-->

Menganalisis prosedur pengujian kesesuaian fungsi produk barang/jasa

Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran adalah agar siswa mampu untuk:
  1. Menganalisis pengujian kesesuaian fungsi contoh produk barang/jasa.
  2. Menentukan pengujian kesesuaian fungsi contoh produk barang/jasa.
  3. Melakukan pengujian produk barang/jasa.
Pengendalian mutu contoh produk/jasa dilakukan sebelum produk diproduksi dalam skala besar dan sebelum dipasarkan. Pengujian contoh produk adalah salah satu cara agar perusahaan tidak merugi dalam jumlah banyak, apabila produk tersebut gagal di pasaran.

Tujuannya adalah untuk memprediksi keberhasilan sebuah ide yang berupa hasil pengembangan produk yang akan laku atau tidak laku sama sekali. Dengan melakukan pengujian contoh produk, akan menghindari perusahaan memproduksi barang yang tidak digemari oleh konsumen, dan menjual kepada orang yang salah. Pengujian contoh produk dapat dilakukan secara teknis, dan pengujian terhadap penerimaan dan respon pasar terhadap produk yang sudah dibuat oleh produsen.

Menganalisis prosedur pengujian kesesuaian fungsi produk barang/jasa

Menganalisis prosedur pengujian kesesuaian fungsi produk barang/jasa

Pengujian teknis dilakukan dengan cara mencocokkan hasil pengujian dengan standar/spesifikasi yang sudah direncanakan. Penggujian respon konsumen dilakukan dengan tujuan untuk mengumpulkan segala informasi, produk jenis apa yang sesungguhnya dibutuhkan oleh konsumen. Sehingga masukan dari konsumen dapat memperkaya  khasanah dari produk yang akan dikembangkan.

Metode ini dapat dilakukan untuk berbagai produk/jasa yang akan dikembangkan oleh produsen. Pengujian contoh produk merupakan bagian dari analisis statistik, dimana dapat, membentuk dan mengubah ide-ide mengenai ide dasar untuk produk. Sebelum produk diperkenalkan di pasar, hal itu akan menguji keberhasilan produk.

a. Undang-Undang Perlindungan Konsumen

Hak perlindungan konsumen tertuang dalam UU perlindungan konsumen nomor 8 tahun 1999. Hak perlindungan konsumen adalah: hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan mengonsumsi barang / jasa, hak untuk memilih barang /jasa serta mendapatkan barang /jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan, hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif, hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan atau penggantian, apabila barang dan atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya dapat memenuhi dan memuaskan konsumen, aman serta bebas dari bahan-bahan berbahaya, yang menimbulkan dampak negatif pada konsumen.
Berdasarkan hak perlindungan konsumen tersebut, produsen mempunyai kewajiban untuk melindungi konsumen agar produk barang dan atau jasa yang mereka hasilkan betul-betul tidak menimbulkan dampak buruk kepada konsumen. Salah satu cara agar hak konsumen bisa terpenuhi adalah: produsen harus melakukan pengendalian kualitas mutu melalui pengujian mutu dan evaluasi produk.

b. Fungsi Pengujian Contoh Produk

Pengujian produk merupakan suatu proses pengukuran sifat atau kinerja suatu produk. Secara teknis pengujian produk adalah proses yang dilakukan oleh seorang peneliti/ahli, baik melalui pengukuran kinerja, keamanan, kualitas dan kesesuaian produk terhadap standar yang telah ditetapkan. Fungsi pengujian produk adalah untuk:
  1. Meningkatkan kinerja produk dan kepuasan pelanggan.
  2. Produk akan lebih unggul dibandingkan dengan produk pesaing .
  3. Dapat mengukur kadarluarsa pada kualitas produk dalam penyimpanan.
  4. Memberikan pedoman yang tepat terkait masalah harga, nama merk, kualitas kemasan produk.
  5. Dapat memantau kualitas produk dari berbagai pabrik dari tahun ke tahun dan jalur distribusinya.
  6. Memberikan gambaran daya terima konsumen terhadap produk tersebut

c. Tujuan Pengujian Produk

Menurut Kusmana(2019), tujuan pengujian produk adalah:
  1. Memastikan produk tersebut telah memenuhi persyaratan spesifikasi, regulasi dan kontrak produk.
  2. Memastikan produk sudah berjalan sesuai dengan standarnya melalui pembuktian demonstrasi produk.
  3. Menyediakan data standar bagi kepentingan ilmiah, teknik dan kegiatan penjaminan mutu.
  4. Menetapkan kesesuaian produk dengan penggunaan akhir.
  5. Sebagai dasar untuk komunikasi teknis produk.
  6. Sebagai sarana perbandingan dengan produk lain.
  7. Sebagai bukti dalam proses hukum seperti pertanggungjawaban produk, hak paten, klaim produk dan lain sebagainya.
  8. Membantu memecahkan masalah yang terkait dengan kendala produk.
  9. Membantu mengidentifikasi efesiensi biaya dalam proses produksi.

d. Persyaratan Pengujian Produk

Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi agar pengujian produk benar-benar akurat dan dapat diterapkan adalah sebagai berikut:

1) Pendekatan Sistem

Pendekatan sistem yang digunakan untuk metode dan prosedur pengujian produk harus memiliki sistem yang standar, sehingga setiap produk yang sejenis diuji dengan menggunakan cara yang sama. Selain itu harus memperhatikan persyaratan pegujian sebagai berikut:
  • Memenuhi persyaratan dan tata cara pengambilan sampel yang benar.
  • Sampel/cuplikan harus dapat mewakili populasi yang ada.
  • Sampel/cuplikan yang akan diuji harus sama, baik kemasan dan pengkodean.
  • Kuesioner yang diajukan harus sama.
  • Rencana sampling yang sama.
  • Metode preparasi dan tabulasi data dilakukan secara sama.

2) Data Normatif

Pengujian produk dilakukan secara berkelanjutan dari waktu ke waktu. Tujuannya untuk membangun data base normative sehingga hasil uji produk lebih memiliki nilai.

3) Perusahaan Penelitian yang Sama

Sebaiknya produsen menggunakan satu perusahaan riset untuk melakukan semua pengujian produknya.
Tujuannya untuk memastikan semua uji produk dilakukan dengan cara persis sama.

4) Uji Lingkungan Nyata

Adalah pengujian produk yang dilakukan oleh orangorang yang berada di lingkungan tempat nantinya produk tersebut akan digunakan.Jika produk tersebut digunakan di kantor maka produk tersebut harus diuji oleh orang- orang yang bekerja di kantor.

5) Populasi Sampel yang Relevan

Sampel merupakan variable penting dalam pengujian produk. Apabila produk baru atau produk yang memiliki pangsa pasar rendah maka sampel harus mencerminkan susunan merk dari pasar tersebut.

6) Variabel Kritis

Variabel kritis adalah variable untuk mengetahui kegunaan dan kualitas produk harus dipahami dari sudut pandang konsumen dan bukan dari produsen.
Contoh variable kritis adalah:
  1. Aspek produk apa saja yang benar-benar penting bagi konsumen.
  2. Apa saja variable kritis yang menentukan kepuasan konsumen terhadap produk tersebut. Variabel kritis ini harus diidentifikasi untuk setiap kategori produk agar dapat merancang sistem pengujian produk yang akurat.

7) Tindakan Konservatif

Pengujian dan evaluasi produk dilakukan bila akan merubah formulasi rumusan produk. Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah:
  1. Bila produsen telah yakin memiliki produk yang lebih baik, usahakan untuk memasarkan ke wilayah pemasaran yang terbatas selama periode tertentu. Tujuannya untuk melihat siklus pembelian produk berulang.
  2. Selanjutnya, lakukan distribusikan produk ke semua pangsa pasar. Semakin kecil pangsa pasar, akan semakin besar pula resiko yang diambil dengan formulasi baru tersebut. Semakin besar pangsa pasar semakin bisa mempertahankan keadaan dalam memperkenalkan formulasi baru.
  3. Pihak yang Berperan dalam Pengujian Produk. Aspek keamanan produk sendiri tidak hanya melibatkan kepentingan konsumen itu sendiri tapi juga melibatkan pemerintah yang melindungi konsumen. Adapun pihak yang berperan dalam pengujian produk sebagai berikut :

1) Pemerintah

Pemerintah dalam hal ini berperan sebagai pembuat regulasi, peraturan, perundang-undangan, yang mewajibkan produsen menjelaskan kegunaan produk dan menjamin keamanan produk. Pemerintah secara terus-menerus harus meningkatkan layanan terhadap konsumen, salah satunya adalah perlindungan konsumen dan standardisasi produk yaitu Standar Nasional Indonesia (SNI). Mengenai standardisasi produk dan SNI lebih lanjut dibahas pada bab 7.
Tahukah Kamu, apa saja lembaga pemerintah dan non pemerintah yang memiliki kewenangan dalam pengujian produk, dan standardisasi produk? Berikut ini akan dijelaskan satu per satu:

a) Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)

BPOM memilki tugas pokok dan fungsi untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pengawasan obat dan makanan. BPOM berada di bawah presiden dan bertanggung jawab kepada presiden melalui menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan.

BPOM adalah lembaga pemerintah non kementerian. Jenis-jenis produk yang mendapatkan izin edar BPOM adalah: kosmetik, obat-obatan farmasi, obat tradisonal, makanandan minuman, dan suplemen kesehatan.

Gambar 1.9 Logo BPOM
Sumber Gambar: https://cekbpom.pom.go.id/

b) Balai Pengujian dan Sertifikasi Mutu Barang (BPSMB)

Tugas pokok dan fungsi dari BPSMB adalah melakukan pengujian dan sertifikasi mutu barang sesuai dengan kewenangan dan pembinaan standardisasi, dalam rangka peningkatan mutu barang yang diproduksi produsen. Unit Pelaksanaan Terpadu (UPT) BPSMB berada di bawah Kementrian Perindustrian.

c) Lembaga Sertifikasi Produk BBK

LSPro-BBK adalah Lembaga independen di bawah Balai Besar Keramik Kementrian Perindustrian, yang menangani kegiatan sertifikasi produk sesuai dengan ruang lingkup kewenangan.

d) PT. SUCOFINDO

PT. Superintending Company of Indonesia (Persero), disingkat SUCOFINDO adalah sebuah BUMN Indonesia yang bergerak dalam bidang pemeriksaan, pengawasan, pengujian, dan pengkajian. Saat ini, 95% saham Sucofindo dimiliki Pemerintah Republik Indonesia, dan 5% oleh SGS S.A.

e) Badan Standardisasi Nasional (BSN)

Tugas pokok dan fungsi BSN adalah: mengembangkan dan membina kegiatan standardisasi di Indonesia. Badan ini menggantikan fungsi dari Dewan Standardisasi Nasional-DSN. Dalam melaksanakan tugasnya Badan Standardisasi Nasional berpedoman pada Peraturan Pemerintah No. 102 Tahun 2000 tentang Standardisasi Nasional. BSN merupakan lembaga pemerintah non departemen.

Gambar 1.10 Logo BSN
Sumber Gambar: https://www.bsn.go.id/

2) Organisasi Konsumen

Organisasi konsumen adalah perwakilan kepentingan konsumen kepada produsen dan pemerintah. Ketika pemerintah dan produsen tidak menetapkan standar kualitas suatu produk, maka organisasi konsumen beranggapan bahwa kualitas merupakan hal terpenting bagi konsumen. Organisasi konsumen yang ada di Indonesia adalah: Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). YLKI merupakan lembaga organisasi non pemerintah yang didirikan tanggal 11 Maret 1973. Tupoksi dari YLKI adalah: untuk meningatkan kesadaran kritis konsumen tentang hak dan kewajiban onusmen tentang hak dan tanggung jawabnya, sehingga konsumen dapat melindungi dirinya sendiri dan lingkungannya.

Gambar 1.11 Logo YKLI
Sumber Gambar: https://www.bsn.go.id/

Menentukan Metode Pengujian Produk (Barang)

Pengujian kesesuaian fungsi contoh produk merupakan bagian dari tahapan pengembangan produk yang akan dilakukan oleh produsen. Pengembangan produk merupakan salah satu cara perusahaan agar tetap eksis di pasaran, dan produknya dapat diterima oleh konsumen sepanjang waktu dilakukannya pengembangan produk.

Selain itu perusahaan dapat meningkatkan penjualan, dan memberikan peluang untuk mendapatkan pelanggan yang baru, dengan bertambahnya pelanggan, maka pendapatan perusahaan akan bertambah.
Kegiatan yang dilakukan saat melakukan pengujian kesesuaian fungsi contoh produk dapat kamu pelajari pada peta konsep di bawah ini!

Gambar 1.12 Kegiatan Pengujian Fungsi Contoh Produk
Sumber gambar: Yuzelma

Tujuannya dilakukannya pengujian kesesuaian contoh produk adalah:
  1. Memberikan keterangan rinci tentang produk dan peluang sukses produk kedepannya.
  2. Mengidentifikasi berbagai penyesuaian akhir dari produk. 
  3. Menetapkan program penting dalam pengembangan pemasaran, agar produk dikenal oleh pasar yang lebih luas.
Pengujian produk ada dua jenis, yaitu: pengujian secara teknis dan pengujian pasar, Pelajari masing-masing jenis pengujian di bawah ini!

a. Metode Pengujian Produk Secara Teknis

Apakah Kamu pernah membaca informasi kandungan nutrisi (nutrition food) di kemasan produk sebelum membeli produk seperti pada gambar di bawah ini? Silahkan kamu amati dan diskusikan dengan teman sebangkumu, tentang tujuan diberikannya informasi mengenai produk tersebut!

Gambar 1.13 Informasi Mengenai Produk Di Kemasan
Sumber: Yuzelma

Terteranya informasi mengenai produk pada bagian kemasan tidak serta merta ada begitu saja. Data informasi bisa dikeluarkan karena sudah melalui hasil pengujian teknis di laboratorium.

Pengujian teknis (technical testing) bertujuan untuk memberikan informasi mutu produk, apakah sesuai dengan parameter yang sudah terstandar. Pengujian tentang mutu produk pangan dimulai dari analisa protein, karbohidrat, lemak, kadar abu dan masih banyak parameter lainnya.

Informasi lain yang dihasilkan dari pengujian teknis produk pangan adalah: kadar air yang akan berhubungan langsung dengan usia simpan produk (product self life), tingkat keusangan produk, stabilitas produk, komposisi, masalah yang tidak seharusnya terjadi apabila produk dipakai oleh konsumen, seperti: produk menggumpal, terjadi perubahan warna, dan kesukaan panelis.

Berikut dijelaskan critical point pengujian teknis yang harus dilakukan pada produk pangan untuk dua fungsi contoh produk, yaitu minuman jahe merah instan dan gula semut. Rancangan parameter yang akan diuji adalah: uji organoleptik kepada panelis/konsumen, kadar air, stabilitas produk, usia simpan. Sedangkan analisa proximat tidak dibahas dalam bab ini.Berikut akan dijelaskan masing-masing pengujian teknis yang dapat dilakukan.

1) Pengujian Organoleptik dan Uji Kesukaan Panelis.

Uji organoleptik adalah uji yang dilakukan untuk mengetahui warna, rasa, dan aroma. Uji organoleptik lebih dikenal dengan uji rasa dengan menggunakan panca indra (penginderaan). Penginderaan merupakan proses fisio-psikologis, kesadaran atau pengenalan alat indra akan sifat-sifat benda karena adanya rangsangan yang diterima alat indra berasal dari benda tersebut. angsangan yang diterima indra bersifat mekanis (tekanan, tusukan), bersifat fisis (dingin, panas, sinar, warna), sifat kimia (bau, aroma, rasa).

Pada waktu alat indra menerima rangsangan, sebelum terjadi kesadaran prosesnya adalah fisiologis, yaitu dimulai di reseptor dan diteruskan pada susunan syaraf sensori atau syaraf penerimaan (Modul Pengujian Organoleptik UMY Semarang, 2013). Uji penginderaan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:

a) Uji pembeda pasangan.
Uji pembedaan pasangan yang juga disebut dengan paired comperation, paired test atau comparation. merupakan uji yang sederhana dan berfungsi untuk menilai ada tidaknya perbedaan antara dua macam produk. Biasanya produk yang diuji adalah jenis produk baru kemudian dibandingkan dengan produk terdahulu yang sudah diterima oleh masyarakat (UMY Semarang, 2013).

b) Uji kesukaan
Uji kesukaan (hedonik) biasanya dilakukan untuk menilai produk akhir. Caranya dengan meminta tanggapan pribadi panelis tentang kesukaan atau ketidaksukaannya terhadap produk yang akan diuji. Setelah itu panelis mengemukakan respon atau tanggapanya berupa senang, suka atau tidak suka. Tingkat kesukaan ini yang disebut skala hedonik.

Contoh skala hedonik adalah: dalam hal “ suka “ yaitu : amat sangat suka, sangat suka, suka dan agak suka. Sebaliknya jika tanggapan itu “tidak suka“dapat mempunyai skala hedonik seperti suka dan agak suka, terdapat tanggapannya yang disebut sebagai netral, yaitu bukan suka tetapi juga bukan tidak suka ( neither like nor dislike ).

Pada bab ini uji kesukaan (hedonik) fokus pada uji rasa, warna, dan aroma. Berikut dijelaskan untuk masing-masingnya.

(1) Pengujian Rasa
Rasa suatu produk biasa muncul dari bahan dan proses yang dilakukan, rasa yang enak akan lebih disukai oleh konsumen. Rasa akan membuat konsumen memutuskan untuk menerima atau menolak produk tersebut. Untuk menentukan hasil uji rasa, konsumen/panelis akan mencicipi rasa dari produk tersebut, kemudian panelis akan mengisi instrument yang sudah produsen siapkan. Ada tabel skoring, seperti: sangat suka, suka, agak suka dan kurang suka.

(2) Pengujian aroma
Aroma dapat menimbulkan sikap penerimaan dan penolakan dari konsumen. Aroma penting diuji secara organoleptik kepada panelis karena aroma dapat menentukan bahan-bahan yang terkandung di dalam produk tersebut. Aroma juga dapat menentukan kelezatan dari produk pangan tersebut.
Pengujian aroma diujikan kepada konsumen/panelis dengan cara menyium aroma produk tersebut, dan kemudian panelis akan mengisi instrument yang sudah produsen siapkan. Ada tabel skoring, seperti: sangat suka, suka, agak suka dan kurang suka.

(3) Pengujian warna
Warna dari produk pangan merupakan estetika, pandangan pertama konsumen adalah warna. Bagaimanapun aroma dan rasanya menarik, namun warnanya tidak menarik, maka produk bisa saja di tolak oleh konsumen. Secara kimia warna merupakan indikator terjadinya perubahan kimia pada produk pangan tersebut. Contohnya adalah warna gula semut akan lebih segar dan cerah dibandingkan dengan gula cetak.

Pengujian respon panelis terhadap warna pada produk pangan yang diuji, dilakukan dengan cara mengamati produk. Kemudian panelis akan memberikan pernyataan, sangat suka, suka, agak suka dan tidak suka terhadap produk tersebut. Data kemudian dianalisis dan disimpulkan untuk mengetahui apakah pengujian ini hasilnya positif atau negatif diterima oleh konsumen.

2) Pengujian Kadar Air

Produk minuman instan yang berbentuk serbuk, baik jahe merah instan dan gula semut dan produk instan lainnya, merupakan produk konsentrat, dengan cara menghilangkan kadar air, hingga mendekati 3%. Tujuannya dibuat serbuk untuk memudahkan kelarutan dalam air panas/dingin, sehingga siap saji.
Kadar air yang terdapat dalam produk ada dua yaitu: 

kadar air bebas dan kadar air terikat.Kadar air bebas dapat dihilangkan dengan proses penguaan (evaporasi), sedangkan kadar air terikat sulit untuk dihilangkan. Pengujian kadar air pada minuman serbuk instan dan gula semut harus dilakukan, karena kandungan air yang terdapat dalam minuman serbuk instan akan menentukan usia simpan (product self life).

Kadar air yang tinggi dapat menyebabkan laju pertumbuhan mikroba meningkat. Oleh sebab itu dalam membuat minuman serbuk dan gula merah instan, salah satu uji mutu yang perlu dikontrol adalah kadar air. Awet tidak awetnya produk pangan tergantung pada kadar air yang dikandung dalam produk tersebut.

3) Pengujian Usia Simpan Produk

Seorang konsumen yang bijaksana dalam berbelanja, pertama kali yang dibaca saat membeli produk pangan adalah batas kadaluarsa (expired date). Ketentuan batas kadaluarsa diperoleh dari hasil penelitian di laboratorium, dengan melakukan pengujian pendugaan usia simpan (product self life).

Usia simpan produk merupakan salah satu informasi yang sangat dibutuhkan sekali oleh konsumen, untuk menjamin keamanan produk yang digunakan oleh konsumen. Uji simpan produk akan berpengaruh terhadap dampak biaya terhadap pemasaran produk, misalnya berpengaruh terhadap biaya dan frekwensi pengiriman produk, biaya pelabelan dan biaya periklanan produk.

Produk dapat mengalami penurunan mutu disebabkan karena jauhnya rentang waktu produksi dengan penggunaan produk. Umur simpan wajib diketahui untuk menjamin produk yang dikonsumsi konsumen aman dan tidak menimbulkan dampak negatif untuk kesehatan. Tujuan dari penentuan umur simpan adalah:
  1. Menentukan parameter mutu kritis..
  2. Menduga laju penurunan mutu produk dan umur simpan.
Beberapa faktor yang menyebabkan umur simpan produk, terutama produk pangan menjadi lebih pendek, yaitu: uap air, oksigen, cahaya, tekanan, bahan kimia beracun (toxic), kualitas bahan pengemasan, metode pengolahan, perlakukan mekanis terhadap produk saat dikemas dan mikroorganisme.

Khusus untuk produk pangan, faktor-faktor tersebut dapat menyebabkan terjadinya oksidasi lipida, kerusakan vitamin, kerusakan protein, perubahan bau, reaksi kecoklatan, perubahan unsur organoleptik dan kecenderungan membentuk racun.

Usia simpan produk ini wajib ditempelkan di kemasan, biasanya dengan mencantumkan tanggal kadaluarsa (experide date) pada setiap kemasan. Khusus untuk produk pangan diatur dalam Undang-Undang nomor 7 tahun 1996 tentang pangan dan Peraturan Pemerintah nomor 69 tahun 1999 tentang label dan iklan pangan. Ada dua metode uji simpan menurut Harris (2013), yaitu:

a) Metode Extended Storage Studies (ESS).
Penentuan usia simpan pada metode dilakukan dengan cara menyimpan produk pada kondisi yang sebenarnya. Kelebihan dengan cara ini adalah: hasilnya lebih tepat dan akurat, dan kelemahannya waktu terlalu lama.

b) Metode Accelerated Shelf-Life Testing (ASLT).
Penentuan usia simpan menurut metode ini dengan cara menyimpan produk pangan pada lingkungan yang dapat membuat produk tersebut cepat rusak. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menyimpan produk dalam suhu dan kelembaban yang tinggi.
Hasil pengamatan dari metode ini berupa data perubahan mutu/quality dari produk yang diamati secara berkala, dan diubah dalam model matematika. Umur usia simpan ditentukan dengan cara ektraspolasi persamaan penyimpanan pada kondisi normal. Menurut Arpah (2001) Kelebihan dari metode akselerasi ini adalah: waktu lebih cepat dengan akurasi yang baik.

4) Pengujian Stabilitas Produk

Pernahkah kamu minum Nutrisari instan? Saat kamu melarutkan 1 sachect Nutrisari dalam air dingin/hangat, apakah ada terbentuk endapan, atau partikel yang tidak larut? Saat kamu tidak menemukan endapan dalam waktu tertentu dalam minuman instan tersebut, ini berarti stabilitas produk sudah boleh dikatakan baik.
Minuman instan yan baik menurut Widiatmoko (1992) adalah minuman yang tidak terlalu banyak menghasilkan endapan apabila dilarutkan dalam air hangat/dingin. Proses intan dapat berjalan dengan ideal apabila bubuk yang terkena air kemudian basah dan beberapa saat akan tenggelam dan terdispersi merata dalam air.

Tingkat kelarutan serbuk dalam air tergantung pada sifat fisik dari serbuk minuman tersebut. Salah satu faktor yang mempengaruhi kelarutan adalah: bahan itu sendiri, kadar air yang terkandung dalam minuman dan kristal yang terbentuk. Apabila kadar air dalam serbuk tinggi makan akan sulit untuk terdispersi sempurna dalam air. Sedangkan serbuk yang memiliki kadar air lebih rendah mudah larut sempurna.
Pengujian stabilitas produk instan dapat dilakukan dengan cara organoleptik, pengamatan langsung terhadap kelarutan produk. Pengamatan yang dilakukan adalah secara fisik perubahan fase padat dan fase cair, dan timbulnya minyak pada produk. Hasil pengamatan difoto dan didokumentasikan.

b. Pengujian Preferensi dan Kepuasan

Saat berbelanja di supermarket, tiba-tiba seorang pramuniaga produk minuman merek tertentu mendekatimu, dan menawarkan minuman yang terbaik dikonsumsi sesuai dengan usiamu. Kemudian sang pramuniaga menyuruh Kamu menyoba produk minuman tersebut. Setelah itu pramuniaga memberikan beberapa pertanyaan singkat tentang produk yang sudah kamu coba. Pramuniaga melanjutkan mengisi formulir biodata terkait dirimu dan kontak person. Setelah itu, mereka menawarkan Kamu untuk membeli produk tersebut.

Setelah kamu membeli, ternyata urusan tidak selesai disitu saja, beberapa minggu berikutnya, mereka akan menelpon dan bertanya kembali tentang produk yang sudah kamu beli dan konsumsi. Rata-rata pertanyaan tersebut adalah tentang tingkat kepuasanmu dalam mengonsumsi produk tersebut. Apabila ada terjadi peristiwa di atas, akan lebih baik kamu tidak menolak tawaran mereka untuk menjalin komunikasi saat kamu berbelanja. Karena apa yang mereka lakukan bagian dari yang akan kamu pelajari sekarang, yaitu“pengujian preferensi dan kepuasan (preference and satisfaction testing) pelanggan.

Preference berasal dari Bahasa Inggris dengan asal kata preference yang berarti “a greater liking for one alternative over another or others” Artinya kesukaan akan sebuah hal dibandingkan dengan hal yang lain (http://ciputrauceo.net/, 2016). Dalam Bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai prioritas, pilihan, kecederungan dan kesukaan.

Gambar 1.14 The Hierarchy of Effect Model
Sumber Gambar: Ciputra, http://ciputrauceo.net/

Enam tahap dalam model hierarchy of effect yaitu :
  1. Kesadaran (awareness) Tahap dimana konsumen menyadari adanya suatu produk baik itu berupa barang atau jasa.
  2. Pengetahuan (knowledge) Konsumen pada tahap ini sudah mengenal produk dan mengerti tentang produk yang berupa barang atau jasa tersebut.
  3. Menyukai (liking) Tahap dimana konsumen mulai menyukai produk tersebut yang berupa barang atau jasa yang ditawarkan.
  4. Memilih (preference) Tahap dimana konsumen mulai lebih memilihproduk tersebut dibandingkan produk-produk lainya.
  5. Keinginan untuk membeli (conviction or intention to buy). Tahap ini konsumen mempunyai keinginan dan memutuskan untuk membeli produk.
  6. Membeli (purchase) Hierarchy of Effect Model adalah Tahap dimana konsumen dapat dikatakan sebagai konsumen yang loyal terhadap sebuah produk, sehingga konsumen tersebut tidak ragu lagi untuk membeli produk tersebut tanpa adanya pertimbangan yang banyak.
Tujuan pengujian preferensi dan kepuasan adalah:
  1. Membuat ramalan penjualan awal dari produk baru yang akan dikembangkan.
  2. Menetapkan elemen-elemen yang akan dirancang dalam rencana pemasaran.
Preferensi konsumen muncul dalam tahap evaluasi alternatif dalam proses keputusan pembelian, dimana dalam tahap ini konsumen dihadapkan dengan berbagai macam pilihan produk maupun jasa dengan berbagai macam atribut yang berbeda-beda. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa preferensi adalah suatu pilihan yang diambil oleh konsumen dari berbagai macam pilihan yang tersedia. Di dalam tahap ini dapat dilihat kapan tahap preferensi tersebut hadir pada konsumen.
Manfaat pengujian preferensi dan kepuasan adalah:
  1. Memberikan klaim yang objektif untuk keperluan promosi produk.
  2. Memperkirakan pangsa pasar jangka panjang. Apabila hasil pengujian kurang bagus, maka dapat berakibat pada pembatalan peluncuran produk.
  3. Apabila diperoleh skor yang tinggi pada pengujian preferensi dan kepuasan ini, maka tahap pengembangan produk dapat dilaksanakan.
Ada dua pendekatan yang digunakan untuk pengujian preferensi dan kepuasan, yaitu:
  1. Meminta konsumen untuk menggunakan produk selama jangka waktu tertentu, kemudian diberikan kuisoner yang berisikan pertanyaan tentang preferensi dan kepuasan mereka menggunakan produk.
  2. Melakukan Blend test
Blend test adalah: test yang dilakukan dengan cara memberikan produk untuk diuji oleh konsumen tanpa memberikan data mengenai nama merek maupun produsennya. Konsumen kemudian membandingkan hasil kepuasannya terhadap berbagai produk tersebut.

c. Pengujian Pasar Simulasi

Pengujian pasar simulasi (simulasi test markets or laboratory test market) adalah: prosedur penelitian pemasaran yang dibuat dengan tujuan untuk memberikan gambaran yang murah dan cepat mengenai pangsa pasar yang dapat diharapkan dari produk baru.

d. Pengujian Pasar

Pengujian pasar (test market) dilakukan oleh produsen dengan cara menawarkan sebuah produk untuk dijual di wilayah terbatas, dengan syarat wilayah ini bisa mewakili keseluruhan pasar, dimana produk itu nantinya akan dijual. Untuk pengujian produk konsumen, perusahaan akan mengestimasi empat variable, yaitu:
  1. percobaan produk (product trial).
  2. pengulangan pembelian pertama (first repeat).
  3. adopsi produk.
  4. frekwensi pembelian.
Metode pokok untuk pengujian pasar produk konsumen ada empat metode, yaitu:

1) Sales wave research

Metode ini dilakukan dengan cara memberikan produk secara gratis kepada konsumen untuk dicoba. Kemudian ditawarkan lagi produk tersebut atau produk pesaing lainnya dengan harga yang lebih murah. Kemudian produsen akan mengambil data berapa kali konsumen tersebut memilih produk perusahaan serta tingkat kepuasan mereka

2) Simulated test marketing

Metode ini membutuhkan konsumen yang membeli sekitar 30-40 orang yang qualified di pusat pertokoan atau tempat lainnya. Caranya adalah:
  1. Produsen mengundang pembeli untuk menyaksikan iklan singkat, termasuk yang sudah terkenal atau belum. Kemudian dalam penayangan iklan tersebut disispi dengan iklan produk baru.
  2. Konsumen diberi sejumlah uang dan diminta untuk mebeanjakan uang tersebut sesuai kebutuhan.
  3. Produsen akan mengamati, mengambil data jumlah konsumen yang mebeli produk merek baru dan merek pesaing.
  4. Data yang diperoleh oleh produsen dapat mmeberikan gambaran efektifitas iklan yang sudah ditayangkan dengan iklan pesaing.
  5. Konsumen diwawancarai untuk mengutarakan kenapa membeli dan tidak membeli produk tersebut.
  6. Beberapa minggu berikutnya konsumen akan ditelpon untuk diwawancari kembali untuk menentukan sikap mereka terhadap produk tersebut, baik dari segi kleuasan, penggunaan dan minatnya untuk membeli kembali, kemudian penawaran untuk membeli kembali.

3) Controlled Test Marketing

Metode pengujian controlled test marketing adalah metode pengujian yang dilakukan dengan cara menguji pengaruh faktor dalam toko dan iklan terbatas dengan perilaku pembelian konsumen tanpa hrus melibatkan konsumen itu snediri secara langsung. Kemudian konsumen diwawancarai untuk mendapatkan kesan mereka terhadap produk tersebut.

4) Uji pasar

Uji pasar (Test MarketI) dilakukan oleh produsen dengan cara bekerjasama dengan perusahaan riset dalam menentukan kota dimana produsen dapat membujuk distributor agar bersedia menjula produk perusahaan . Produsen akan melakukan promosi dan periklanan sama dengan yang akan dilaksanakan dalam pemasaran secara nasional. Manfaat dilakukannya uji pasar adalah: dapat memprediksi penjualan produk dimasa yang akan datang, mengetahui kekeurangan produk, memberikan gambaran permasalahan selama distribusi dan mendapatkan pemahaman lebih baik mengenai perilaku berbagai segmen pasar.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel