Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Menerapkan Penanganan Handling Aneka Ternak

Penanganan Handling Aneka Ternak - Setelah selesai pembelajaran peserta didik diharapkan mengetahui dan memahami cara menangani aneka ternak dengan baik dan benar sehingga ternak tidak setres, kesakitan, terluka atau cidera.
Menerapkan penanganan/handling aneka ternak
Gambar 5.1 handling hewan
Sumber: handling-dan-restrain-praktis-pada.html

Pengetahuan mengenai handling dan restrain harus dipelajari dengan baik, karena berkaitan langsung dengan penanganan hewan di lapangan. Berbagai hewan memiliki teknik handling dan restrain yang berbeda-beda. Penerapan handling dan restrain pada kucing digunakan untuk menghindari gigitan dan cakaran sedangkan pada sapi digunakan untuk menghindari tendangan, serudukan, dan himpitan. 

Menerapkan penanganan/handling aneka ternak

Handling dan restrain bukanlah ilmu pengetahuan yang dihafalkan begitu saja, harus ada praktik langsung untuk meningkatkan skill (kemampuan) dari masingmasing orang. Oleh karena itu, diperlukan pembiasaan dalam menangani hewan tertentu.

Kegiatan handling atau penanganan ternak sebaiknya dimulai dari mempelajari tingkah laku ternak tersebut. Dalam tingkah laku ternak yang dapat diamati adalah bagaimana ternak tersebut makan, minum, sedang istirahat, reaksi ternak apabila ternak tersebut didekati, bagaimana apabila ternak sedang berjalan, ternak sedang berlari, atau ternak sedang sendirian, ternak sedang berada dikelompoknya dan yang tidak kalah penting adalah mempelajari sifat-sifat ternak tersebut.

A. Pengertian

Handling merupakan suatu tindakan yang dilakukan untuk membatasi gerakan hewan dengan tangan tetapi hewan masih tetap bisa bergerak. Misalnya, handling pada kucing dengan cara memegang punggung lehernya saat ingin melakukan injeksi. Sedangkan restrain merupakan tindakan membatasi pergerakan hewan dengan menggunakan alat tertentu.

Perbedaan handling dan restrain terletak pada alat yang digunakan. Handling menggunakan tangan saja, sedangkan restrain menggunakan peralatan seperti cow halter, nose lead, rope squeeze, dan hold in hadgate, serta mobile stall.

1. Cow Halter

Cow Halter atau Cow Halter Rope merupakan tali yang digunakan untuk mengikat kepala sapi. Penggunaannya dilakukan ketika sapi tersebut tidak memiliki tali keluh pada hidungnya. Tali yang digunakan pada cow halter berbeda-beda, hal tersebut membedakan kualitas masing-masing cow halter. Bahkan jika kalian memiliki kain tambang yang cukup panjang, kalian bisa membuat cow halter sendiri. Kalian harus memastikan bahwa simpul yang kalian buat benar-benar kuat. Begitu juga dengan tali yang digunakan, tidak boleh rusak ataupun kasar karena dapat melukai wajah si sapi.

2. Nose Lead

Nose lead adalah peralatan restrain yang dipasang pada hidung sapi, tepatnya di cuping hidung. Sama halnya dengan cow halter, nose lead digunakan untuk mengarahkan kepala sapi agar menurut pada pemiliknya. Dibandingkan dengan tali keluh biasa, nose lead memiliki kelebihan, yaitu tidak perlu dilakukan pelubangan cuping hidung.

Sapi akan menuruti pemandu karena apabila memberontak sapi akan merasakan sakit pada hidungnya. Bahkan jika menggunakan tali keluh biasa, hidung sapi bisa mengeluarkan darah. Hal tersebut tentu kurang bagus untuk sapi.

3. Rope Squeze

Rope Squeze merupakan seutas tali yang digunakan untuk merebahkan sapi. Seekor sapi yang berat dan bertubuh besar dapat dengan mudah dirobohkan menggunakan simpul dari rope squeze yang sudah terpasang. Namun tentu saja dibutuhkan tenaga yang kuat untuk menarik rope squeze hingga si sapi roboh.

4. Hold in Hadgate

Hold in hadgate atau kandang jepit merupakan alat restrain modern yang mudah dan cepat untuk digunakan. Selain kemudahan dalam pengoperasian, penggunaan kandang jepit dapat meminimalisasi kemungkinan cedera yang dapat terjadi dengan baik.

Sapi dimasukkan terlebih dahulu ke dalam kandang jepit kemudian kandang akan menjepit tubuh sapi. Begitu juga dengan kaki sapi. Setelah tubuh sapi terangkat sempurna, maka kandang akan miring hingga sapi terbaring.

5. Mobile Stall

Sama halnya dengan kandang jepit, mobile stall juga bekerja dengan cara menjepit tubuh hewan di dalam kandang. Mobile stall digunakan secara manual dan dapat dipindahkan dengan mudah dan biasanya, mobile stall digunakan untuk pemeriksaan kilat di padang penggembalaan.

6. Brangus

Brangus merupakan penutup mulut atau moncong yang digunakan pada restrain anjing, kucing, dan hewan penggigit lainnya, misalnya buaya. Brangus dipasang pada moncong agar hewan tidak bisa menggigit orang.

Penggunaan brangus sangat penting untuk menangani anjing dan kucing yang agresif. Mengingat, gigitan anjing dan kucing tidak hanya menimbulkan luka. Namun, terkadang air liurnya mengandung bakteri atau virus berbahaya. Misalnya virus mematikan rabies, yang dapat menular melalui gigitan anjing dan kucing.

7. Burrito

Burrito digunakan untuk menangani kucing. Kucing yang agresif dipakaikan burrito agar tidak bisa mencakar saat dilakukan penanganan. Kucing memiliki kuku yang tajam, sehingga penggunaan burrito dirasa penting untuk menghindari cedera karena cakaran.

Apabila restrain menggunakan peralatan sudah tidak memungkinkan, maka cara terakhir yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan bius atau anastesi. Bius dapat berupa bius umum atau bius lokal. Penggunaan bius pada hewan penting dilakukan dalam beberapa keadaan, seperti pada pengobatan hewan buas yang sulit dijinakkan, maupun pada operasi tertentu untuk meminimalisir rasa sakit.

8. Transportasi Hewan Ternak

Transportasi hewan ternak adalah usaha memindahkan binatang hidup dengan kapal, kereta rel, jalan raya dan kapal udara. Hewan ternak ditransportasikan dengan berbagai alasan, termasuk namun tidak terbatas pada, penjualan, pelelangan, pengembangbiakkan, pameran hewan ternak, rodeo, bazaar, penyembelihan dan penggembalaan ternak.
Gambar 5.2 Pengiriman sapi dengan truk B dobel di Moore, New South Wales, Australia
Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Transportasi_hewan_ternak

Efek Pengiriman Hewan Ternak. Pengiriman hewan ternak tanpa penanganan yang baik tentu saja merupakan hal yang cukup membahayakan bagi hewan ternak dan industri peternakan yang dapat mengakibatkan loss dari produksi total. Efek buruk dari pengiriman hewan ternak diantaranya stres, hilangnya pengendalian diri dari hewan ternak, sesak nafas, dehidrasi, keracunan, kelelahan, luka akibat kondisi transportasi yang kurang baik atau perkelahian antar sesama hewan ternak, hingga gagal jantung.

B. Penanganan Pada Ternak

Penanganan adalah suatu proses yang pada kegiatan manusia melakukan pekerjaan terhadap ternak membutuhkan beberapa pengekangan atau penyesuaian diri ternak tersebut. Dalam penanganan ada yang disebut handling dan restrain. Handling adalah membuat gerakan hewan dibatasi sehingga tidak sulit penanganannya tetapi hewan masih bisa bergerak. Restrain adalah memperlakukan hewan agar tidak bisa bergerak dalam keadaan sadar.

Pada dasarnya ternak merupakan hewan liar yang telah didomestikasikan untuk keperluan menghasilkan produk sesusai kebutuhan manusia. Dapat dipastikan bahwa semua jenis ternak yang telah didomestikasikan itu masih mempunyai sifat-sifat dasar, disamping itu ternak-ternak besar (seperti kerbau, sapi) mempunyai tenaga ekstra yang sangat kuat jika dibandingkan dengan kekuatan manusia, sehingga untuk keperluan pengelolaan sehari-hari kita dituntut untuk menguasai teknik-teknik pengusaan ternak.

Dalam menangani sapi, peternak perlu memiliki pengetahuan mengenali tali temali terlebih dahulu agar bisa merestrain dengan baik (Santosa, 2010) Handling adalah suatu cara atau teknik menangani ternak. Handling diperlukan untuk mempermudah penanganan ternak, baik di lapangan maupun di dalam kandang, menghindarkan kerugian yang disebabkan oleh ternak, menjamin keamanan ternak itu sendiri, mempermudah penanganan sehari-hari, seperti pemotongan kuku, ekor, tanduk, dan lain-lain. Pengetahuan yang berkaitan denga penanganan ternak (handling) yaitu menggunakan tali atau tambang, cara mengikat juga perlu diketahui dengan baik.

Hal-hal yang perlu diperhatikan saat melakukan handling ternak adalah mengusahakan datang dari arah depan ternak secara perlahan-lahan sehingga ternak mengetahui kedatangan kita dan tidak terkejut, memperlakukan ternak secara halus agar ternak tidak merasa terkejut.

C. Teknik Penanganan Pada Ternak

Teknik Penanganan pada ternak diantaranya yaitu:

1. Pemotongan Kuku (Hooves Trimming)

Kuku tidak terpelihara akan sangat mengganggu karena dapat mengakibatkan kedudukan tulang teracak menjadi salah sehingga titik berat badan jatuh pada teracak bagian belakang, bentuk punggung menjadi seperti busur, mudah terjangkit penyakit kuku, dan mengakibatkan kepincangan pada ternak.

Kuku yang tumbuh panjang dapat menghambat aktivitas ternak, seperti naik turun kandang, berjalan untuk mendapatkan makanan dan minum, atau berdiri dengan baik sewaktu melakukan perkawinan. Di samping itu menyebabkan ternak sulit berjalan dan timpang, sehingga mudah terjatuh dan mengalami cidera. Kalau ternak itu sedang mengalami kebuntingan maka dapat mengakibatkan keguguran.

Upaya untuk menjaga agar kedudukan kuku tetap serasi, maka setiap 3-4 bulan sekali dianjurkan untuk melakukan pemotongan kuku secara teratur, terutama kuku kaki bagian belakang. Sebab kuku kaki depan lebih keras dibandingkan bagian belakang yang selalu basah terkena air kencing dan kotoran. Akan tetapi dari segi kecepatan pertumbuhan, kuku kaki belakang maupun kaki depan memiliki kecepatan tumbuh yang sama, sehingga baik kuku belakang maupun kuku kaki depan perlu dilakukan pemotongan secara teratur.

Tujuan pemotongan kuku adalah untuk menanggulangi masalah penyakit kuku dan menjaga keseimbangan gerak ternak pada saat berdiri, istirahat, efisiensi penggunaan ransum, dan produktivitas ternak. Pemotongan kuku dapat dilakukan dengan cara merebahkan ternak terlebih dahulu atau dapat pula tanpa merebahkan. Pemotongan kuku tanpa merebahkan ternak biasanya kurang memuaskan. Sebab tidak semua bagian kuku yang hendak dipotong dapat terpotong dengan baik dan akan sulit mengerjakannya jika kurang terampil.

2. Pemotong Paruh

Pemotong paruh merupakan suatu keharusan dalam suatu usaha peternakan ayam untuk mendapatkan ayam untuk mendapatkan keuntungan.

Ada empat hal yang akan dicapai dengan adanya pemotongan paruh ini yaitu :
a. Menghilangkan sifat kanibalisme pada ayam
b. Meningkatkan efisiensi dalam pemberian pakan
c. Mengurangi terjadinya stres
d. Menurunkan konversi makanan.

Kanibalisme pada ayam merupakan kebiasaan saling mematuk diantara sesamanya yang merupakan naluri sejak lahir. Konversi makanan adalah banyaknya makanan yang dibutuhkan untuk tiap pertumbuhan berat badan per 1 kg. Pemotongan paruh yang dilakukan pada DOC juga memberikan keuntungan dalam hal penanganan jauh lebih mudah dan paruhnya masih lunak, disamping itu apabila ayam mengalami stres akibat pemotongan paruh maka masih tersedia waktu yang cukup panjang untuk mengembalikan kondisinya kepada keadaan semula.

Untuk menghindari kemungkinan paruh kembali runcing pada umur 18 minggu (periode grower) dapat diatasi dengan cara memotong paruhnya sependek mungkin. Sebagai pedoman paruh dapat disisakan sepanjang 2-3 mm dari lubang hidung atau setengah dari panjang paruh semula. Alat untuk memotong paruh disebut debeaking dan memotong paruh disebut electric debeaker.

Tujuan pemotongan paruh :
a. Mencegah kanibalisme
b. Mencegah pematukan bulu
c. Mengurangi ransum yang terbuang

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemotongan paruh ini yaitu :
a. Pemotongan paruh dilakukan pada anak ayam umur 6-9 hari, dan paruh yang dipotong 1/3 dari panjang paruh bagian atas.
b. Pisau pemotong harus pijar, yaitu temperature pisau sekitar 815°C (1.500°F).
c. Harus teliti memotong paruh anak ayam lebih dari 500-600 ekor/jam.

3. Teknik Merebahkan Ternak

a. Teknik Merebahkan Model 1.

Setelah ditambatkan di batang pohon atau patok yang kokoh, tali yang telah disediakan diikatkan pada tali yang melingkar di leher. Kemudian ditarik hingga ke belakang punuk atau bagian belakang kaki depan. Tali dilingkarkan ke tubuh, disimpul di bagian samping kiri punggung. Ditarik ke belakang lagi hingga batas depan kaki bagian belakang, dilingkarkan ke tubuh, kemudian disimpul di bagian samping kiri punggung belakang. Dengan teknik model ini, hanya dibutuhkan satu orang saja untuk merebahkannya, dengan cara menarik tali dari belakang tubuh saja.

b. Teknik Merebahkan Model 2.

Model kedua adalah dengan melingkarkan tali di bagian depan punuk, menyilang ke bawah hingga di depan kedua kaki sapi. Tali ditarik ke bagian punggung secara menyilang lagi, kemudian ditarik ke belakang melalui selangkangan kaki belakang sapi. Model ini terkadang berisiko membuat kaki sapi menyepak ke belakang ketika ditarik melalui selangkangannya.

D. Kegunaan Penanganan Pada Ternak

Handling dan restrain memiliki beragam manfaat, baik untuk hewan ternak maupun orang yang menangani ternak tersebut. Penanganan ternak ditujukan untuk pemeriksaan kesehatan, pengobatan penyakit, dan perawatan rutin. Penggunaan teknik handling dan restrain yang benar akan meminimalisasi tingkat cedera yang dapat terjadi. Cedera dapat berasal dari gigitan, cakaran, pijakan, alergi, sengatan, tendangan, dan beberapa cedera lain seperti penyakit zoonosis.

Kegunaan penanganan pada ternak sapi diantaranya yaitu:

1. Menguasai sapi di lapangan

Hal-hal yang perlu diperhatikan pada waktu melakukan handling ternak adalah:

a. Perlu diusahakan datang dari arah depan ternak secara perlahan-lahan sehingga ternak bisa melihat kedatangan kita dan tidak terkejut.

b. Memperlakukan ternak dengan halus sehingga ternak tidak merasa takut.

c. Selanjutnya bila ada tali pengikatnya, dekatilah ternak secara pelan-pelan dan usahakan bisa memegang talinya. Kemudian tenangkan ternak dengan cara menepuk-nepuk tubuhnya, ikatkanlah tali pada sebatang pohon atau bawa langsung ke dalam kandang.

d. Sedangkan untuk ternak agak liar, setelah terpegang talinya usahakan direbahkan.

e. Bila ada tali pengikatnya usahakan agar ternak bisa digiring ke dalam kandang, yaitu dengan cara memancingnya dengan makanan (rumput) dan selanjutnya usahakan untuk bisa dipasang tali pengikat.

f. Sedangkan untuk ternak yang masih agak liar usahakan agar ternak dapat dijatuhkan dengan memasang jebakan lingkaran tali, setelah ternak jatuh baru masing-masing kaki depan dan belakangnya diikat menjadi satu. Dan setelah ternak dapat dikuasi, kemudian diberi tali pengikat pada lehernya.

2. Menguasai sapi dalam kandang

a. Jika ada tali pengikatnya, dekati ternak secara pelan-pelan agar tidak terkejut. Peganglah talinya dan usahakan untuk bisa merapatkan diri dengan ternak, lalu tepuk-tepuklah punggungnya secara halus. Kemudian ikatlah tali pada cincin pengikat yang ada.
b. Jika tidak ada tali pengikatanya, terlebih dahulu dekatilah ternak perlahanlahan agar ternak menjadi lebih tenang, baru kemudian pasangkan tali pengiktnya pada leher.

3. Merebahkan sapi

a. Sapi pedet

1) Dekatilah pedet, sudutkan dan peganglah pada leher dan pantatnya agar pedet bergerak maju atau mundur.
2) Tangan pemegang leher dilepaskan untuk kemudian memegang lutut kaki kanan lewat atas bahu.
3) Tekuk lutut sedikit mengukit dan tarik anak sapi ke arah tubuh kita, dengan demikian pedet akan meluncurkan ke tanah dan berbaring pada salah satu sisinya.

b. Sapi dewasa

Merobohkan ternak sapi yang dewasa cukup sulit dan memerlukan cara tali -temali yang agak rumit. Cara merobohkan sapi dewasa dapat dilakukan dengan pengikatan atau tanpa pengikat. Tiga cara merobohkan sapi dengan pengikatan tali yaitu dengan pengikatan leher, pengikatan silang dada dan pengikatan tanduk (bagi sapi yang bertanduk), cara merebahkan sapi sebagai berikut :
1) Siapkan seutas tali dengan panjang ±10 meter.
2) Ikatkan salah satu ujung tali pada leher sapi secara kendur.
3) Ikatkan tali ke belakang bahu dengan cara melilitnya pada dada di depan tulang punggung dan pinggangnya.
4) Seorang yang lain memegang tali “keloh” dan beberapa orang lagi menarik tali yang dililitkan pada tubuh sapi tadi ke belakang, maka kemudian sapi akan rebah.
5) Untuk penanganan lebih lanjut, masing-masing kaki depan belakang diikat menjadi satu. Leher ditekan agar tidak bangkit lagi.

Tujuan atau keuntungan yang anda dapat dari cara penanganan sapi yang baik.

1. Meningkatkan produktivitas

Menangani sapi dengan benar akan mengurangi stres pada sapi sehingga dapat memberikan hasil yang lebih baik. Sediakan peralatan dan perlengkapan yang memadai. Contoh: lantai yang tidak licin dan tidak bersudut tajam, dapat mengurangi kemungkinan cedera seperti patah tulang, memar dan luka sobek yang akan berakibat pada berkurangnya selera makan sapi yang akan berpengaruh juga pada hasil produksi.

2. Mengurangi biaya tenaga kerja

Bila anda memiliki fasilitas peralatan dan perlengkapan kerja yang memadai untuk memelihara sapi dengan jumlah sekitar 10-15 ekor akan dapat anda kerjakan sendiri. Dengan sistem penanganan yang efisien akan memudahkan anda untuk mengatur pergerakan, pemeliharaan dan pemantauan sapi, jadi akan mengurangi tingkat stres pada sapi dan tentunya pada anda juga.

3. Meningkatkan Keamanan Kerja

Sistem penanganan ternak yang baik akan mengurangi risiko anda dari terjangan sapi karena bisa dipastikan bahwa sapi akan bergerak dengan tenang, teratur dan rapi.

4. Menjaga Kesehatan ternak

Dengan perlakuan yang lembut, pergerakan yang teratur, kemudahan dalam pemeliharaan dan pemantauan, sapi akan terhindar dari risiko cedera serta stres. Maka kesehatan sapi akan terjaga dengan baik dan pada akhirnya dapat memberikan hasil yang memuaskan.

Informasi :



LEMBAR PRAKTIKUM

Kegiatan 1. Mengamati tingkah laku ternak
Waktu : 1 x 45 menit
Agar Anda dapat mengetahui dan memahami tentang tingkah laku ternak : Bacalah uraian materi berikut. Di dalam uraian materi berikut ini akan membahas tentang: tingkah laku ternak ruminansia, tingkah laku ternak unggas dan tingkah laku aneka ternak.

1. Tingkah laku ternak ruminansia

Yang dimaksud dengan tingkah laku ternak adalah tindak tanduk ternak yang terlihat dan saling berkaitan secara individu maupun secara bersama-sama/sikap atau reaksi ternak terhadap adanya rangsangan baik yang berasal dari dalam maupun dari luar tubuh atau adanya reaksi akibat adanya rangsangan dari lingkungannya (biotik maupun abiotik) atau dengan kata lain tingkah laku ternak adalah gerak-gerik ternak.

Penanganan ternak ruminansia atau yang sering disebut dengan istilah handling adalah kegiatan perlakuan peternak terhadap ternak dengan baik dan benar. Baik dan benar disini mengandung arti bahwa perlakuan peternak terhadap ternak tidak menyebabkan stres, cidera, ternak tercekik, atau yang lebih fatal adalah ternak sampai mati. Dan yang tidak kalah penting pada saat handling tersebut tidak menyebabkan petugas handling (handler) terinjak, tertanduk ataupun terseret oleh ternak.

Teknik atau cara bagaimana menangani ternak akan memengaruhi tingkah laku atau perilaku setelahnya. Perlakuan yang kasar terhadap ternak akan membuat ternak semakin memberontak, ketakutan dan bahkan dapat membahayakan peternak sendiri. Semakin ternak ketakutan maka semakin susah atau sulit untuk ditangani. Karena ternak akan menjadi lebih liar dan ganas, bahkan kemungkinan besar ternak tidak dapat dikendalikan. Apabila anda dapat memahami tingkah laku atau perilaku ternak, maka akan dapat mengurangi ternak menjadi stres, dan dapat pula menyebabkan bertambahnya berat badan ternak tersebut. Pada prinsipnya agar ternak dapat ditangani dengan mudah dan menjadikan ternak lebih bergairah maka penanganannya harus dilakukan dengan lemah lembut.

Untuk memulihkan kondisi ternak setelah kegiatan penanganan atau untuk memulihkan stabilitas emosi ternak setelah adanya perlakuan yang kasar memerlukan waktu kurang setengah jam (30 menit). Dengan waktu setengah jam (30 menit) itu dapat membuat laju jantung atau detak jantung untuk kembali normal.

Sebagian besar ternak cukup sensitif dengan gerakan atau suara gaduh yang mengejutkan dan akan sangat agresif pada saat musim kawin. Ternak yang baru baru melahirkan dan yang sedang mengasuh anaknya, maka ternak tersebut akan berusaha melindungi anaknya dengan segala kekuatannya sehingga handler harus mengetahui sifat-sifat dan karakter ternak tersebut.

Tingkah laku ternak ruminansia (sapi, kerbau, domba dan kambing) mempunyai sifat mengasuh anaknya, tingkah laku berkelahi atau menyerang, tingkah laku mencari perlindungan di tempat yang teduh setelah merumput, tingkah laku mencari makan, dan hampir semua ternak mempunyai sifat seperti itu. Ternak domba dan kambing yang dipelihara di padang penggembalaan pada umumnya berkelompok.

Tingkah laku ternak kerbau: pada saat cuaca panas maka sering dijumpai  ternak kerbau mandi di kubangan lumpur. Dengan tujuan untuk menghindari cuaca panas tersebut, karena kerbau mempunyai bulu yang jarang dan warna kulitnya hitam. Warna kulit yang hitam tersebut menyebabkan kerbau kurang tahan apabila terkena sinar matahari sehingga apabila ternak kerbau dipergunakan untuk mengerjakan sawah atau membajak sawah sebaiknya sering disiram dengan air, agar lebih tahan .

2. Tingkah laku ternak unggas

Unggas termasuk hewan omnivora, pada saat makan, ternak unggas mempunyai sifat mematuk makanan dengan paruhnya. Unggas jantan atau ayam jantan sering mematuk atau mengais batu-batu kecil atau makanan untuk memanggil betina. Kalau betina yang dipanggil tidak datang pada umumnya ayam jantan langsung mengejar-ngejar untuk mengawininya. Sedangkan ayam betina yang tidak siap dikawin pada umumnya lari. Tingkah laku ayam betina apabila siap untuk dikawin pada umumnya dada dan ekor merapat ke tanah dan sayap dikembangkan. Hal ini bertujuan untuk menjaga keseimbangan pada saat proses perkawinan.

Tingkah laku ayam betina yang akan bertelur pada umumnya berisik dan gelisah, dan ayam betina mempunyai sifat mengerami telurnya. Ayam betina yang sedang mempunyai anak biasanya galak dan apabila ada orang mendekat akan memberi reaksi melawan dengan serangan-serangan yang menakutkan.

Tingkah laku sosial adalah perilaku ternak yang disebabkan atau dipengaruhi oleh ternak lain (spesies yang sama atau beda). Pada ayam terdapat tingkatan sosial atau kasta yang biasa disebut peck order. Apabila tingkatan sosial ini telah dicapai pada suatu kelompok maka kandang itu akan menjadi tenang dan aman. Adapun faktor yang berpengaruh pada tingkatan sosial ternak ayam adalah : umur, ukuran dan berat, pengalaman dan keagresifan. Jika terjadi persaingan diantara kelompok ayam, maka ayam yang memiliki tingkatan sosial lebih rendah akan menghindar dari ayam yang mempunyai tingkatan sosial lebih tinggi, sehingga terjadi pengelompokan ayam antara tingkatan sosial pemenang dan yang kalah.

3. Tingkah laku aneka ternak

Pengertian aneka ternak adalah pemanfaatan jenis hewan yang belum optimal dibudidayakan dan satwa liar yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai hewan ternak, yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Batasan tentang aneka ternak disini adalah : Unggas produksi (ayam lokal, itik manila, angsa, kalkun, burung dara, burung wallet), serangga (lebah/ ulat sutera), monogastrik (babi/kuda/kelinci) dan hewan kesayangan (ayam hias, burung hias, rusa, anjing, kucing dan reptil).

Tingkah laku ternak kelinci betina yang sudah siap kawin biasanya  menunjukan tanda-tanda: selalu menggosok-gosokan bagian anggota tubuhnya pada dinding kandang atau tempat pakan dan lain sebagainya. Tingkah laku ternak babi:mempunyai sifat saling menyeruduk, mempunyai sifat rakus terhadap makanan karena babi termasuk ternak omnivora segala macam makanan dan mempunyai sifat membongkar tanah untuk mencari makanan.

Tingkah laku kucing sering menghilangkan bau kotoran (fesesnya) dengan cara menutup atau mengubur setelah kucing tersebut membuang kotorannya.

Tingkah lebah madu mempunyai sifat memakan makanan yang baikbaik saja, mempunyai sifat melawan apabila diganggu. Untuk menjaga atau melindungi terhadap suhu dingin maka lebah madu mempunyai sifat bergerombol atau saling berdekatan. Lebah madu mempunyai sifat pertahanan yang dapat membedakan anggota koloni atau bukan walaupun lebah tersebut mempunyai ciri-ciri yang sama persis karena setiap individu koloni lebah memiliki bau atau aroma khas yang berbeda untuk setiap koloni.

Tingkah laku rusa -- Ternak rusa merupakan ternak yang aktif pada waktu siang dan malam, hidupnya berkelompok dan dalam setiap kelompok pada umumnya ada 2 pemimpin.

Dalam keadaan normal pemimpin kelompok adalah rusa jantan dewasa. Rusa jantan dewasa biasanya memimpin kelompoknya dalam rangka perpindahan tempat untuk mencari makan dan penjelajahan wilayah secara periodik.

Dalam keadaan darurat atau menghadapi ancaman pemimpin kelompok akan diambil alih oleh induk. Dalam keadaan terdesak induk lebih bertanggung jawab terhadap kelompoknya sedangkan pejantan akan panik dan lebih sering pergi meninggalkan kelompok nya.

Tingkah laku walet -- Pada pagi hari, walet akan meninggalkan sarangnya untuk mencari makan. Burung walet biasa berburu (mencari makan) pada pagi-pagi sekali dan pulang pada sore sampai petang hari. Pada umumnya walet suka hidup di gua yaitu pada tebing-tebing yang curam dekat laut lepas atau di sekitar gua yang dikelilingi oleh hutan lebat dan menyukai ruangan-ruangan yang lembap dan gelap.

Pada umumnya burung walet tidak suka bertengger, hal ini disebabkan kaki walet terlalu lemah sehingga dimasukkan dalam golongan burung berkaki lemah (apodidae). Kedua kakinya lemah sehingga tidak dapat menopang tubuhnya untuk berdiri. Hal ini yang menyebabkan mengapa burung walet yang sering terlihat menggantung tubuhnya saat menempel di dinding. Jarang sekali bahkan mungkin tidak pernah kita lihat burung walet hinggap di dahan, ranting atau hinggap di genteng atau lainnya.

CAKRAWALA


Revolusi Pertanian Britania

Gambar 5.3 Revolusi Pertanian Britania
Sumber: https://id.m.wikipedia.org/wiki/Peternakan

Prinsip-prinsip ilmiah praktik seleksi buatan untuk menghasilkan keturunan dengan sifat-sifat unggul secara sistematis diperkenalkan oleh Robert Bakewell pada abad ke-18 dan merupakan faktor penting dalam Revolusi Pertanian Britania. Dengan memilih dan mengawinkan hewan ternak lokal, Bakewell dengan cepat dapat menghasilkan jenis domba yang besar, bertulang lembut, dengan wol panjang dan berkualitas tinggi. Bakewell mengembangkan ras Domba Lincoln, yang juga digunakan menghasilkan ras baru yang disebut New Leicester (atau Dishley Leicester). Ras ini adalah dogol atau tidak bertanduk, dan memiliki tubuh berdaging, gemuk, dan berbentuk mirip segi empat. Ia menyewakan hewan-hewan ternaknya untuk peternak lain yang juga ingin memuliakan ternaknya. Domba-domba ini juga diekspor dan merupakan salah satu sumber gen ras-ras domba modern. Di bawah pengaruhnya, para peternak Inggris mengembangkan pertanian sapi potong. Salah satu ras sapi yang dihasilkan adalah Longhorn Inggris

RANGKUMAN
Hewan ternak harus ditangani dengan baik untuk mencapai kesejahteraan hewan dan kualitas dagingnya baik. Adalah penting bahwa pengurusan hewan ternak harus memahami perilaku hewan dan prinsip-prinsip dasar penanganan hewan dengan stres rendah. SOP tersebut mencakup proses-proses berikut:
1. Desain dan pemeliharaan fasilitas penanganan
2. Memindahkan dan memilah/mengatur hewan ternak
3. Penggunaan alat bantu cattle talker (tongkat)

Demikian cara menerapkan penanganan/handling aneka ternak yang bisa kami paparkan kepada sobat semuanya. Semoga bermanfaat.
Bintan News
Bintan News Buku catatan digital seorang guru yang menuangkan pengetahuan kedalam tulisan. Semoga artikel tulisan saya bermanfaat bagi orang banyak. Mari menulis! Mari Membaca! Bintan News
close