Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

MENERAPKAN PROSES BIOSECURITY

MENERAPKAN PROSES BIOSECURITY - Pembahasan materi menerapkan proses Biosecurity, Pencegahan Penyakit Infeksi, Pencegahan Penyakit Defisiensi, Program Biosecurity akan mengulas secara lengkap dan pada akhirnya sobat mampu:

  1. Setelah mempelajari materi tentang biosecurity ternak, peserta diklat mampu menerapkan proses biosecurity dengan aman.
  2. Setelah mengidentifikasi prosedur dan program biosecurity, peserta diklat mampu melakukan proses biosecurity dengan tepat.

Menerapkan proses Biosecurity

Pada prinsipnya dalam memelihara ternak, diutamakan kebersihan agar ternak tidak terkontaminasi dengan penyakit yang dibawa oleh ternak lain, manusia yang memasuki area farm, mobil pakan, dan lain-lain. Sanitasi dengan menyemprotkan cairan disinfektan, kemudian prosedur fumigasi harus dilakukan dengan baik dan benar sesuai dengan takaran dengan kekuatan fumigasi.
MENERAPKAN PROSES BIOSECURITY
Penyakit yang menyerang ternak ada yang dapat diobati dan ada yang tidak dapat diobati biasanya ditangkal dengan vaksin. Berikut ini dipaparkan cara melakuan vaksinasi dan usaha lain untuk mengobati ternak.

A. Program Pencegahan Penyakit

Penyakit infeksi adalah masalah kesehatan yang disebabkan oleh organisme seperti virus, bakteri, jamur, dan parasit. Meski beberapa jenis organisme terdapat di tubuh dan tergolong tidak berbahaya, pada kondisi tertentu, organisme-organisme tersebut dapat menyerang dan menimbulkan gangguan kesehatan, yang bahkan berpotensi menyebabkan kematian.

1. Program Vaksinasi sebagai Kontrol

Kesehatan Vaksin adalah mikroorganisme yang dilemahkan dan apabila diberikan pada h e w a n t i d a k a k a n m e n i m b u l k a n penyakit. Mikroorganisme tersebut justru merang-sang pembentukan antibodi (zat anti kebal) yang sesuai dengan jenis vaksinnya. Tujuan vaksinasi adalah membuat ternak mempunyai kekebalan yang tinggi terhadap satu penyakit tertentu.

Keberhasilan suatu vaksinasi ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu sebagai berikut.
  1. faktor tata laksana meliputi cara, waktu vaksinasi, keterampilan vaksinator, dan kondisi lingkungan.
  2. faktor vaksin meliputi kualitas vaksin, jenis vaksin, dan cara penyimpanan vaksin. Oleh karena vaksin mudah rusak, penyimpanan sebaiknya dilakukan pada suhu 2—8 oC. Selama pengangkutan harus ditambahkan es ke dalam termos tempat vaksin.
  3. faktor individu yang dimaksud adalah kesehatan ternak. Vaksinasi sebaiknya dilakukan pada ternak sehat karena vaksin merupakan bibit penyakit.
Ada beragam cara untuk melaksanakan vaksinasi. Saat ini, metode yang lazim dilakukan di antaranya yaitu vaksinasi melalui mata, hidung, mulut, penyuntikan, pakan, minum, dan pe-nyemprotan.

a. Tetes Mata (intra-ocular)

Vaksinasi tetes mata dilakukan dengan cara meneteskan vaksin ke mata ayam. Cara pelaksanaannya sebagai berikut.
  1. Tuangkan pelarut ke dalam botol vaksin hingga terisi 2/3 bagian botol.
  2. Tutup botol, lalu kocok secara perlahan hingga vaksin tercampur merata.
  3. Ganti tutup botol dengan tutup botol untuk vaksin tetes mata.
  4. Agar vaksin cepat habis, bagi vaksin menjadi 3—4 bagian yang dipakai secara bersamaan oleh vaksinator yang berbeda.
b. Tetes Hidung (intra nasal)

Seperti namanya, vaksin tetes hidung dilakukan dengan cara meneteskan vaksin ke dalam lubang hidung.

Tahapan pelaksanaan vaksinasi ini sama seperti vaksinasi tetes mata.

c. Melalui Mulut atau Cekok (intraoral)

Pada metode vaksinasi mulut, vaksin diberikan ke ayam melalui mulutnya dengan cara dicekok.
Pelaksanaan vaksinasi ini sama dengan cara vaksin melalui air minum. Perbedaannya, vaksinasi d i l a k u k a n p a d a a y am s e c a ra individu sehingga setiap ayam mendapatkan dosis vaksin yang sama. Contohnya, bila 1.000 ekor ayam akan dicekok 0,5 cc/ekor, maka air yang diperlukan sebanyak 500 cc. Satu pil vaksin (dosis untuk 1.000 ekor) dicampur dengan air akuades hingga 2/3 volume botol vaksin dan diaduk hingga tercampur merata. Setelah dituangkan ke dalam 500cc akuades, larutan vaksin diaplikasikan melalui mulut atau dicekok.

d. Suntik Daging (intramuscular)

Vaksinasi suntik daging dilaksanakan dengan cara menyuntikkan vaksin ke dalam daging. Biasanya, penyuntikan dilakukan di bagian dada dan paha. Vaksin yang disuntikkan bisa berupa vaksin yang masih hidup atau sudah mati.
MENERAPKAN PROSES BIOSECURITY
Penyuntikan Intramuscular
Cara pencampuran vaksin dan banyaknya air yang dibutuhkan untuk vaksin hidup sama seperti pada vak-sinasi melalui mulut.

Namun, tentu saja, vaksinasi dilakukan melalui jarum suntik. Adapun pelaksanaan vak-sinasinya sebagai berikut.
  1. Sebelum digunakan, kocok vaksin secara hati-hati hingga tercampur merata.
  2. Suntikkan vaksin ke daging dengan dosis sesuai anjuran.
  3. Semua peralatan yang digunakan harus steril, baik ketika melakukan vaksinasi maupun setelah digunakan.


Dranching gun

Drancing gun tipe masal

e. Suntik Bawah Kulit (Subcutaneous)

 Penyuntikan Vaksin Sub Cutan
Vaksinasi suntik bawah kulit dilaksanakan dengan cara menyuntikkan vaksin di bawah kulit, biasanya di area sekitar leher. Pelaksanaannya sama dengan persiapan melakukan vaksinasi suntik daging.

Alat Automatic Syrink
f. Melalui Air Minum (drinking water)

Pada vaksinasi melalui air minum, vaksin dituangkan ke dalam air yang disediakan untuk minum ayam. Air yang digunakan untuk melarutkan vaksin harus bersih dan bebas klorin. Peralatan dipakai harus bebas dari disinfektan lebih dari dua hari. Untuk memperpanjang umur vaksin, tambahkan 2—5 g ram s k im p e r l i t e r a i r (tergantung dari kondisi air) ke dalam air.

Sebagai contoh, jumlah air yang digunakan untuk vaksinasi 1.000 ekor ayam yang berumur 7—4 hari adalah 10—14 hari adalah 10—20 liter. Sementara itu, air minum yang sudah dicampur dengan vaksin harus segera diberikan secara merata kepada ayam. Sebelum diberikan vaksin, ayam harus dipuasakan selama 1 jam dengan tujuan agar semua larutan vaksin bisa terminum oleh semua ternak. Di samping itu, tempat minum ayam harus terhindar dari sinar matahari secara langsung.

g. Penyemprotan (spray)

Vaksinasi dengan cara penyem protan sering digunakan untuk memberikan vaksin kepada ayam yang baru berumur satu hari. Sebelum ayam tersebut dimasukkan ke dalam kandang pemanas, alat semprot yang akan digunakan harus sudah terpasang sehingga boks ayam bisa langsung dimasukkan ke dalam kotak sprayer. Setelah semua peralatan siap, vaksinasi segera dilaksanakan dengan cara menyemprotkan vaksin sebanyak 1—2 kali. Aplikasi vaksinasi untuk ayam besar dilakukan dengan menggunakan sprayer khusus. Aplikasi ini akan lebih efektif jika dilakukan di lingkungan yangterkontrol atau tidak banyak angin.

h. Tusuk Sayap (wing web)

Vaksinasi tusuk sayap dilaksanakan dengan cara menusukkan jarum di sekitar selaput sayap ayam dari arah bagian dalam sayap. Cara melarutkan vaksin metode ini sama dengan cara melarutkan vaksin melalui tetes mata. Pelarut yang digunakan biasanya pelarut khusus untuk vaksinasi melalui tusuk sayap. Alat yang dipakai dalam v a k s i n a s i i n i b e r u p a j a r u m bercabang dua.

i. Melalui Pakan (feeding)

Vaksinasi melalui pakan dilaksanakan dengan cara mencampurkan vaksin ke dalam pakan ayam. Cara ini biasanya digunakan untuk pengaplikasian vaksin cocci. Pakan yang dipakai harus bebas dari preparat anticocci (amprolium, sulfaquinoxaline, dan preparat sulfa lainnya). Cara pelaksanaannya, vaksin dicampur ke dalam pakan, lalu diberikan kepada ayam. Tempat pakan yang dipakai untuk vaksinasi adalah tempat makan ayam.

2. Pencegahan Kontaminasi

Pembawa penyakit ternak yang paling sering adalah manusia dan kendaraan pengangkut pakan ayam. Oleh sebab itu, pengunjung lain tidak diizinkan masuk ke dalam lokasi peternakan ayam kecuali benar-benar perlu. Para karyawan sebaiknya tidak hilir mudik dari satu unit ke unit lain. Apabila pekerja terpaksa bergerak dari satu unit ke unit lain, terlebih dahulu harus mandi dengan air dan disinfektan serta berganti pakaian. Untuk kendaraan yang berasal dari luar peternakan, sebelum masuk lokasi peternakan harus disemprot dengan disinfektan. Untuk karyawan sebaiknya disediakan tempat cuci kaki yang dicampur antara disinfektan dengan air.
Vaksinasi Melalui Pakan

B. Pencegahan Penyakit Defisiensi

1. Pengertian Defisiensi

Gizi adalah suatu proses organisme melalui pakan yang dikonsumsi secara normal melalui proses absorbsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme, dan p e n g e l u a r a n z a t - z a t y a n g t i d a k digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan, dan fungsi n o r m a l d a r i o r g a n - o r g a n , s e r t a menghasilkan energi. Tak satu pun jenis pakan yang mengandung semua zat gizi yang mampu membuat ternak hidup sehat, tumbuh kembang, dan produktif.

Oleh karena itu, setiap ternak perlu mengkonsumsi aneka ragam pakan untuk kelangsungan hidupnya. Pakan yang beraneka ragam yaitu pakan yang mengandung unsur-unsur zat gizi yang diperlukan tubuh baik kualitas maupun kuantintasnya, dalam pelajaran ilmu gizi biasa disebut triguna pakan, yaitu pakan yang mengandung zat tenaga, pembangun dan zat pengatur.

Seringkali pengobatan terhadap suatu penyakit tidak membuahkan hasil, hal ini disebabkan oleh penyakit infeksius seperti agen asing, parasit, bakteri, virus, dan jamur. Penyakit-penyakit noninfeksius harus diatasi dengan memperbaiki tata laksana budi daya yang baik dan benar.

Timbulnya penyakit pada ternak merupakan proses yang berjalan secara dinamis dan merupakan hasil interaksi tiga faktor, yaitu ternak, agen penyakit (patogen), dan lingkungan. Lingkungan memegang peran yang sangat penting dalam menentukan pengaruh positif atau negatif terhadap hubungan antara ternak dengan agen penyakit.

Unsur mineral esensial baik makro maupun mikro sangat dibutuhkan untuk proses fisiologis ternak, terutama ternak r u m i n a n s i a y a n g h a m p i r s e l u r u h hidupnya bergantung pada pakan hijauan. Hijauan pakan ternak yang tumbuh di tanah yang miskin unsur mineral akan berkurang kandungan mineralnya, terutama jenis rumput. Akibatnya, ternak yang hidup di daerah tersebut akan mengalami penyakit yang disebut penyakit defisiensi mineral.

Penyakit ini dapat mengakibatkan penurunan bobot badan, kekurusan, serta penurunan daya tahan tubuh, daya produksi, dan reproduksi. Kasus penyakit defisiensi mineral terutama ditemukan pada ternak di daerah kering beriklim kering, daerah yang sebagian besar tanahnya berpasir dan daerah lahan gambut, dan biasanya dimiliki oleh peternak kecil. Oleh karena itu, ternak di daerah tersebut kurang berkembang baik kualitas maupun kuantitasnya.

2. Pemberian Pakan Suplemen

Pencegahan penyakit defisiensi mineral dapat dilakukan dengan pemberian pakan tambahan yang berupa mineral blok atau pakan konsentrat yang mengandung mineral yang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan fisiologis ternak. Pemberian suplemen pada ternak merupakan strategi yang dapat dilakukan peternak untuk meningkatkan pertumbuhan, perkembangan, dan produktivitas ternak secara efisien.

Suplemen mengandung banyak nutrien, terutama protein dan energi. Manfaat pemberian suplemen bagi ternak adalah s e b a g a i p e l e n g k a p n u t r i e n y a n g dibutuhkan oleh ternak sehingga akan berdampak pada pertumbuhan, reproduksi, dan produksi yang optimal. Ada dua macam bentuk suplemen, yaitu bentuk padat dan bentuk cair. Bentuk padat biasanya diberikan pada ternak r u m i n a n s i a d a l a m b e n t u k p a k a n misalnya penggunaan UMMB (Urea Molasses Multinutrient Block) yang banyak diberikan pada ternak sapi.

Adapun bentuk cair biasanya banyak diberikan pada ternak unggas seperti ayam dan bebek, yang diberikan melalui air minum atau bisa juga diberikan melalui pakan dengan cara mencampurkan suplemen cair dengan bahanbahan pakan yang telah disatukan atau dicampur.

UMMB
Pada ternak ruminansia pemberian suplemen dalam bentuk padat (pakan) sangat berkaitan dengan konsentrat sebab keduanya sama-sama memiliki fungsi untuk memacu pertumbuhan dan meningkatkan jumlah mikroba di dalam rumen sehingga dapat menyerap nutrisi makanan terutama serat kasar lebih banyak.

Pemberiannya pun sama, diberikan sebelum ternak diberi pakan utama yaitu hijauan makanan ternak. Bahan-bahan yang dapat digunakan berasal dari limbah industri pertanian, perikanan, peternakan, dan makanan yang bernilai ekonomi rendah, tetapi masih mengandung nilai gizi yang cukup tinggi.

C. Program Biosecurity

Menurut Tabbu, C. R. (2000), biosecurity merupakan suatu sistem untuk mencegah penyakit baik klinis maupun subklinis, yang berarti sistem untuk mengoptimalkan produksi ternak secara keseluruhan, dan merupakan bagian untuk mensejahterakan hewan (animal welfare).

Biosecurity adalah semua tindakan yang merupakan pertahanan pertama untuk pengendalian wabah dan dilakukan untuk mencegah semua kemungkinan kontak/penularan dengan peternakan tertular dan penyebaran penyakit (Sudaryani, T., 2007) .

Biosecurity merupakan praktik manajemen dengan mengurangi potensi transmisi perkembangan organisme seperti virus AI dalam menyerang hewan dan manusia. Biosecurity terdiri atas dua elemen penting yaitu bio-kontaimen dan bio-ekslusi. Biokontaimen adalah elemen untuk pencegahan terhadap datangnya virus terinfeksi dan bio-ekslusi adalah elemen untuk menjaga supaya virus yang ada tidak keluar atau menyebar.

Pengertian lainnya, biosecurity adalah suatu sistem untuk mencegah penyakit baik k l i n i s m a u p u n s u b k l i n i s , t e r m a s u k p e n y a k i t - p e n y a k i t z o o n o s i s , y a n g merupakan sistem untuk mengoptimalkan produksi unggas secara keseluruhan dan bagian dari kesejahteraan hewan. 

Menurut Shane S. M. (2005), biosecurity adalah semua praktik-praktik manajemen yang diberlakukan untuk mencegah organisme penyebab penyakit dan zoonosis yang masuk dan keluar peternakan.
Tujuan utama dari penerapan biosecurity yaitu:
  1. meminimalkan keberadaan penyebab penyakit;
  2. meminimalkan kesempatan agen berhubungan dengan induk semang; dan
  3. membuat tingkat kontaminasi lingkungan oleh agen penyakit seminimal mungkin ( Zainuddin dan Wibawan, 2007).
Kandang Sapi Perah
Tujuan dari biosecurity adalah mencegah semua kemungkinan penularan dengan peternakan tertular dan penyebaran penyakit. Penerapan biosecurity pada seluruh sektor peternakan, baik di industri perunggasan atau peternakan lainnya akan mengurangi risiko penyebaran mikroorganisme penyebab penyakit yang mengancam sektor tersebut.

Meskipun biosecurity bukan satu-satunya upaya pencegahan terhadap serangan penyakit, namun biosecurity merupakan garis pertahanan pertama terhadap penyakit. Biosecurity sangat penting untuk mengendalikan dan mencegah berbagai penyakit yang mematikan, hal ini dapat digambarkan sebagai satu set program kerja dan prosedur yang akan mencegah atau mem-batasi hidup dan menyebarkan hama dan jasad renik berbahaya di berbagai tempat, seperti peternakan tempat penampungan hewan dan rumah potong hewan.

Biosecurity merupakan tindakan perlindungan terhadap ternak dari berbagai bibit penyakit (bakteri dan virus) melalui pengamanan terhadap lingkungannya dan orang atau individu yang terlibat dalam siklus pemeliharaan yang dimaksud.

Tujuannya yaitu supaya bibit penyakit (bakteri dan virus) yang terbawa dari luar tidak menyebar dan menginfeksi ternak. Tindakan biosecurity meliputi:
  1. Lokasi peternakan harus terbebas dari gangguan binatang liar yang dapat merugikan.
  2. Melakukan disinfeksi dan penyemprotan insektisida terhadap serangga, lalat, nyamuk, kumbang, dan belalang di setiap kandang secara berkala.
  3. Setiap kendaraan yang akan masuk ke areal peternakan harus melewati bak biosecurity dan disemprot cairan disinfektan (lysol).
  4. Setiap petugas yang akan masuk ke kandang diharuskan mencelupkan sepatu boot ke dalam bak biosecurity yaitu wadah berisi disinfektan yang sudah disediakan.
  5. Segera mengeluarkan ternak yang mati untuk diotopsi lalu dikubur atau dimusnahkan.
  6. Selain petugas dilarang memasuki areal kandang.
  7. Membatasi kendaraan yang masuk ke areal kandang.
  8. Menyediakan kendaraan khusus bagi tamu yang berkunjung, contohnya seperti kereta biosecurity.
  9. Untuk aktivitas di dalam laboratorium harus menggunakan pakaian khusus berupa jas dan alas kaki khusus untuk laboratorium
Program biosecurity meliputi pengendalian pergerakan hewan, peralatan, orang-orang dan sarana pengangkutan dari luar dan ke farm yang satu ke farm yang lain, pemisahan jenis unggas, burung liar, binatang pengerat, dan binatang yang diasingkan secara geografis untuk memperkecil penyebaran penyakit dan pengendalian serangga yang dapat menyebabkan penyakit.

Penerapan disinfeksi dan prosedur yang higienis untuk mengurangi tingkat infeksi membasmi mikroorganisme berbahaya dan pengobatan untuk mencegah dan mengobati penyakit bakteri.

Penerapan biosecurity pada peternakan dapat dilakukan dengan cara:
  • a. membuat lokasi peternakan berpagar dengan satu pintu masuk;
  • b. rumah tempat tinggal, kandang unggas serta kandang hewan lainnya ditempatkan pada lokasi terpisah;
  • c. pembatasan secara ketat terhadap keluar masuknya material (hewan/ unggas, produk unggas, pakan, kotoran unggas, alas kandang, litter, rak telur) yang dapat membawa agen penyakit;
  • d. pembatasan secara ketat keluar masuknya orang/tamu/pekerja dan kendaraan dari atau ke lokasi peternakan;
  • e. setiap orang yang masuk atau keluar peternakan harus mencuci tangan dengan sabun atau disinfektan;
  • f. mencegah keluar masuknya tikus (rodensia), serangga, atau unggas lain seperti burung liar yang dapat berperan sebagai vektor penyakit ke lokasi peternakan;
  • g. unggas dipisahkan berdasarkan spesiesnya;
  • h. kandang, tempat pakan/minum, sisa alas kandang/litter, dan kotoran kandang dibersihkan secara teratur;
  • i. tidak membawa unggas sakit atau bangkai unggas keluar dari area peternakan;
  • j. unggas yang mati harus dibakar atau dikubur;
  • k. kotoran unggas diolah terlebih dahulu sebelum keluar dari area peternakan; dan
  • l. air kotor hasil sisa pencucian langsung dialirkan ke luar kandang secara terpisah melalui saluran limbah ke tempat penampungan limbah (septic tank) sehingga tidak tergenang di sekitar kandang atau jalan masuk kandang. Penerapan biosecurity pada peternakan dibagi menjadi empat bagian utama, yaitu (1) isolasi, (2) pengendalian lalu lintas, (3) sanitasi, dan (4) karantina.
1. Isolasi

Isolasi mengandung pengertian penempatan atau pemeliharaan hewan di dalam lingkungan yang terkendali. Pengandangan atau pemagaran kandang akan menjaga dan melindungi unggas serta menjaga masuknya hewan lain ke dalam kandang. Isolasi ini diterapkan juga dengan memisahkan ayam berdasarkan kelompok umur. Selanjutnya, penerapan manajemen all-in/all-out pada peternakan besar mempraktikkan depopulasi secara berkesinambungan serta memberi kesempatan pelaksanaan pembersihan dan disinfeksi seluruh kandang dan peralatan untuk memutus siklus penyakit.

2. Pengendalian Lalu Lintas

Pengendalian lalu lintas ini diterapkan terhadap lalu lintas ke peternakan dan lalu lintas di dalam peternakan. Pengendalian lalu lintas ini diterapkan pada manusia, peralatan, barang, dan bahan.
Pengendalian data berupa penyediaan fasilitas kolam dipping dan spraying pada pintu masuk untuk kendaraan, penyemprotan disinfektan terhadap peralatan dan kandang, sopir, penjual, dan petugas lainnya dengan mengganti p a k a i a n d e n g a n p a k a i a n k h u s u s . Pemerikasaan kesehatan hewan yang datang serta adanya Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH).

3. Sanitasi

Sanitasi ini meliputi praktik disinfeksi bahan, manusia, dan peralatan yang masuk ke dalam peternakan, serta kebersihan pegawai di peternakan. Sanitasi meliputi pembersihan dan disinfeksi secara teratur terhadap bahan-bahan dan peralatan yang masuk ke dalam peternakan. Pengertian disinfeksi adalah upaya yang dilakukan untuk membebask a n m e d i a p e m b a w a d a r i m i k ro - organisme secara fisik atau kimia, antara lain seperti pembersihan disinfektan, alkohol, NaOH, dan lain-lain. Sanitasi peternakan meliputi kebersihan sampah, feses, dan air yang digunakan. Air yang digunakan untuk konsumsi dan kebutuhan lainnya harus memenuhi persyaratan air bersih. Jika digunakan air tanah atau dari sumber lain, maka air harus diperlakukan sedemikian rupa sehingga memenuhi persyaratan air bersih.

Salah satu perlakuan air yang umum dilakukan adalah dengan menambahkan 2 ppm klorin. Untuk menjamin bahwa air tersebut memenuhi syarat air bersih, maka perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium secara berkala, minimal 1 tahun sekali. Klorin berguna untuk mematikan mikroorganisme yang terkandung dalam sumber air. Air merupakan media pembersih selama proses sanitasi serta merupakan bahan baku pada proses pengolahan pangan. Air juga dapat sebagai sumber pencemar. Jika air tercemar, maka perlu dicari alternatif sumber air lain atau air tersebut harus diolah dengan metode kimia atau metode lainnya. Sumber pencemar lain adalah udara di sekitarnya. Pangan dapat tercemar oleh mikroorganisme pada udara selama proses,

p e n g e m a s a n , p e n y i m p a n a n , d a n penyiapan. Cara yang efektif untuk m e n g u r a n g i p e n c e m a r a n m i k r o - organisme dari udara antara lain praktik higiene, penyaringan udara yang masuk ke ruang proses, dan penerapan metode pengemasan yang baik (Johnson, G., 2010).
Intensitas pengambilan sampah dan limbah peternakan (kotoran ayam) dilakukan pada periode tertentu secara teratur, karena dapat mengundang lalat atau insekta lain serta tumpukan sampah dapat menjadi sumber pencemaran di peternakan.

4. Karantina

Karantina ternak adalah kegiatan yang dilakukan dalam suatu waktu tertentu dengan tujuan untuk mengamati apakah ternak terserang suatu penyakit tertentu. Karantina dilakukan di suatu kawasan tertentu atau tempat tertentu, dan dilakukan terhadap ternak yang akan keluar atau memasuki suatu wilayah tertentu (biasanya antarpulau atau antarnegara).

Ternak yang pada waktu dikarantina dicurigai menderita suatu penyakit, maka ternak tidak boleh keluar atau masuk wilayah tertentu. Ternak tersebut harus diobati terlebih dahulu. Bahkan untuk tujuan daerah bebas penyakit, maka pemasukan vaksin/ternak untuk penyakit tersebut juga tidak boleh dilakukan.

Karantina biasa juga dilakukan pada suatu peternakan dengan jumlah populasi yang cukup besar. Apabila dalam pemeriksaan rutin didapatkan ternak yang dicurigai menderita suatu penyakit maka ternak tersebut harus segera diisolasi pada kandang isolasi atau dengan kata lain ternak tersebut harus segera dipindahkan ke kandang karantina untuk mencegah terjadinya penyebaran penyakit dan untuk memastikan penyakit yang menyerang ternak tersebut. Diagnosa harus segera dilakukan untuk dapat segera diambil kesimpulan dan melakukan treatment yang harus dilakukan untuk melakukan pengobatan.

Ternak yang dimasukkan dalam kandang karantina apabila dalam kurun waktu tertentu tidak menunjukkan gejalagejala penyakit tertentu, diperbolehkan memasuki atau keluar suatu wilayah tertentu atau boleh dikembalikan ke populasinya karena ternak tersebut bebas dari penyakit yang dicurigai tersebut.

Pada suatu keadaan lain yaitu pada suatu tempat ditemukan suatu penyakit ternak ruminansia besar yang menular, maka t i n d a k a n y a n g d i l a k u k a n a d a l a h mencegah agar penyakit tersebut tidak menyebar dengan cara:
  • Tidak memindahkan ternak yang sakit
  • Melakukan pengobatan dengan cara membuat zona-zona melingkar untuk membatasi penyebaran
  • Membatasi/melarang transportasi ternak melewati daerah yang terserang penyakit
5. Praktik Disinfeksi

Disinfeksi merupakan proses pemusnahan hama dengan membebaskan segala bentuk mikroorgsnisme dengan jalan m e m b u n u h k u m a n ( b a k t e r i s i d a ) dan/atau menghambat pertumbuhan kuman (bakteriostatik) dengan menggunakan bahan kimia. Bahan kimia yang digunakan disebut disinfektan, seperti Virucide meyer, Iodine. Menurut Gernat (2004), disinfeksi merupakan hal yang sangat penting menjaga biosecurity di area peternakan.

Disinfeksi pada peternakan ditunjang dengan adanya fasilitas disinfektan, seperti kolam dipping dan spraying. Kolam dipping digunakan untuk merendam sepatu bot ataupun roda kendaraan yang akan masuk ke dalam peternakan. Tempat spraying digunakan untuk mendisinfeksi tubuh dari orang yang akan masuk ke dalam wilayah peternakan.

Disinfektan yang baik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
  1. Tidak berbahaya bagi ternak maupun manusia
  2. Mempunyai daya bunuh yang tinggi terhadap bakteri, protozoa, dan mikroba lain serta telurnya
  3. Efek residunya pendek dan daya penetrasinya tinggi
  4. Stabil bila dilarutkan atau kontak dengan bahan organik lain
  5. Tidak merusak alat yang digunakan dan mudah digunakan
  6. Tidak mengeluarkan bau atau sedikit berbau dan tidak terserap bahan pakan
  7. Tidak mencemari lingkungan baik udara maupun air.
Semua peralatan yang berasal dari luar peternakan hendaknya diisolasikan terlebih dahulu dalam ruangan yang tertutup sempurna selama dua hari. Dalam ruangan ini, benda-benda tersebut difumigasi. Setelah dilakukan fumigasi, kemudian diuji terhadap kontaminan oleh seorang staf ahli. Penggunaan disinfektan harus memperhatikan kandungan disinfektan tersebut sehingga disinfektan tidak salah penggunaannya dan sesuai dengan syarat disinfektan yang baik, yaitu aman, efektif, dan efisien.

Baru-baru ini ada terobosan baru yang dilakukan KTT Pitik Jaya, yaitu penggunaan biosecurity dengan bahan baku alami beruapa sekam padi. Sekam padi ditempatkan dalam tungku kemudian dibakar dan asapnya ditampung lalu dialirkan melalui sebatang bambu yang dibuat sedemikian rupa sehingga asap itu bisa disuling dan menghasilkan cairan hitam berupa disinfektan alami.

Cairan disinfektan ini tidak berbahaya untuk menyem-prot kandang ayam agar terbebas dari penyakit. Disinfektan ini tidak berbahaya bagi ayam meskipun disemprotkan pada saat ayam berada di dalam kandang dan sangat efektif serta murah dibandingkan bila membeli disinfektan (tabloid balimandara.baliprov. go.id).


TUGAS MANDIRI
  1. Cari informasi dari peternakan sapi potong, sapi perah, dan peternakan ayam petelur yang ada di sekitar lingkungan sekolah tentang:
    • Program biosecurity
    • Pelaksanaan sanitasi
    • Pelaksanaan disinfeksi
    • Alat dan bahan yang digunakan pada proses biosecurity, sanitasi, dan desinfeksi.
  2. Lakukan pengamatan terhadap peternakan untuk mendapatkan gambaran tentang kegiatan biosecurity.
  3. Buat laporan tentang hasil pengamatan.
PRAKTIK

Lembar Kerja Praktik
Judul : Menjaga Kesehatan Ternak
Waktu : 2 x 45 menit

Tujuan :
Siswa mampu melakukan vaksinasi pada ternak

Alat dan bahan:
Alat :
Automatic syringe
Drenching gun
Botol Penetes vaksin

Bahan:
Vaksin
Ternak ruminansia
Ternak unggas Lembar Pengamatan
Alat Tulis

K3:Gunakan APD

Hati-hati mendekati ternak
Langkah kerja:
  1. Anda dipersilakan bergabung untuk membentuk kelompok–kelompok kecil. Setiap kelompok terdiri atas 5—6 orang.
  2. Setiap kelompok memilih seorang ketua dan seorang sekretaris.
  3. Lakukan dan biasakan untuk berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan.
  4. Lakukan kegiatan ini dengan cermat, teliti, sungguh-sungguh, hati-hati, jujur, dan penuh tanggung jawab.
  5. Siapkan alat dan bahan yang diperlukan.
  6. Pastikan alat dan bahan yang akan Anda gunakan lengkap dan dapat digunakan dengan baik.
  7. Lakukan vaksinasi pada unggas
  8. Siapkan vaksin dan pelarut, kemudian campur hingga homogen.
  9. Pegang ayam dengan tangan kiri, kemudian teteskan vaksin pada mata ternak dengan tangan kanan.
  10. Lakukan diskusi kelompok tentang hasil praktik.
  11. Setelah selesai melakukan praktik, bersihkan kembali tempat kegiatan praktik dan peralatan yang digunakan seperti sediakala.
  12. Kembalikan alat dan bahan sisa ke tempat semula.

RANGKUMAN

RANGKUMAN
Penyakit infeksi adalah masalah kesehatan yang disebabkan oleh organisme seperti virus, bakteri, jamur, dan parasit. Ada beragam cara untuk melaksanakan vaksinasi. Saat ini, metode yang lazim dilakukan di antaranya yaitu vaksinasi melalui mata, hidung, mulut, penyuntikan, pakan, minum, dan penyemprotan. Pakan yang beraneka ragam yaitu pakan yang mengandung unsur-unsur zat gizi yang diperlukan tubuh baik kualitas maupun kuantitasnya, dalam pelajaran ilmu gizi biasa disebut triguna pakan, yaitu pakan yang mengandung zat tenaga, pembangun, dan zat pengatur.

Biosecurity merupakan praktik manajemen dengan mengurangi potensi transmisi perkembangan organisme seperti virus AI dalam menyerang hewan dan manusia.

Biosecurity terdiri atas dua elemen penting, yaitu bio-kontaimen dan bio-ekslusi. Biokontaimen adalah elemen pencegahan terhadap datangnya virus terinfeksi, sedangkan bio-ekslusi adalah elemen untuk menjaga supaya virus yang ada tidak ke luar atau menyebar.

Tujuan utama dari penerapan biosecurity adalah:
  1. meminimalkan keberadaan penyebab penyakit;
  2. meminimalkan kesempatan agen berhubungan dengan induk semang;
  3. membuat tingkat kontaminasi lingkungan oleh agen penyakit seminimal mungkin.
Program biosecurity meliputi pengendalian pergerakan hewan, peralatan, orang-orang, dan sarana pengangkutan dari luar dan ke farm yang satu ke farm yang lain, pemisahan jenis unggas, burung liar, binatang pengerat, dan binatang yang diasingkan secara geografis untuk memperkecil penyebaran penyakit dan pengendalian serangga yang dapat menyebabkan penyakit.


Demikian pembahasan materi menerapkan proses Biosecurity, Pencegahan Penyakit Infeksi, Pencegahan Penyakit Defisiensi, Program Biosecurity secara detail. Semoga bisa membantu.
Bintan News
Bintan News Buku catatan digital seorang guru yang menuangkan pengetahuan kedalam tulisan. Semoga artikel tulisan saya bermanfaat bagi orang banyak. Mari menulis! Mari Membaca! Bintan News
close