efek-efek suatu obat dapat dimodifikasikan dengan pemberian obat lainnya secara bersamaan atau sebelumnya. Keterlibatan semacam ini antara obatobatan dihubungkan atau dirujuk pada interaksi obat-obatan dan merupakan akibat interaksi obat-obatan secara fisik, kimiawi, atau karena terjadinya perubahan pada pola absorpsi, distribusi, metabolisme atau eksresi salah satu obat tersebut. Efek dari interaksi obat dapat bermanfaat dan mengganggu terapi.

6. Waktu Pemakaian

Waktu ketika obat itu dipakai memengaruhi dosisnya, terutama pada terapi oral dalam hubungannya dengan makanan.J adwal waktu yang tepat dari dosis obat merupakan suatu faktorp enyakit dan kadar obat dalam tubuh yang diharapkan, sifat fisika kimia obat itu sendiri, rancangan bentuk sediaan dan derajat serta kecepatan absorpsi obat.

D. Tata Cara Pengobatan

Pengobatan adalah kegiatan yang dilakukan untuk membebaskan makhluk hidup dari penyakit. Setelah melalui sederetan pemeriksaan yang berurutan dan kronologis atau disebut juga diagnosa maka akan dihasilkan suatu kesimpulan yang menyatakan ternak tersebut terserang suatu penyakit tertentu. Dari hasil pemeriksaan tersebut akan dapat dilakukan dua macam pengobatan yaitu pengobatan yang sifatnya simptomatis dan pengobatan atau therapy causalis.

Pengobatan berasal dari kata obat yang berarti suatu sediaan yang diberikan untuk tujuan penyembuhan serangan suatu penyakit dengan jalan membunuh jasad renik/kuman penyebab penyakit tersebut atau dengan memperbaiki kerja alat tubuh. Obat dapat membahayakan ternak pemakainya sehingga penggunaan obat harus sesuai dosis dan sesuai petunjuk.

Jenis- jenis obat yang biasa digunakan untuk pengobatan sapi sakit dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
1. Berdasarkan bentuk obat
a. Cair
b. Serbuk
c. Kristal
d. bolus atau tablet atau pil
e. emulsi

2. Berdasarkan kekuatan membunuh mikroorganisme
a. Spektrum luas
b. Spektrum sempit (spesifik)

Suntikan intravena

Penyuntikan intravena adalah penyuntikan yang berbahaya sehingga pelaksanaannya harus hati-hati dan terus-menerus memperhatikan denyut jantungnya. Lokasi penyuntikan biasanya di vena jugularis yang terletak di daerah pangkal leher. Ketiga cara pengobatan dengan injeksi yang biasa digunakan untuk pengobatan sapi yang sakit adalah injeksi intramuskular, karena mudah cara melakukan dan efek sampingnya relatif kecil.

Sakit adalah suatu keadaan tubuh, bagian tubuh atau organ tubuh mengalami gangguan fungsi. Gangguan ini bisa bersifat fisiologis ataupun mekanis. Gangguan yang bersifat mekanis misalnya terjadi karena pukulan atau perlukaan. Sedangkan gangguan yang bersifat fisiologis misalnya karena kelainan hormonal. Pengobatan terhadap gangguan-gangguan tersebut dapat dilakukan dengan tindakan untuk menghilangkan keadaan tidak normal tersebut. Berbagai pengobatan yang dapat dilakukan yaitu :

1. Pengobatan simptomatis

Pengobatan simptomatis merupakan pengobatan untuk menghilangkan gejala penyakit. Pada pengobatan ini, gejala-gejala penyakit yang ada akan hilang tetapi penyebab penyakit mungkin masih ada. Sebagai contoh pada penyakit gatal hanya gejala gatalnya yang dihilangkan, bukan penyebab gatalnya sendiri.

2. Pengobatan causalis

Pengobatan causlis adalah pengobatan yang dilakukan untuk menghilangkan penyebab munculnya gejala penyakit. Pada contoh diatas penyakit gatal dianalisis terlebih dahulu penyebab gatalnya, baru diobati. Misalnya karena jamur, maka diobati dengan antijamur.

Untuk mengurangi penyebaran penyakit pada ternak yang telah menderita sakit maka ada beberapa hal yang dapat dilakukan ialah;
  1. Jika ada ternak yang sakit harus segera dipisahkan,
  2. Segera lakukan pengamatan secara mendalam pada ternak-ternak yang lain apakah ada tanda-tanda sakit atau tidak misalnya tingkah laku ternak, tanda-tanda fisiknya, nafsu makan dan sebagainya, dan
  3. Jika perlu upayakan pengobatan sementara.
Pemakaian obat-obatan memerlukan kehatian-hatian karena kesalahan pemberian akan berakibat fatal dan kalaupun tidak maka pemakaian obat yang tidak tepat akan merugikan peternak. Beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain
  1. Selalu membaca label dan ikutilah petunjuk penggunaannya secara hatihati,
  2. Jangan gunakan obatobatan kadaluwarsa,
  3. Jangan mencampur beberapa obat-obatan sekaligus tanpa konsultasi atau anjuran dokter hewan,
  4. Berikan obatobat sesuai jangka waktu yang ditentukan atau berdasarkan resistensi mikroorganisme,
  5. Antibiotika dan obat-obat sulfa sebaiknya diberikan paling sedikit selama 3 hari atau selama 2 hari sesudah gejala penyakitnya menghilang,
  6. Simpan obat-obat di tempat yang dingin dan di luar jangkauan sinarmatahari.
  7. Pakailah selalu alat-alat yang steril bila menyuntikan obat.

Sebelum alat akan digunakan untuk pengobatan maka harus dilakukan sterilisasi misalnya dengan dengan sabun, desinfektan dan air hangat untuk kemudian disterilisasikan dengan air panas selama 15 – 20 menit. Pemberian obat dilakukan antara lain melalui mulut (oral), disuntikan secara intra muskuler, sub kutan (bawah kulit), dan melalui vena. Ada juga obat yang diberikan secara intra mamaria misalnya untuk mastitis (radang ambing), intra uterina (yang diberikan terutama pasca melahirkan), salep mata dan kulit.


LEMBAR PRAKTIKUM

Kegiatan 1 : Melakukan karantina ternak
Tujuan : Peserta didik dapat melakukan pencegahan penularan penyakit

Alat dan Bahan :
1. Sekelompok ternak
2. Kandang karantina
3. Peralatan pemeriksaan ternak

Keselamatan kerja :
1. Gunakan baju lapangan
2. Hati-hatilah dalam bekerja

Langkah kerja :
1. Siapkan alat dan bahan yang diperlukan.
2. Lakukan pengamatan terhadap sekelompok ternak sapi potong.
3. Ambil kesimpulan terhadap pengamatan yang telah dilakukan.
4. Lakukan tindakan yang harus dilakukan berkaitan dengan kesimpulan yang telah dibuat.

CAKRAWALA
Penyakit

Peternakan intensif akan menyebabkan evolusi penyakit berbahaya lebih mudah. Banyak penyakit yang bisa tersebar cepat melalui populasi hewan ternak yang tinggi, dan genetic reassortment untuk meningkatkan kekebalan terhadap antibiotik dan pestisida menjadi lebih sering terjadi bagi parasit. Dan beberapa bukti menyimpulkan bahwa penggunaan antibiotik pada hewan ternak akan menyebabkan resistensi antibiotik parasit pada manusia.


RANGKUMAN
Faktor penting dalam kesehatan hewan ternak adalah perawatan yang baik, makanan yang tepat serta penjagaan kebersihan. Secara ekonomi, upaya menjaga kesehatan ternak akan menghasilkan keuntungan berupa produksi yang lebih optimal. Jika ternak terkena penyakit, ilmu kedokteran hewan dapat digunakan untuk mengobatinya, baik oleh peternak sendiri ataupun oleh dokter hewan. Di beberapa negara, seperti di Uni Eropa, ketika peternak mengobati ternaknya sendiri, mereka tetap diwajibkan mengikuti aturan yang ada dan mencatat tindakan yang diberikan.Terdapat penyakit yang umum menjangkiti hewan ternak. Sebagian hanya menjangkiti hewan tertentu, misalnya penyakit kolera babi yang hanya menjangkiti babi, atau penyakit mulut dan kuku yang menjangkiti berbagai hewan berkuku belah.

Dalam kondisi parah, pemerintah dapat melakukan tindakan dengan membatasi impor atau ekspor, membatasi perpindahan ternak, menerapkan karantina, serta mewajibkan laporan dugaan penyakit. Sebagian penyakit dapat dicegah dengan vaksinasi, dan sebagian dapat diobati dengan antibiotik. Antibiotik pernah ditambahkan ke pakan untuk membantu pertumbuhan, tetapi praktik ini kini dihindari di banyak negara karena meningkatkan risiko resistansi antibiotik.

Hewan dalam sistem peternakan intensif memiliki risiko tinggi terhadap parasit, baik parasit internal maupun eksternal. Contohnya, kutu laut banyak menjangkiti ikan salmon yang diternakkan secara intensif di Skotlandia. Mengurangi atau memberantas parasit pada hewan ternak dapat meningkatkan produktivitas dan keuntungan.

Sebagian penyakit, disebut zoonosis, dapat menular dari hewan ke manusia. Kadang penyakit ini berasal dari hewan liar yang menularkan penyakitnya ke hewan ternak yang memiliki keamanan biologi rendah. Menjangkitnya infeksi virus Nipah di Malaysia pada 1999 berasal dari babi yang mengalami kontak dengan kalong beserta kotoran dan urinnya. Babi ini terkena penyakit yang kemudian menular ke manusia. Penyakit flu burung H5N1 berasal dari populasi burung liar dan dapat menyebar jarak jauh melalui migrasi burung. Virus ini mudah menyebar ke unggas ternak, dan ke manusia yang hidup dekat unggas tersebut. Penyakit-penyakit lain yang dapat menular ke manusia dari hewan ternak maupun liar adalah rabies, leptospirosis, bruselosis, tuberkulosis, dan trikinosis.

Demikian cara menerapkan penanganan aneka ternak sakit, Pengertian, Identifikasi Jenis Penyakit, Penentuan Jenis dan Penghitungan Dosis Obat, Tata Cara Pengobatan yang bisa kami paparkan.
Bintan News
Bintan News Buku catatan digital seorang guru yang menuangkan pengetahuan kedalam tulisan. Semoga artikel tulisan saya bermanfaat bagi orang banyak. Mari menulis! Mari Membaca! Bintan News
close